Kisah Pilu, Pasangan Lansia di Kolut yang Hidup dalam Keterbatasan Ekonomi – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Kisah Pilu, Pasangan Lansia di Kolut yang Hidup dalam Keterbatasan Ekonomi

Pasangan lansia, Gau (kiri) dan Hasia (kanan) di rumah sederhananya di Desa Rante Limbong, Kolaka Utara. Kondisi rumah mereka jauh dari kata layak. Mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi namun pantang meminta-minta.

KENDARIPOS.CO.ID — Siapa pun tak ingin hidup dalam kesusahan. Pasangan lanjut usia (lansia), Gau (70) dan Hasia (80) ikhlas menjalani takdirnya, hidup dalam serba kekurangan. Keduanya terus berjuang dan bertahan hidup demi bisa menganjal perut kosong.

Rumah panggung itu ditopang tiang-tiang yang tidak presisi. Rumah sederhana berkonstruksi kayu berdiri tak jauh dari pematang sawah di Desa Rante Limbong Kecamatan Lasusua Kabupaten Kolaka Utara (Kolut). Sekira 100 meter dari jalan Trans Sulawesi. Itu bukan rumah atau gubuk tempat istirahat petani.

Di rumah berukuran 5×7 meter dan lapuk itulah, pasangan Gau dan Hasia bernaung sejak tahun 1983. Mereka meminjam tanah milik warga bernama Maksum. Kondisi rumah jauh dari kata layak. Atap rumah dari rumbia dan anyaman padi kering. Di beberapa bagian berlubang. Seng bekas dan bolong-bolong “disulap” jadi dinding rumah. Pada sisi lain, papan lapuk dan renggang jadi dinding. “Anak laki-laki saya yang memasang dinding rumah ini lima tahun lalu,” ujar Hasia dalam bahasa Indonesia dan bahasa Bugis kepada Kendari Pos.

Tangan Hasia masih bergerak lincah, memilah kelapa layak jual. Mencari kelapa diperbukitan, satu-satunya profesi Hasia. Pendapatan tak seberapa banyak selalu disyukurinya. Saban hari dia harus berjalan kaki menuju perbukitan mencari kelapa. “Sebiji dijual Rp.1.000 sampai Rp.1.200,” ujarnya saat Kendari Pos bertandang di rumah panggung miliknya, kemarin.

Tak terlihat benda berharga di sana. Jangankan televisi, listrik pun tak menerangi rumah sederhana Gau dan Hasia. Mereka hanya punya satu rak kayu berukuran 1×1 meter. Di sanalah pakaian sederhana diletakan. Di dapur hanya terdapat sebuah kantong kecil berisi beras lima liter, beberapa biji kemiri dan sepotong ikan kecil dibungkus kain dan digantung dirangka rumah. Kasur lusuh digulung ala kadarnya untuk menghindari air hujan yang masuk dari atap bolong. “Kalau hujan, kami kebasahan,” ungkap Hasia.

Harta mereka hanyalah rumah dan pakaian sederhana yang selalu membalut ditubuh. Jauh dari kesan mewah. Hanya sebatas menghalau dinginnya udara malam dan teriknya matahari. Hasia, kini seorang diri menopang ekonomi keluarga. Sang suami sedang sakit. Hanya bisa beraktivitas dalam rumah.

Meski usia tak muda lagi, Hasia dan suaminya, Gau belum pikun. Karena penglihatan dan pendengaran Gau berkurang, sang istrilah yang menjelaskan kondisi mereka saat ini. Sesekali Gau bangun duduk, lalu berbaring lagi. Gau sakit-sakitan. Dia kesulitan buang air kecil sehingga harus dibantu menggunakan selang.

Semangat hidup tetap berkobar dalam diri Hasiah. Pantang baginya berpangku tangan. Tetap bekerja diusia senja, tanpa anak dan cucu menemani. Kata Hasia, ia mempunyai tiga putri dan dua putra yang saat ini berdomisili di Sulawesi Selatan (Sulsel). Hanya sesekali anak-anaknya datang menengok karena kondisi ekonomi mereka juga di sana juga serba terbatas. “Tidak ada (berada) juga kasian,” ungkap Hasia.

Pendapatan dari menjual kelapa hanya cukup dipakai untuk makan. Alih-alih beli lauk, untuk membeli beras saja hanya cukup 1-3 liter. “Terkadang ada di pikiran untuk pulang ke Sulsel sama anak karena kami sudah tua jangan sampai kita meninggal tidak ada yang lihat. Tetapi bapaknya (sebutan untuk suaminya, Gau) bilang di sini saja. Sudah betah dan lagi pula tidak ada uang,” tutur Hasia yang mengaku lahir di Jeneponto, Sulsel.

Mengeluh apalagi meminta pantang dilakukan. Prinsip itu dipegang teguh pasangan lima anak itu hingga kini. Pejuang kehidupan rasanya patut disematkan kepada pasangan, Gau dan Hasia. Bantuan pemerintah sangat jarang mereka nikmati. Seingat Hasia, pernah menerima pemberian dari kepala desa senilai Rp. 1 juta dua tahun lalu. “Ada tentara (TNI) yang kadang datang kasih saya (bantuan). Kalau saya tidak ada, biasanya ia titip,” ungkapnya.

Ia juga tidak pernah bertanya mengapa dirinya kerap luput dari bantuan pemerintah. Ia malu mengungkapkan hal itu karena juga memegang prinsip tidak mau meminta-minta. “Yang ada di dapur sekarang hanya lima liter beras. Sejak suami sakit, saya yang pergi ke bukit cari kelapa. Itu mi dijual kasian supaya bisa makan lagi,” tutur Hasia dengan mata berkaca-kaca.

Mengapa tidak pulang ke Sulsel dan tinggal bersama anak? Hasia dan Gau mengaku selain sudah betah di Kolut, mereka tidak ingin menyusahkan anak-anaknya yang juga hidup serba terbatas. Jika ada kelebihan uang baik dari penjualan kelapa yang disisipkan atau diberi orang dermawan ia juga ke Sulsel menemui sang anak melepas kangen. “Rindu juga sama anak. Saat corona ini sempat pulang lihat anak,”aku Hasia.

Keduanya memang sudah renta. Hasia masih bersyukur karena disaat sang suami sakit dan ditinggal di rumah, dirinya masih diberi kemampuan dan tenaga untuk berusaha mencari nafkah. Kepada Kendari Pos ia juga tidak ingin menyampaikan agar bisa mendapat bantuan namun tidak menolak jika ada yang memberinya. “Malu saya meminta kecuali saya diberi, saya terima. Biar miskin begini asal tidak minta apalagi mencuri,” tegas Hasia.

Semantara itu, Kepala Desa Rante Limbong, Asmal yang ditanya terkait warganya yang luput dari bantuan dampak covid-19 mengaku Gau dan Hasia saat didata sedang berada di Sulsel. Asmal mengaku pernah memberikan bantuan khusus lansia kepada pasangan Gau dan Hasia.

Pendataan warga untuk program bantuan dilakukan oleh para kepala dusun (Kadus) sebab merekalah yang mengetahui lebih pasti kondisi setiap penduduk di wilayahnya. “Yang jelas, setiap ada bantuan saya perintahkan semua kadus mencatat warga yang berhak dibantu. Kalau bantuan lansia itu, saya sendiri yang serahkan karena ada namanya sebagai penerima,” pungkas Asmal. (*)

Rusli/Kendari Pos

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy