Komitmen Kepatuhan dan Keteladanan, Oleh: H. Zainal Mustamin – Kendari Pos
Opini

Komitmen Kepatuhan dan Keteladanan, Oleh: H. Zainal Mustamin

H. Zainal Mustamin,
Kepala Kemenag Kota Kendari. Katib Syuriah PWNU Sultra

KENDARIPOS.CO.ID — Kapankah Wabah corona akan berakhir? Akhir-akhir ini pertanyaan seperti itu lebih sering bergema. Hal ini tidak saja terucapkan dalam forum-forum terbuka. Pada momen-momen biasa pun, orang terus bertanya kapan kita kembali ke masa normal seperti sedia kala. Tentu, masa yang diharapkan itu bukan dalam konteks yang serba sulit dan tidak kompetitif. Tetapi, lebih pada situasi di mana kekhawatiran dan ketidakpastian tidak lagi menghantui kehidupan sehari-hari. Situasi dimana masyarakat tidak terlalu kesulitan dalam mencari nafkah memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Tidak lagi khawatir untuk beribadah di rumah ibadah.

Tetapi fakta menunjukkan bahwa tahun ini pelaksanaan salat Iduladha dan penyelenggaraan ibadah kurban masih berada dalam suasana pandemic Covid-19 yang terus meningkat. Meskipun sebenarnya secara esensial tidak ada yang berubah dari substansi Iduladha atau Ibadah Kurban itu sendiri. Manusia dan dinamikanyalah yang terus berubah dari waktu ke waktu termasuk suasana hati, tingkat kesungguhan, keikhlasan dan pernak pernik kehidupan manusia yang terus berubah.

Sejatinya, ibadah kurban bisa menjadi sarana sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai solidaritas sosial guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah pandemi Covid-19. Ketika nilai solidaritas dan kepedulian sosial dapat dikapitalisasi pada momentum idul kurban ini, maka akan banyak permasalahan negeri yang bisa diselesaikan.

Melalui syariat ibadah kurban yang diwariskan Nabi Ibrahim AS, banyak pelajaran dan pesan spritual dapat dijadikan spirit membangun kehidupan berbangsa dan beragama yang lebih efektif. Meminjam istilah Dr. Bahrul Hayat (mantan Sekjen Kementerian Agama RI), organisasi yang efektif setidaknya membutuhkan dua komitmen penting. Pertama, komitmen membangun kepatuhan terhadap sistem atau aturan. Dan kedua, komitmen membangun keteladanan dalam berperilaku.

Komitmen pertama adalah keharusan membangun kepatuhan terhadap sistem atau aturan. Merujuk kepada sistem “Millah Ibrahim” yang diletakkan Nabi Ibrahim AS. Maka sistem yang dibangun ketika itu disebut oleh Alquran dengan istilah “Millah Ibrahim” atau agama Ibrahim merupakan jalan hidup yang ditempuh Ibrahim AS sebagai sebuah sistem kepatuhan terhadap perintah Allah SWT. “Maka ikutilah Millah (agama) Ibrahim yang lurus”. (QS. Ali ‘Imran : 95)

Millah sebagai sebuah sistem adalah keseluruhan pelaksanaan ajaran dan penggunaan aturan yang telah digariskan untuk dipatuhi. Aturan memang membuat keterpaksaan orang untuk bertindak dan bekerja, tetapi akhirnya menjadi terbiasa. Pertanyaannya, mengapa kepatuhan terhadap sistem itu penting. Karena segala sesuatu yang bisa dikontrol melalui sistem, bisa diukur hasilnya secara tepat dan segala sesuatu yang terukur bisa ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya agar menjadi lebih baik lagi. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. (QS. al-Nisaa’: 125)

Di antara warisan sistem ajaran atau Millah Ibrahim hingga saat ini adalah kepatuhan menjalankan syariat berkurban. “Maka dirikanlah salat untuk Tuhanmu dan berkurbanlah”. (QS. al-Kautsar : 2 ). Sejarah kurban itu sendiri, seperti dikisahkan Alquran berawal ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS, melalui mimpinya untuk menyembelih putranya Ismail. Adalah sebuah bentuk ujian keimanan, sejauh mana kepatuhan mereka kepada Perintah Allah SWT.

Maka terjadilah dialog mengharukan antara Nabi Ibrahim AS dan Ismail, pada 9 Dzulhijah 1900 tahun sebelum Masehi. Dan percakapan krusial yang menegangkan itu berlangsung beberapa detik. Kemudian Ismail, anak 13 tahun itu, menjawab dengan tegas: “Kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu, Ayah. Insyaallah engkau akan menjumpaiku nanti dalam kelompok orang-orang yang sabar.” Nabi Ibrahim AS kemudian merespon jawaban Ismail dengan tegar sambil menaruh ujung pisau ke leher anaknya. Tarikan pisau seketika terhenti karena Jibril menggantinya dengan seekor domba yang besar. Mereka lulus ujian kepatuhan dengan kesabaran tingkat tinggi. Dan kini, kepatuhan dan kesabaran mereka diperingati oleh umat Islam dengan merayakan Iduladha.

Sampai di sini dapat dipahami bahwa, penggantian obyek penyembelihan itu dengan seekor domba mengisyaratkan bahwa obyek dari pengorbanan itu boleh saja berganti. Tetapi kepatuhan kepada perintah Allah SWT itu tidak boleh berubah. Demikian juga bahwa untuk patuh kepada sebuah aturan, ternyata dibutuhkan sebuah pengorbanan. Dengan kata lain, untuk berkurban butuh pengorbanan. Bila makna hakiki Idul Kurban adalah pengorbanan kepada segala hal yang merintangi kepatuhan kepada Tuhan. Maka pengorbanan itu semestinya bermakna luas, tidak terbatas pada hewan saja, tetapi bisa meliputi apa saja. Seperti mengorbankan waktu kita yang serba sibuk, untuk sesaat melaksanakan sholat. Mengorbankan diri kita untuk tidak mengambil yang bukan hak kita. Ringkasnya mengorbankan segala keinginan hawa nafsu kita demi untuk dekat kepada Allah Swt.

Komitmen yang kedua, adalah keharusan membangun keteladanan. Ada banyak karakter positif yang ditinggalkan Nabi Ibrahim sebagai teladan umat manusia. beliau memberikan teladan tentang kelembutan dan kehangatan interaksi dalam keluarga. Coba perhatikan, betapa indah bahasa yang dipilih Nabi Ibrahim AS untuk disampaikan kepada ananda tercinta, Ismail, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…”

Sebagai seorang Nabi, tentu akan sangat mudah bagi Ibrahim AS untuk mengatakan, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu, dan aku akan mentaati perintah Tuhanku”. Dengan bahasa perintah seperti itu, pasti Ismail akan taat dan patuh. Namun, bukan itu bahasa yang beliau pilih. Di sini, Nabi Ibrahim AS sedang memberikan teladan betapa pentingnya sikap qana’ah, sikap menerima dengan tulus dalam melaksanakan perintah.

Bukan sebuah keterpaksaan Nabi Ibrahim AS juga memberikan teladan tentang sifat keterbukaan dan musyawarah. Ketika bermimpi untuk menyembelih anaknya, maka dalam menyampaikannya hal itu, Nabi Ibrahim AS terlebih dahulu berdialog dan berkomunikasi dengan anaknya. Barulah kemudian keduanya melaksanakannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ismail menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash Shaaffaat : 102). Teladan musyawarah itu muncul dalam ungkapan Nabi Ibrahim AS, “maka pikirkanlah apa pendapatmu…..” Padahal, Ibrahim AS bisa saja mengatakan, “Engkau harus taat dan tidak boleh membantah. Ini perintah Allah !” dengan menggunakan bahasa ajakan bermusyawarah, penerimaan Isma’il menjadi lebih terbuka, bukan semata-mata karena melaksanakan kewajiban.

Dengan bentuk musyawarah seperti itu, tampak nyata kualitas kepribadian Ismail yang luar biasa. Ia tidak ragu sedikitpun, bahwa bapaknya tidak mungkin bertindak tanpa bimbingan dari Allah. Ismail yakin betul dengan perkataan dan perbuatan bapaknya. Ismail paham betul bahwa apa yang disebut sebagai mimpi oleh Ibrahim AS, sesungguhnya adalah sebuah perintah dari Allah.

Di samping itu, Nabi Ibrahim juga memberikan teladan tentang strategi pemilihan bahasa dan kehalusan perasaan. Ibrahim berbicara dengan bahasa hati yang tulus, maka langsung menyambung pula dengan hati Ismail yang halus. Tanpa perdebatan panjang, tanpa adu argument yang melelahkan. Maka, betapa luar biasa jawaban Ismail : “Hai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash Shaffat : 102).

Alangkah luar biasanya kehangatan cinta dan kasih sayang dalam keluarga Nabi Ibrahim, sebagai teladan untuk kita semua. Bayangkan dengan kita, jika berhadapan dengan situasi krusial yang genting. Kita cenderung akan merespon dengan bahasa yang kasar dan bertindak buruk di luar akal sehat. Bahkan, ngotot merasa telah melakukan yang benar dengan tindakan yang kita perbuat. Sikap emosional melandasi tindakan kita itu, bukan dengan logika dan nalar yang sehat.

Idealnya belajar dari kisah Nabi Ibrahim AS, maka penerapan kepatuhan terhadap perintah dan keteladanan dalam berperilaku di tengah pandemi Covid-19 ini, merupakan komitmen yang sangat diperlukan guna menekan penyebaran virus corona yang belum terkendali. Kepatuhan masyarakat kepada Pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan secara ketat, dan sebaliknya keteladanan Pemerintah dalam memberi contoh kepada masyarakat, ibarat dua sisi dari satu mata uang, yang satu sama lain saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Menjalankan kepatuhan terhadap suatu aturan tanpa diikuti dengan keteladanan, hasilnya tentu tidak akan maksimal. Sebaliknya keteladanan berperilaku tanpa diikuti dengan kepatuhan menjalankan aturan, hasilnya tentu akan sia-sia. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy