Pak Wamen ? Mai Te Wuna, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Pak Wamen ? Mai Te Wuna, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Bagi pejabat sekelas Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), atau Wakil Menteri PUPR, ndak butuh waktu sehari untuk mengetahui kondisi infrastruktur dasar di suatu wilayah. Tak peduli, apakah itu wilayah darat atau provinsi kepulauan. Sama saja. Ndak butuh waktu lama. Kan ada kepala dinas yang bertanggungjawab untuk ekspose. Yang bertanggung jawab untuk memotret keterbelakangan pembangunan disetiap spot yang diyakini akan memberi dampak pembangunan menyeluruh jika infrastruktur dasarnya terbangun. Apalagi, pejabat dengan waktu tiga hari untuk mutar-mutar di sebuah provinsi, saya kira sudah sangat cukup waktu bagi Wamen PUPR untuk mengetahui apa-apa yang harus dilakukan demi kemajuan sebuah daerah.

Tetapi, hasrat ini, hasrat agar daerahmu dibangun, harus dijadikan kegelisahan bersama. Harus ada kegelisahan kolektif. Harus gemmes bersama. Gubernurnya gelisah. Bupatinya, gelisah. Kadisnya lebih-lebih. Kepala Bappedanya, apalagi.

Persoalannya, Pak Menteri sekarang tak lagi disambut seperti zaman kita SD pada 20,30 tahun lalu yang berjejer di pinggir jalan sembari melambai-lambaikan bendera kecil. Pak Menteri sekarang, datang dengan ajudan, disambut kelompoknya (instansinya), pulang dengan jambu mete dan cumi-cumi kering.

Celakanya, sambutan kelompok yang tak lagi melibatkan anak-anak SD, seolah dijadikan kesimpulan. Seakan-akan, kehadiran Menteri atau Wakil Menteri PUPR tak penting untuk kepala dinas non PUPR. Kadis Perhubungan hanya meladeni Menteri Perhubungan. Kadis Pariwisata hanya meladeni Menteri Pariwisata. Kadis Pendidikan hanya menyambut Menteri Pendidikan. Dst.

Sebaliknya, Kepala Seksi Korsupgah KPK yang datang, semua bergerak. Diundang untuk tatap muka dengan Kepala Seksi KPK, hadir semua. Diundang untuk tatap muka dengan menteri acuh. Di benak saya, kayaknya keliru barang ini. Kok, kamu acuh menyambut orang yang bawa duit, tapi kamu sregep menyambut orang yang bawa borgol. Puntiolo betul.

Trus? Kita dapat apa dengan kedatangan pejabat tinggi yang di instansinya ada seabrek duit? Karena itu, dibutuhkan Kepala Dinas yang berpikir prospektif, bukan kepala dinas yang jago cari cumi-cumi dan piawai menggoreng jambu mete. Maksud saya, kalau Pak Wamen happy dengan jambut mete, maka patutlah memikirkan bagaimana susahnya para petani jambu mete mengangkut hasil taninya karena di sana, tak punya akses jalan usaha tani. Kalau Pak Wamen happy dengan cumi-cumi kering, maka happy-kan lah jua para nelayan yang sulit menambatkan perahunya di dermaga permanen. Saya kira, amat sangat tak imbang jika happy itu hanya dirasakan satu pihak.

Pak Wamen? Tidak ke Labungkari kah? Ke sanalah. Mintalah pada bupatinya untuk diajak di perbukitan teletubbies Wamengkoli. Berdirilah di atas bukit itu lalu tengoklah ke arah kiri. Arahkan pandangan ke bawah dengan kemiringan kira-kira 45 derajat. Lihatlah indahnya Pantai Bone Oge. Ada pasir panjang dengan laut biru muda semuda-mudanya.

Pak Wamen? Tidak ke Napabale kah? Ke sanalah. Mintalah sama La Baresi untuk menyiapkan perahu berlambung dua, beratap terpal untuk dimenyusuri indahnya danau laut yang terperangkap batu. Pak Wamen bisa meminta La Baresi untuk menengok laut bebas dengan melewati goa batu sepanjang kurang lebih 50 meter, sambil Pak Wamen tetap berada di atas perahu. Luar biasa indah dan eksotik. Andai umur itu bukan prerogatif Tuhan maka, Pak Wamen bisa menambah umur di keindahan ini.

Eits. Dari Napabale, jangan langsung balik. Minta sama Pak Lurah untuk diajak ke Masjid Tua Lohia yakni masjid pertama di Muna. Masjidnya memang sudah dipugar, tapi di sana ada sumur-sumur batu di atas gunung dengan kedalaman sekitar 5-6 meter dengan diameter 1-3 meter. Ada banyak sumur batu di tempat ini. Kapan dibuat? Kira-kira seusia Borobudur atau Prambanan.

Pokoknya, sebang-bangsa itulah. Kira-kira 10 meter ke arah utara masjid. Di situ ada batu besar berbentuk kotak, kira-kira seukuran mobil hummer. Naiklah di atas batu itu. Lihatlah makam pembawa Islam pertama di Muna. Kalau makam Nabi Ibrahim di Makkah hanya kita saksikan bekas telapak kaki kanan. Di batu Lohia, Pak Wamen bisa menyaksikan bekas telapak kaki kiri dan kanan, bekas lutut kiri dan kanan, bekas telapak tangan kiri dan kanan dan bekas jidat.

Pokoknya, seperti bekas makam orang yang sembahyang cukup lama di atas batu ini. Seperti bekas orang yang sujud dalam waktu lama. Pak Wamen bisa jadi percaya atau setengah percaya. Bisa jadi, karena akses ke tempat ini tak begitu bagus. Di samping promosinya yang tak pernah sampai di kota.

Tapi, percayalah. Masih banyak tempat-tempat seperti ini di Kabupaten Muna termasuk, benteng Kamali Kerajaan Muna yang hilang walau sekarang telah ditemukan. Termasuk, tempat beraktivitasnya manusia-manusia purba juga ada di Muna yang sekarang ada di Liang Kobori, kira-kira 5 kilometer dari Masjid Tua Lohia di Muna.

Ada banyak tempat-tempat bersejarah maupun tempat-tempat eksotik lainnya di Muna yang oleh Pemda Muna mulai menggencarkan promosinya dalam 3 tahun terakhir dengan tagline: Mai Te Wuna.

Tahukah apa yang saya maksud dengan ajakan untuk ke simpang Lima Labungkari untuk melihat indahnya Pantai Bone Oge dan kenapa pula saya ajak melihat bekas-bekas peradaban manusia purba di Muna? Karena saya ingiiiiin sekali Pak Wamen merasakan poros jalan Raha-Wamengkoli yang sekarang diblokir itu.

Sejak jaman bahula, poros ini tak pernah beres. Sejak zaman Belanda, begitu-begitu terus. Memang ini terkesan hyperbola, tapi cobalah tanya masyarakat. Memang pernah diaspal poros Raha-Wamengkoli yang panjangnya sekitar 80-an kilometer. Tapi Pak Wamen bayangin deh. Panjang jalan 80 kilometer yang diaspal tahun ini hanya 5 kilometer. Tahun depan 5 kilometer lagi. Tahun depannya lagi 5 kilometer. Dst.

Tapi tahu kah Pak Wamen, usia 1 tahunan dan paling lama 2 tahun, aspalan yang 5 kilometer pertama sudah brojol-brojol. Aspal yang dipakai pun macam-macam. Kayak gado-gado. Ada hotmix, ada aspal tenteng. Apa itu aspal tenteng? Tenteng ialah, gula merah direbus dan setelah mencair ditimba pakai gelas lalu dituang di atas kertas yang sudah digunting-gunting bulat seukuran mulut gelas lalu dihampar di atas katepi (tapis), lalu ditarokan kacang. Setelah itu diangin-aginkan sampai dingin. Ketika mengeras, nah, dimakanmi. Enak kasiaan. Kalau Pak Wamen pingin bisa beli di Sanggula, atau Kota Lama Kendari sekarang.

Maksud saya, dapatkah PUPR menggelontorkan anggaran sekaligus untuk mengaspal poros ini. Dulu, poros ini bestatus jalan nasional kemudian diturunkan statusnya menjadi jalan provinsi. Tapi, status apapun jalan itu, hingga kini tetap diterbengkalaikan. Serba sulit. Status nasional, tak beres. Status provinsi, juga tak beres. Bupati yang digedor-gedor masyarakatnya, tak berani mengaspal jalan nasional dan provinsi karena infonya, BPK tak membenarkan cara pengelolaan anggaran yang seperti itu.

Pak Wamen? Dalam schedule perjalanan, kelihatannya ada jadwal ke Morosi. Ke Morosi bisa menggunakan dua pintu masuk. Via pintu Pohara dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam dan pintu Tabanggele dengan waktu tempuh 20 menit. Persoalannya, kalau ke Morosi via Tabanggele dengan waktu tempuh 20 menit, Pak Wamen harus naik getek. Bayangin Pak Wamen, berkunjung ke daerah dolar kok naik getek. Miris ndak?

Tapi sudahlah, masyarakat di sekitar getek sangat berterimakasih. Pengguna jalan tehambat di getek tapi masyarakat dapat duit. Ini berbeda dengan masyarakat di poros Raha-Wamengkoli. Di sana, pengguna jalan terhambat dan masyarakat dapat debu di musim panas dan dapat lumpur di musim hujan. Kata orang Surabaya: Juaaaankrek. Kata orang Jogja: Buaajindul. Kata orang Muna: Puntiolooooo. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy