“Guru Fasilitator” Ngomong Gampang, Mewujudkan Susah, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

“Guru Fasilitator” Ngomong Gampang, Mewujudkan Susah, Oleh : Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Kata guru sebagai fasilitator sangat indah didengar, dan memberikan ekspektasi yang luar biasa kepada pendengarnya. Bahkan dengan kata-kata itu semua terlena. Frasa guru sebagai fasilitator sering diucapkan pejabat saat berpidato di hadapan masyarakat, pendidik di hadapan murid, yang dimaknai bahwa seakan-akan kegagalan pendidikan akibat dari peran guru sebagai fasilitator yang belum berfungsi dengan baik.

Jarang kita dengar mereka berkata bahwa peran guru sebagai fasilitator sudah berjalan dengan baik. Memang saat ini peran guru di kelas lebih ditekankan sebagai fasilitator pembelajaran. Melalui pembelajaran aktif, guru sebagai fasilitator bertugas memfasilitasi pembelajaran yang berlangsung pada diri peserta didik, sehingga mereka memperoleh pengalaman belajar yang nyata dan otentik.

Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Sementara, siswa lebih diposisikan sebagai “bawahan” yang harus selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki oleh guru melalui komunikasi yang tepat.

Komunikasi memiliki peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar (PBM), salah satunya yaitu mencapai tujuan pendidikan. Adanya komunikasi antara guru dan murid dalam pembelajaran sangatlah penting agar informasi yang diberikan guru dapat diterima dan dicerna dengan baik oleh siswanya. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan yang dapat menimbulkan efek tertentu.

Guru adalah seorang anggota masyarakat yang berkompeten dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat dan atau pemerintah untuk melaksanakan tugas, fungsi dan peranannya, yakni mengajar, mendidik dan membimbing serta menuntut siswa dalam belajar. Dengan kata lain, guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam usaha pembentukan sumber daya manusia dan sebagainya. Sedangkan siswa adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.

Keduanya baik guru maupun siswa merupakan unsur penting dalam proses pembelajaran. Karena merekalah yang melakukan proses pembelajaran. Proses pembelajaran tidak akan terjadi jika tidak ada guru atau pun siswa. Dengan melihat pada pengertian bahwa pendidikan adalah usaha sadar dari guru yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas siswa, terkandung suatu makna bahwa proses yang dinamakan pendidikan itu tidak akan pernah berlangsung apabila tidak hadir guru dan siswa dalam rangkaian kegiatan belajar mengajar. Sehingga bisa dikatakan bahwa guru dan siswa merupakan pilar utama terselenggaranya aktivitas pendidikan.

Guru merupakan sosok sangat penting dalam proses pembelajaran. Sangat banyak tugas guru, terutama untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa. Dari tugas sebanyak itu, kata guru sebagai fasilitator seyogyanya tidak perlu dikumandangkan di forum masayarakat, karena guru tahu apa yang ia lakukan untuk membawa anak didik dalam nuansa pendidikan. Bahkan mungkin yang mengucapkan juga tidak paham makna dari kata itu, peran fasilitas apa yang perlu diperankan oleh guru sebagai fasilitator.

Guru memahami peran mereka untuk memfasilitasi siswa agar berkarakter, terampil, dan memiliki pengetahuan, tetapi yang perlu kita pertanyakan adalah apakah pemerintah sudah membekali guru agar mampu menfasilitasi siswanya kepada tiga aspek tadi ? Jika pertanyaan ini belum terjawab secara nyata dirasakan oleh guru, ekpektasi itu tinggal ekpektasi yang tak akan mungkin kita capai.

Masalah pendidikan bukan hanya masalah yang berbicara hitungan dan capaian secara matematika, tetapi berbicara nilai yang perlu ditanamkan merupakan satu keharusan sebagaimana yang dicantumkan dalam regulasi pendidikan. Di Indonesia masalah pendidikan sangat heterogen, sehingga perlakukannya pun heterogen.

Masalah pendidikan di kota tidaklah sama dengan pendidikan di daerah, walaupun instrumen perlakuannya sama, tetapi capaiannya tidak akan mungkin sama karena karakter yang berbeda. Masyarakat dan infrastrukturnya pun pasti berbeda. Permasalahan inilah yang diklaim menghambat peningkatan mutu pendidikan nasional, khususnya di daerah tertinggal atau terpencil, yang pada akhirnya mewarnai perjalanan pendidikan di Indoensia.

Di daerah terpencil masih banyak dijumpai kondisi di mana anak-anak belum terlayani pendidikannya. Angka putus sekolah yang masih tinggi. Juga masalah kekurangan guru, walaupun pada sebagaian daerah, khususnya daerah perkotaan persediaan guru berlebih. Sarana dan prasarana yang belum memadai. Itulah sederat fakta-fakta yang menghiasai wajah pendidikan kita di daerah terpencil.

Boleh kita berteriak kita sudah merdeka secara yuridis, namun “penjajahan” pendidikan masih dialami oleh sebagaian masyarakat kita sehingga boleh dikatakan bahwa kita masih gagal dalam mewujudkan pendidikan yang menjadi faktor utama dalam menentukan kemajuan bangsa sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 31: ayat 1, setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat 2, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Ayat 3, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang. Ayat 4, negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Ayat 5, pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Regulasi mengenai pendidikan sangat jelas namun untuk mewujudkan itu sangat susah. Hal ini disebabkan karena program yang dibuat oleh pemerintah yang diperutukkan untuk itu belum mampu terpenuhi. Demikian pula paradigma guru kita memang harus diubah dalam melakukan tugasnya dengan baik sebagaimana regulasi itu.

Banyak diantara guru kita yang tidak sadar akan tugas dan tanggungjawabnya, karena kemampuan untuk mewujudkan regulasi itu. Ini disebabkan karena pendidikan lama di mana guru-guru sudah tidak sejalan dengan konsep pendidikan milenial. Lompatan-lompatan kemajuan pendidikan di era milenial ini, seperti teknologi. Guru harus belajar sendiri. Kemampuan belajar sendiri dengan teknologi canggih merupakan hambatan besar.

Oleh karena itu, jangan hanya berteriak guru sebagai fasilitator, jika pemerintah belum memfasilitasi guru terhadap paradigma baru pendidikan untuk menjadikan guru sebagai fasilitator. Jangan berharap banyak dari guru, jika pemerintah tidak memberikan banyak pada guru untuk muridnya.

Percayalah jika pemerintah diam guru pun akan diam. Jika pemerintah bergerak maka guru bergerak. Jika pendidikan maju maka negara pun maju. Itulah harapan kita semua. Ayo kerja. Ayo kerja. Tidak ada yang tidak bisa untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy