Pilbup Muna Yang Seru, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Pilbup Muna Yang Seru, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Saban Pilkada, Muna selalu seru. Tapi, kali ini lebih seru. Dan, semua orang mengangguk dengan itu. Bisa dibenarkan karena pemilihan bupati di Muna pada 9 Desember depan, akan diikuti dua calon yang startingnya sama-sama menyandang bupati. Yang satu Bupati Muna dan sekarang incumbent, sedangkan satunya lagi adalah Bupati Muna Barat.

Harap tahu, Muna dan Muna Barat adalah daerah yang tadinya satu kabupaten lalu dimekarkan. Dua bupati mencalonkan diri sebagai bupati. Artinya, salah satu pasti tumbang. Artinya, salah satu pasti meninggalkan jabatan Bupati. Siapa yang akan tumbang? Entahlah.

Kalau yang tadinya satu wilayah lalu dimekarkan yang artinya komunikasi sesungguhnya begitu gampang dilakukan, lantas kenapa tak kompromi untuk saling mendukung? Entahlah.
Hanya memang, info luaran menyebutkan, tujuan akhir dari masing-masing bukan sekadar 01 Muna tapi 01 Sultra. Lha, kalau 01 Sultra tujuan akhirnya bukankah sesungguhnya justru lebih gampang lagi komunikasi membicarakan untuk saling mendukung?

Toh, kedua-duanya tak mengkorting sedikitpun masa jabatan jika dikaitkan dengan schedule para penyelenggara Pemilu dimana pada 2022 Pilkada Muna Barat, 2023 Pilgub Sultra dan 2027 Pemilihan Serentak. Tak ada sedikitpun waktu yang terkorting. Tapi entahlah.

Jika rivalitas dua Bupati ini hanya karena dilatarbelakangi menyangkut siapa yang akan memegang dominasi menuju 01 Sultra, dengan kondisi topografi dan demografi Muna dan Muna Barat, hitungan saya hanya bisa disepadankan dengan jabatan 02 Sultra. Untuk 01, masih amat sangat berat.

Dengan performa Pilgub Sultra dari periode ke periode tidakkah kalian melihat bahwa nuansa primordian masih begitu tingginya? Memang, namanya pemilihan gubernur tapi lakonnya mirip mirip pemilihan raja. Maksudnya, Sultra yang beragam suku, ternyata juga tergambar dalam Pilgub dimana pemenangnya di suatu daerah adalah mereka pemilik suku. Misalnya, Buton menang calon Buton, Tolaki menang calon Tolaki dan Muna menang calon Muna. Kalau kejadiannya, maka daerah mana pemilik suara terbanyak dialah pemenangnya.

Oleh karena suara Tolaki relatif imbang dengan Buton, maka Muna bertindak sebagai penentu kemenangan. Di sinilah bargainning position Muna dan saya selalu mengatakan, untuk Pilgub, dimana arah dukungan Muna, di situlah gubernur yang terpilih. Karena itu, rivalitas dua Bupati Muna saat ini sesungguhnya akan mengkandaskan satu kader potensial dari dua kader potensial yang bertarung itu. Siapa kandas? Entahlah.

Atau, kekhawatiran sebagian pihak akan tumbangnya salah satu kader potensial justru telah dipikirkan sebelumnya dan tak akan terjadi mengingat tak butuh waktu lama akan adalagi momentum Pilkada yakni di Muna Barat dan Kota Kendari. Artinya, siapapun yang akan kalah dalam Pilkada pada 9 Desember depan, pasti akan kembali tampil di Pilkada Muna Barat atau Pilwali Kendari.

Kalau ini strateginya: bisa mungkin. Tapi apakah masyarakat pemilih sebagai pemegang kedaulatan tak hitung-hitungan seperti juga hitungan kedua bupati yang mencalonkan diri sebagai bupati? Mau diapa, semua sudah diteken, semua sudah dapat pintu, tak mungkin lagi ada komunikasi seperti salah satu harapan dari tulisan ini.

Sebagai orang yang paham kondisi Muna, saya memperkirakan, situasi keseruan akan berangsur redup setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan calon bupati. Artinya, di etape ini pemilih mulai menemukan jalannya dan menerawang pilihannya.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy