Jalan Memerdekakan Diri Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, S.Psi – Kendari Pos
Opini

Jalan Memerdekakan Diri Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, S.Psi


KENDARIPOS.CO.ID — “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”, bait kalimat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang sering kita dengar pada saat upacara hari kemerdekaan atau upacara bendera setiap hari Senin semasa sekolah, menyadarkan bahwa kemerdekaan adalah bagi seluruh kehidupan berbangsa di dunia.

Muhammad Radhi Mafazi, S.Psi, Pembimbing Kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Baubau

Penghapusan penjajahan sekaligus penindasan terhadap seluruh aspek kehidupan di suatu wilayah. Kini bangsa ini sudah memasuki usia 75 tahun kemerdekaan, berbagai macam peristiwa sudah dilalui hingga menjadi sejarah perjuangan. Begitulah selayaknya perjuangan untuk mencapai kemerdekaan itu dihargai karena semua ini tidak mudah. Terlebih bagi manusia yang baru saja terjerumus dalam lembah hitam dan harus berjuang mengembalikan keutuhannya sebagai wujud kemerdekaannya.

Tidak mudah menyembuhkan goresan luka pada kepercayaan dan mencapai kemerdekaan seutuhnya seperti sediakala. Setidaknya ada 7.588 dewasa dan 229 anak, klien pemasyarakatan di seluruh Indonesia yang harus berjuang untuk mendapatkan kemerdekaannya kembali setelah sekian waktu terpisah dari dunia luar .

Terasa berat memang, ketika mereka mempunyai kepribadian yang mudah sekali terpengaruh oleh lingkungannya. Terlebih lingkungan masyarakat yang menaruh stigma negatif bahkan sering melakukan pelabelan terhadap individu yang baru saja keluar dari Lembaga Pemasyarakatan atau Rutan, yang berujung pada tindakan diskriminasi serta pengucilan. Stigma sosial terhadap narapidana bukan lagi hal baru didunia akademis, terlebih di lingkukungan masyarakat kita.

Celakanya mereka (klien pemasyarakatan dan individu yang pernah menjalani seluruh proses peradilan di dunia atas kesalahannya) yang punya daya tahan rendah terhadap stress akan mencari pelarian pada perilaku jahat seperti masa lalunya atau malah lebih. Hal ini terjadi lantaran sebutan yang melekat pada mereka terus menerus disebutkan. Bahkan mereka mendapatkan perilaku diskriminatif sehingga menimbulkan pemahaman “saya lebih diakui sebagai penjahat”.

Lingkungan tempat tinggal mereka bahkan lingkungan inti tidak bisa serta merta disalahkan pada sikap pelabelan sampai dengan perilaku diskriminasi sedemikian rupa yang akhirnya menimbulkan stigma. Budaya kita adalah hasil yang terlihat bukan dari proses usaha mencapai puncak. Ibarat gunung es manusia pada umumnya hanya akan melihat permukaanya saja. Mereka yang sudah merasakan udara bebas tetapi masih saja mendapatkan pelabelan bahkan perilaku diskriminatif sama saja sedang dijajah.

Bahkan mereka yang dengan sengaja berbohong kepada pembimbingnya atas segala masalah yang menimpanya dan lari dari tanggung jawab. Sebenarnya mereka tidak tahu bahwa dirinya sedang menuju pada bentuk penjajahan yang paling menyakitkan yaitu penjajahan terhadap dirinya sendiri, hasil dari kebohongannya seolah semua terjadi dengan baik-baik saja, dan mengabaikan emosi negatif yang menghantui dirinya hingga tanpa sadar dirinya menginternalisasi segala bentuk perkataan konfrontasi dari lingkungannya. Sebagian mereka malah mencari tempat pengakuan pada lingkaran pertemanan yang membawanya pada lembah kehancuran.

Menjajah dirinya sendiri, setelah mereka terjajah oleh lingkungannya bahkan lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mengalami sebuah mindset tetap berupa pemahaman bahwa dirinya akan lebih diakui sebagai sosok di masalalunya, yang berbahaya adalah ketika mereka mencoba dengan cara melakukan hal yang sama atau lebih jahat untuk kembali mendapatkan pengakuan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebuah kebanggan bagi mereka yang gagal dalam proses memperbaharui dirinyadengan cara mencari-cari pengakuan, bahkan mereka tidak sadar ketika sedang menjajah dirinya sendiri dengan bentuk pembangunan mindset tetap bahwa dirinya istimewa di dalam lingkaran kejahatan. Bahkan lingkaran setan seolah melakukan prisonisasi kepada anggota kelompoknya, mereka saling belajar cara berbuat kejahatan, ini tidak dapat dipisahkan dari proses sosial dalam kelompok demi mencapai eksistensi diri sebuah pengakuan semu, penjajahan yang sedang ia alami. Pola pikir seperti ini yang perlu dirubah agar kemerdekaan yangparipurnabisa didapatkan.

Jalan Menuju Kemerdekaan Diri

Meraih kembali kemerdekaan sebagai manusia seutuhnya adalah keinginan tertinggi bagi mereka yang pernah jatuh dalam lembah hitam. Keresahan batin akan ditolak di tengah kehidupan masyarakat merupakan ketakutan yang menghantui, bahkan sebagian dari mereka mencoba bersikap masa bodo tetapi dengan cara yang distruktif sehingga tanpa sadar malah menghancurkan dirinya sendiri, mau tidak mau jalan menuju kemerdekaan harus ditempuh. Tiga tahap menampaki jalan kemerdekaan, diambil dari berbagai cerita pengalaman perjuangan. Tiga tahap ini juga bisa gunakan bagi kehidupan sehari-hari, saat hidup kita mulai kehilangan harapan karena terlalu berharap kepada kefanaan.

Pertama, Sadar diri (Self Awareness) yaitu kesadaran bahwa dirinya sedang dalam kondisi tertentu, hal ini bisa dilakukan oleh setiap individu dengan cara mendengarkan pendapat oranglain dan merenungkan. Tapi ingat! Pendapat yang mengarahkan pada solusi positif. Untuk mereka yang mendapatkan masa percobaan akan mendapatkan pelayanan fasilitas berupa pembimbing kemasyarakatan, yang akan memberikan solusi positif.

Akan sangat susah berubah bahkan akan terjebak pada lembah hitam yang sama atau malah lebih pekat ketika tidak mengindahkan hal ini.
Ya, mendengarkan memang membutuhkan usaha lebih untuk menerima masukan dan merenungi semua perkataan. Bukan dengan menimpali dengan bentuk kebohongan yang malah menuntutnya pada sebuah kesesatan. Banyak dari mereka yang merasa omongan itu hanyalah sekedar asap yang menguap, bahkan mereka sapu dengan tangan agar tidak masuk dalam telinganya. Tunggu saja model seperti ini tidak bakal lama bertahan ditengah masyarakat dan dengan sendirinya menitih jalan sesat.

Kesadaran diri ini juga mampu membuat orang merenungkan segala bentuk kejadian, ketika gagal menghadapi suatu situasi sebaiknya yang pertama kali dilakukan adalah sadar diri bahwa apa yang sebenarnya terjadi dari dalam diri sendiri, pada umumnya manusia ketika mengalami kesulitan bahkan kegagalan pertama kali akan menyalahkan lingkungan eksternal, hal ini akan membuat berhentinya perkembangan diri manusia menuju kemerdekaannya, bahkan dari mereka ini yang kembali lagi kepada kesesaatan selalu saja menyalahkan kondisi ekonomi dan pertemanan yang mengajaknya kembali pada kejahatan, maka selesailah mereka dan harus dibina kembali. Untuk selanjutnya manusia harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya.

Bertanggung Jawab

Kembalinya mereka ditengah masyarakat harus dibarengi dengan sebuah komitmen atau tanggung jawab terhadap segala bentuk rasa sakit masyarakat atas goresan luka berbentuk ketakutan yang pernah diterima. Bertanggung jawab atas semua ini tidaklah mudah apabila tahap pertama sebagai manusia yang baru saja keluar dari hukuman atas penembusan dosanya tidak dapat sampai pada tahap menyadari bahwa dirinya berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Sudah dipastikan mereka akan bertindak dengan sembrono, menganggap bahwa stigma yang beredar di masyarakat hanya dianggap isapan jempol semata. Hasilnya masyarakat yang berfikir bahwa mereka tidak ada perubahan selama menjalani hukuman kurungan. Inilah yang diperlukan agar masyarakat kembali percaya dengan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri setidaknya berubah menjadi manusia yang bermakna, atau setidaknya sedikit saja bermakna bagi lingkungannya.

Bermakna bagi Sesama

Tahap terakhir ini ibarat puncak kejayaan pengakuan kembali sebagai manusia pada umumnya. Direnggutnya kebebasan bergerak bukan seharusnya dirinya merenggut kebebasan berfikirdan berkarya. Terkadang mereka terlalu jauh merenungi dosa hingga tanpa sadar semua kebabasan yang dimiliki terenggut oleh dirinya sendiri. Pada akhirnya setelah keluar mereka bingung berbuat apa. Dipastikan mereka yang menjawab dengan standar seperti itu dalam satu bulan tanpa ada perubahan dalam berfikirmaka kembalilah kebebasan bergeraknya dihapuskan. Pada dasarnya fungsi pemasyarakatan sebagai bentuk mengembalikan berbagai sendi kehidupannya yang tidak ia penuhi sehingga berada di dalam lembaga.

Bermakna bagi sesama adalah tahap yang ditunggu oleh masyarakat, seolah masyarakat sudah memiliki semacam kuda-kuda dalam pikirannya yang dibangun dari pengalaman atau informasi negatif. Cara paling ampuh meruntuhkannya adalah menjadi pejuang dengan membuktikan hal tersebut tidak benar bahwa diri ini sudah berubah dan bisa memberikan makna bagi kehidupan masyarakat.
Jadi, tiga tahap menuju kemerdekaan yang paripurna bagi mereka adalah cara paling mutakhir, sehingga menjadi pribadi baru yang utuh. Wujud kemerdekaan sejati yang didambakan dari proses pemasyarakatan, mereka yang bisa berdikari dan lepas dari segala bentuk belenggu penjajahan. Merdeka!. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy