Kagama Dorong Pertumbuhan Wirausahawan – Kendari Pos
Nasional

Kagama Dorong Pertumbuhan Wirausahawan



KENDARIPOS.CO.ID — Jumlah wirausahawan (entrepreneur) di Indonesia masih sangat minim. Di tahun 2018, dari total populasi 260 juta jiwa, persentase wirausahawan hanya mencapai 3,1 persen. Jauh tertinggal dari negara lainnya di dunia bahkan oleh negara-negara di Asia Tenggara. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi penduduk terbanyak yang potensi sumber daya alamnya melimpah.

Melihat kondisi tersebut, Pengurus Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Sulawesi Tenggara (Sultra), berinisiatif meningkatkan pemahaman masyarakat terkait dunia entrepreneurship (wirausaha) melalui kegiatan Web Seminar (Webinar) Seri II. Kegiatan yang mengangkat tema “Belajar dari Wirausha Sukses: Learning from Zero, Leading to Hero” itu menghadirkan sejumlah wirausahawan sebagai pembicara.

Mereka adalah Founder langsungenak.com, Nina Yusab, Project Officer Du Anyam, Febrina Ramadhani, dan pendiri Rapel Community, Sekti Mulatsih. Hadir dalam kegiatan tersebut sebagai keynote speaker AA. GN. Ari Dwipayana yang merupakan Sekjen Pengurus Kagama Pusat sekaligus Koordinator Stafsus Presiden RI.

Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) sekaligus Ketua Pengda Kagama Sultra, Prof. Dr. Muhammad Zamrun Firihu saat membuka kegiatan mengatakan bahwa alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Kagama Sultra senantiasa berupaya menebarkan hal positif untuk Indonesia, salah satunya melalui Webinar tersebut.

Kata dia, pemerintah telah menaruh perhatian serius terhadap kemajuan dunia usaha di Indonesia sejak lama, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Pada tahun 2009, melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), pemerintah pertama kalinya melaunching Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang masih berlangsung hingga kini.

“Dengan program wirausaha, kelak mahasiswa yang lulus dari universitas tidak lagi hanya berfokus mengejar karier sebagai PNS. Untuk memajukan kewirausahaan di Indonesia membutuhkan kerja sama semua stakeholder. Kagama juga sudah turut serta dengan melakukan sosialisasi. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi yang dapat diberikan untuk Indonesia,” ujar Prof Zamrun.

Sekjen Pengurus Kagama Pusat, Ari Dwipayana menuturkan, untuk memajukan dunia wirausaha, tidak cukup hanya melalui kebijakan dan ekosistemnya melainkan juga perlu meningkatkan keterampilan dari para praktisi yang kompeten.

“Adanya inkubator bisnis dan program coaching (pelatihan) sangat penting dalam memajukan kewirausahaan. Kita harus belajar dari praktisi karena mereka punya banyak pengalaman,” ujarnya.

Saat ini, kata Ari Dwipayana, Indonesia sedang menghadapi keadaan yang sulit karena mengalami krisis ekonomi sekaligus kesehatan yang belum pernah ada presedennya. Namun, kata dia, sebuah negara seyogyanya melihat krisis sebagai peluang untuk bangkit sekaligus memperbaiki diri.

Koordinator Stafsus Presiden RI itu menjelaskan jumlah entrepreneur di Indonesia pada tahun 2018 sangat minim yakni 3,1 persen dari total populasi yang ada. Berdasarkan indeks enterpreneurship global pada tahun 2018, Indonesia berada di peringkat ke-94 dari 137 negara. Lebih rendah dari indeks negara Asean lainnya seperti Vietnam yang ada di peringkat ke-87, Filipina ke-76, Thailand ke-71, Malaysia ke-58, Brunei Darussalam ke-53, serta Singapura yang memiliki total pengusaha mencapai 7 persen. Jika berusaha keras, indeks global jumlah pengusaha Indonesia akan semakin membaik.

Menurutnya, Indonesia butuh pengusaha karena beberapa alasan. Yakni, jumlah penduduk yang besar, angkatan kerja tinggi yang tidak dibarengi dengan ketersediaan lapangan kerja, serta di tahun 2030 Indonesia akan menghadapi bonus demografi.

“Ada diskoneksi antara supply (angkatan kerja) dan demand (lapangan kerja). Persoalan ini harus dipecahkan terlebih Indonesia sudah termasuk sebagai upper middle income country. Kita masih punya waktu untuk mencapai posisi high income country di tahun 2045,” terang Ari Dwipayana.

Oleh karenanya, lanjut dia, pemerintah harus melihat persoalan ini mulai dari hulu. Problem supply side (penyiapan SDM) harus menjadi tugas penting dari perguruan tinggi serta sekolah-sekolah vokasi dan kejuruan. Perlu adanya evaluasi mengenai penataan angkatan kerja baru yang diciptakan oleh dunia pendidikan.

“Penting kiranya mengembangkan socio-entrepreneurship di lingkungan universitas maupun sekolah. Socio-entrepreneurship di sini artinya mewujudkan pengusaha-pengusaha yang tidak hanya mengejar keuntungan semata tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” pungkas Ari Dwipayana. (uli/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy