Iduladha “Ajarkan” Keikhlasan Publik, Oleh : Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

Iduladha “Ajarkan” Keikhlasan Publik, Oleh : Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

KENDARIPOS.CO.ID — Tanggal 10 Zulhijah adalah hari bersejarah bagi seluruh umat muslim seluruh dunia. Pada saat itu Nabi Ibrahim AS diuji keikhlasannya dengan seruan Allah SWT atas perintah menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS. Perintah itu sebagai bukti ketaatan dan pengabdian terhadap Sang Khalik.

Pada saat itulah terjadi sebuah keajaiban yang sangat luar biasa, ketika hendak disembelih sosok Ismail AS remaja berubah seketika menjadi seekor kambing. Ssungguh di luar akal sehat manusia dan hanya orang-orang yang berpikir yang bisa memahami semua peristiwa tersebut menjadi sebuah pembelajaran hidup yang sangat fundamental.

Pada bulan yang sama sebuah kisah meriwayatkan peristiwa penting yang bersejarah terjadi diantara bukit Safa dan Marwah. Di mana seorang ibu yang tiada lain adalah Bunda Siti Hajar istri Nabi Ibrahim AS, dengan segala kekhawatirannya dan tetap tawakal minta pertolongan Allah SWT mondar mandir sebanyak tujuh balik mencari sumber mata air demi memenuhi keinginan bayi yang terus menangis kehausan yakni Nabi Ismail AS kecil yang ada dalam gendongannya.

Dengan segala kepasrahannya sang ibu bersujud pasrah di depan Baitullah dengan menggeletakkan sang bayi yang dibiarkan menangis, sambil terus memohon perlindungan pada Sang Kuasa. Akhirnya atas izin Allah SWT, keluarlah mata air dari bekas injakan kaki bayi yang menangis tersebut, yang sampai saat ini dikenang sebagai tempat yang dinamakan hijir Ismail, yang kini ditempat tersebut setiap umat muslim melaksanakan ritual Tawaf (mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh putaran). Disunahkan untuk melaksanakan salat sunnah ditempat tersebut.

Menjalankan ibadah pada saat Iduladha memberikan pelajaran berharga atas pentingnya menanamkan keikhlasan pada diri kita. Ikhlas adalah menjadikan Allah Azza Wa Jalla satu-satunya tujuan dalam menjalankan ketaatan. Ikhlas pula berarti membersihkan perbuatan dari mencari pandangan atau penilaian manusia.

Perlu disadari bahwa seorang hamba yang melaksanakan aktivitas dengan ikhlas, maka kegiatan itu memiliki kekuatan ruhiyah yang besar, bagaikan menjadi pancaran energi yang melimpah. Wujudnya adalah bukan kesabaran jika masih berbatas dan bukanlah keikhlasan jika masih merasa sakit hati kepada seseorang.

Kebaikan seseorang mungkin akan dilupakan orang, tetapi apa yang penulis katakan adalah tetaplah menjalankan apapun yang kita perbuat dengan ikhlas. Kenapa demikian? Karena perbuatan yang ikhlas itu ada diantara kita dan Allah SWT. Artinya bahwa jika sesuatu dilaksanakan dengan ikhlas, antara lain pahit maupun manis suatu pekerjaan, semangat maupun malas, gembira maupun sedih, kita akan selalu melakukannya. Maka sungguh beruntung mereka yang amalnya ikhlas karena Allah SWT, sehingga dia selamat dari tujuan selain Allah dan terjauh dari tujuan duniawi.

Jika kita berbuat sesuatu dengan ikhlas, maka itu akan kembali pada diri kita sendiri. Dalam pandangan ajaran agama, Sang Khalik tidak memandang amalan yang banyak, tapi Dia melihat amalan yang ikhlas, sedangkan ikhlas itu rahasia Allah SWT. Hanya Allah SWT yang tahu.

Bila kita ilustrasikan, keikhlasan mempunyai kilau dan sinar, meskipun ribuan mata tidak melihatnya. Keikhlasan itu umpama semut hitam di atas batu hitam dimalam yang amat gelap. Wujudnya ada walau tak terlihat. Keikhlasan memang sangat abstrak, karena sifatnya yang tersembunyi, keikhlasan kadang terlihat jauh dari jangkauan. Namun begitu, menggapainya bukanlah hal yang mustahil, walau tidak bisa dikatakan mudah.

Tiada kata menyerah untuk meraih keikhlasan dan kebahagiaan. Hati yang ikhlas tidak akan silau dengan pujian. Karena sifatnya yang tersembunyi secara khusus Imam Al Ghazali menyebut bahwa ikhlas adalah sebuah keharusan. Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah keikhlasan dimana ia berada.

Sebuah keajaiban terjadi karena ketika seseorang ikhlas berserah diri, sesungguhnya ia sedang menyelaraskan pikiran dan perasaannya dengan kehendak Illahi. Hal itu menghasilkan kolaborasi niat yang luar biasa pada level kuantum di zona ikhlas. Saat itulah, terjadi kemudahan dari Allah SWT.

Sering kita sebut keajaiban, seolah otomatis hadir dalam hidup kita. Segala kemudahan yang didapat dari keikhlasan yang kita akses, tidak mungkin dapat dirasakan jika kita tidak memiliki kesadaran yang cukup. Kita hanya akan menganggapnya sebuah kebetulan. Karena itu, ketika seseorang secara sadar menggunakan keikhlasan dalam setiap tatanan kehidupannya, berbagai kemudahan seakan mengalir tanpa hambatan. Dan kesadaran inilah yang menjadikannya ketagihan menggunakan ikhlas sebagai kekuatan.

Sejarah kebesaran Allah SWT atas perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS sangat jelas memberikan gambaran yang pasti akan keberhasilan seorang hamba, jika mampu menjaga keikhlasan disepanjang hidupnya. Pertolongan-Nya pun nyata dan tak akan pernah berpaling dari setiap hamba yang selalu berusaha dan tetap tawakal semata-mata hanya mengharapkan Rida-Nya.

Merayakan lebaran Iduladha di era pandemi ini, penulis melihat banyak hal yang bisa dijadikan cermin dan pembelajaran dari sejarah perjalanan Nabi Ibrahim AS. Keikhlasannya menjalani kehidupan menjadi suri teladan bagi kita semua. Publik perlu meyakini, jika Pertolongan-Nya akan selalu sampai bagi orang-orang pilihan yang sabar dan tawakal. Seperti halnya kita semua menyikapi wabah yang melanda dunia saat ini, jika kita menyikapinya dengan kacamata positif maka dampak yang akan terjadi pada diri kita pun akan senantiasa berefek positif, begitu pun sebaliknya.

Mampukah publik menjaga keikhlasan atas segala hal yang terjadi saat flashback peristiwa- peristiwa bersejarah yang terjadi di masa lampau? Saat ini yang dibutuhkan masyarakat, bukan hanya sisi materi yang harus terpenuhi, tapi perlu pemupukan mental agar lebih percaya diri, produktif dan kreatif dalam berpikir.

Secara teori bisa kita definisikan bahwa berpikir kreatif adalah proses penggunaan kemampuan berpikir untuk membuat hubungan yang baru dan hubungan yang lebih berguna dari informasi yang sebelumnya sudah kita ketahui. Jika dilihat dari definisi ini sebenarnya semua orang adalah kreatif.

Untuk bisa berpikir kreatif bukan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kreatif. Tetapi ini semua adalah suatu aktivitas yang bisa dilatih dan dilakukan karena terbiasa, sedangkan berpikir produktif adalah berpikir yang berprinsip sinergis, seorang pribadi sukses pada setiap menit bahkan detik dalam kehidupannya senantiasa diisi dengan berpikir. Yakni berpikir produktif, kreatif dan inovatif. Karena itu ia haruslah seorang yang jenius. Menurut kalangan pakar psikologi, kecerdasan atau kejeniusan seseorang itu adanya diciptakan, bukan dilahirkan.
(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy