Pembelajaran Online, Menyemai Asa di Tengah Berbagai Rasa, Oleh : Marniati Murtaba, S.Pd – Kendari Pos
Opini

Pembelajaran Online, Menyemai Asa di Tengah Berbagai Rasa, Oleh : Marniati Murtaba, S.Pd

Marniati Murtaba, S.Pd, Guru SMA Negeri 1 Pasarwajo


KENDARIPOS.CO.ID — Akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan munculnya wabah varian baru. Tak terkecuali di Indonesia. Sekitar pertengahan Maret, negeri kita hampir secara serentak dikejutkan dengan keputusan untuk meliburkan seluruh sekolah demi menekan penyebaran wabah yang dikenal dengan istilah Covid-19 ini. Bukan hanya sekolah, kantor-kantor pun diliburkan sekitar dua minggu untuk selanjutnya melihat perkembangan lain dari penyebaran virus ini.

Dari sini muncul anjuran untuk menerapkan kebiasaan baru: rajin mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak. Bahkan yang paling fenomenal di abad ini adalah adanya kenyataan bahwa Ujian Nasional ditiadakan demi menghindari berkumpulnya orang dalam jumlah banyak. Sekali lagi, semua demi menekan penyebaran covid-19.

Lalu, di dunia pendidikan, digagaslah istilah belajar dari rumah. Hal ini sejalan dengan kebijakan Presiden Jokowi untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Sekolah-sekolah diliburkan dan sebagai gantinya, dihadirkan pembelajaran online sistem daring (dalam jaringan). Pembelajaran online ini memanfaatkan jaringan internet melalui beragam aplikasi.

Berbagai aplikasi mulai erat dengan kehidupan guru. Kita mengenal pemanfaatan whatsApp Group, google classroom, zoom meeting, cloudx, webex, google meet, dan sebagainya. Seketika semua pendidik berlomba untuk bisa menguasai beragam aplikasi ini. Bersamaan itu pula bermunculan berbagai pelatihan online baik untuk meningkatkan kapasitas keilmuan guru dalam pembelajaran online maupun untuk mempelajari cara menjalankan aplikasi ini. Semuanya menjadi mudah untuk diperoleh hanya dengan bermodal paket data dan informasi waktu pelaksanaan kegiatan.

Namun, segala sesuatunya tentu tidak akan lepas dari adanya konsekuensi khususnya dalam pembelajaraan online. Pada tahun ajaran baru 2020/2021 ini, pemerintah masih melarang adanya tatap muka langsung atau pembelajaran langsung di kelas terutama bagi daerah yang masih termasuk zona merah. Meskipun pemerintah telah menurunkan bantuan pada semua satuan pendidikan berupa peralatan cuci tangan lengkap dengan masker dan hand sanitizer, namun masih tetap diperingatkan agar pembelajaran langsung belum boleh dilakukan. Guru-guru yang hadir di sekolah pun diwajibkan mematuhi protokol kesehatan. Guru harus diukur suhu tubuhnya, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Semua ini kita yakini sebagai sebuah usaha untuk menekan penyebaran wabah covid-19.

Sebagian sekolah, melalui dana BOS, memberikan bantuan berupa paket data yang dapat digunakan siswa dan guru untuk memperlancar kegiatan belajar online. Namun, sekali lagi, apapun yang terjadi, selalu disertai konsekuensi. Hadirnya pembelajaran online hampir bersamaan pula dengan hadirnya beragam tanggapan pihak yang kontra. Mulai dari artikel-artikel, tayangan video yang dikemas sedemikian rupa, surat terbuka, atau bahkan diskusi langsung dengan pihak terkait.

Gelombang kontra terhadap pembelajaran online pun tiada berhenti bermunculan. Tidak mampu membeli kuota, orang tua kerepotan karena harus menjadi guru di rumah, siswa kebingungan dengan banyaknya tugas yang terkadang tidak jelas petunjuknya, dan juga siswa yang semakin tidak terkontrol kehidupan ilmiahnya. Itulah sebagian gambaran keluhan yang disampaikan orang tua maupun siswa selama belajar di rumah. Sekali lagi, semua ini adalah kosekuensi dari sebuah keputusan.

Gambaran di atas berasal dari sudut pandang orang tua dan siswa. Bagaimana dengan guru? Apakah guru tidak menemukan kendala yang berarti selama pelaksanaan pembelajaran daring ini? Tentu saja tidak. Guru juga adalah bagian dari masyarakat. Guru juga memiliki keluarga. Guru juga memiliki kebutuhan sosial. Guru juga manusia yang punya rasa dan asa. Ketika memberikan pembelajaran online, sebagian guru juga berstatus orang tua yang anaknya juga mesti dituntun untuk belajar online atau belajar mandiri.

Saat ini, sebagian siswa SD dan SMP belajar secara luring (luar jaringan). Guru menunggu siswa di sekolah secara bergiliran untuk memberikan materi dan tugas. Lalu dibawa pulang oleh orang tua dan disetor kembali. Bahkan, ada sekolah yang berinisiatif mengadakan kunjungan rumah. Guru-guru berkunjung ke rumah-rumah siswa untuk mengajari mereka.

Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan : memakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Artinya, bukan hanya orang tua siswa, guru juga mesti mengeluarkan energi yang prima untuk menjalani setiap keputusan ini. Semua demi anak bangsa dan demi menekan penyebaran covid-19.

Oleh karena itu, semua pihak mesti bijaksana dan berkepala dingin menghadapi situasi ini. Pembelajaran online bukanlah semata-mata kemauan guru dan pihak sekolah. Guru saat ini sudah merindukan adanya pembelajaran secara langsung. Apalagi saat ini dalam suasanan tahun ajaran baru. Guru-guru ingin bertatapan muka secara langsung dengan siswa-siswa baru.

Mereka ingin berbagi ilmu, berbagi rasa, dan mengenal secara detail siswa-siswa baru di sekolahnya. Namun, semua itu belum bisa terwujud. Bukan salah pemerintah. Bukan salah pimpinan sekolah. Bukan salah siapapun. Belajar di rumah adalah sebuah kesepakatan yang mesti kita terima secara ikhlas sebagai bagian dari kedewasaan kita menghadapi penyebaran pandemik Covid-19 ini.

Wajar kalau di antara kita ada yang marah, kesal, emosi, benci, dan beragam ekspresi lain terhadap adanya pembelajaran online ini. Sekali lagi wajar karena kita manusia. Manusia akan selalu skeptis dengan hal-hal yang baru. Manusia akan selalu ‘mencurigai’ sesuatu yang baru. Manusia akan selalu mencari tahu dampak positif dan negatif dari sesuatu yang baru. Namun, sekali lagi, semua rasa itu mesti kita kemas dalam bingkai kedewasaan pemikiran.

Tidak perlu saling melempar kata-kata pedas yang bisa melukai hati bahkan bisa memicu anarkisme. Cukup dengan membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak. Cukup dengan membangun komunikasi yang baik antara pihak sekolah, orang tua, dan siswa. Bersama-sama memikirkan jalan tengah dari berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh belajar secara online adalah langkah terbaik yang mesti kita tempuh. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah menghindari pemikiran negatif terhadap pihak lain. Mengapa pemikiran negatif perlu dimanajemen karena akan memicu reaksi negatif yang dahsyat.

Pada akhirnya, kita semua memang merindukan suasana normal seperti sebelumnya. Pertemuan langsung guru dan siswa di kelas, kolaborasi yang apik antara guru dan siswa untuk menghidupkan suasana di kelas, bercanda ria dengan teman-teman di sekolah, berdiskusi dan menjalankan aktivitas normal. Selain itu, guru-guru pun juga merindukan rapat bersama, menyusun agenda-agenda besar sekolah bersama, atau bahkan sekadar menghilangkan penat setiap triwulan dengan rekreasi bersama ke tempat-tempat wisata.

Mari kita senantiasa berdoa semoga pandemi ini segera berakhir. Mari kita mematuhi aturan-aturan ‘new normal ‘ ini. Mari kita terbiasa dengan aturan wajib masker, cuci tangan dan jaga jarak. Semoga dengan kepatuhan kita akan membuat suasana berangsur pulih. Lalu, Allah Ta’ala berkenan memberikan kita anugerah dengan mengakhirkan masa pandemi ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy