Padamu Negeri, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Padamu Negeri, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID —

Padamu negeri kami berbakti.
Padamu negeri kami berjanji.
Padamu negeri kami mengabdi.
Bagimu negeri jiwa raga kami.

Itulah bait-bait salah satu lagu wajib nasional yang digubah oleh Kusbini. Pilihan lagu sederhana saja baik dari segi lirik maupun syair. Tidak terlalu sulit untuk menyanyikannya. Judul lagu itu dipilih dalam rangka perlombaan kolaborasi lagu wajib nasional para pejabat unit fakultas dalam lingkup Universitas Halu Oleo (UHO).

Melalui lagu, merupakan bahasa universal yang mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh masyarakat. Melalui lagu itu pula maka dapat memunculkan semangat dan motivasi baik berdasarkan lirik dan irama. Karena itu, melalui lomba ini, merupakan media yang kreatif bagi para pejabat untuk mengekspresikan diri. Pun, dapat meningkatkan kecintaan dan kebanggaan baik terhadap UHO dan tanah air, Indonesia.

Dalam mempersiapkan perlombaan, pada umumnya tidak memiliki pengalaman memadai. Lagi pula, tak banyak waktu yang dimiliki untuk melakukan persiapan. Yakni hanya berlatih beberapa jam untuk menghafal lirik dan syair. Ada yang stres dan tidak bisa tidur hanya untuk menyanyikan lagu.

Momentum ini, merupakan contoh kecil dari naluri untuk berbakti. Tanpa pamrih. Potensi berbakti sebetulnya sejalan dengan potensi lain yang hierarkinya lebih rendah. Seperti dorongan untuk kembali ke asal. Kita bisa saksikan, ketika seorang anak merindukan ibunya, ia tentu akan menangis. Dan ketika ibunya ada, diapun diam. Begitu juga orang yang merindukan kampung halamannya. Tidak perlu heran, jika saat sebelum pandemik, dorongan orang di kota untuk mudik waktu lebaran.

Kalau kerinduan seorang anak kepada ibunya berada level psikologis. Kerinduan kita pada negeri, tanah air telah menjadi bagian dari kesadaran kejiwaan kita sebagai warga negara. Kecintaan akan tanah air perlu ada dan mengakar kuat. Semangat proklamasi perlu untuk dicamkan, bahwa meraihnya bukanlah hal yang mudah. Kita mungkin lupa membaca sejarah, bertapa masa lalu betapa beratnya menaikkan sang pusaka merah putih di tiang tertinggi.

Semangat perlombaan berhimpitan pada suasana kemerdekaan dan tahun baru Islam, 1 Muharram 1422 Hijriah. Tahun baru kalender Islam yang dimulai dari kepindahan atau hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah peristiwa yang membalikkan keseluruhan perjalanan perjuangan Nabi Muhammad SAW menegakkan kebenaran. Hijrah adalah ‘turning point’ perjuangan Rasulullah.

Saat hijrah, nama Yatsrib, beliau ubah menjadi Madinah. Arti kata Madinah ialah ‘kota’, ‘tempat peradaban’. Hidup beradab, berkesopanan, dan teratur dengan hukum-hukum yang ditaati oleh semua warga negara. Di situlah juga, dapat dipahami tentang makna politik. Sebab, politik, berasal dari kata polis, yang diterjemahkan dengan ‘kota’ atau tepatnya negara kota. Jadi, politeia adalah bagaimana cara kita hidup sebagai masyarakat.

Demikianlah. Kita dituntut untuk berhijrah guna merangkai harapan yang berserak. Satu per satu kita hadirkan dan persembahkan untuk Indonesia tercinta. Dan, kelak, pada suatu saat, akan tetap mengenang dengan hikmat momen menyanyikan salah satu lagu nasional, Padamu Negeri, dengan penuh penghayatan.

Ini semua, cara kami merawat dan mengekspresikan kecintaan pada tanah air. Karena itu, jika ada orang yang tidak berkenan melantunkannya, kira-kira seperti apa kecintaannya pada tanah air yah ?. Demikian halnya, yang sudah melantunkannya, dituntut untuk membuktikannya. Tak cuma sebatas nyanyian. (*)

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy