“Disrupsi” Akankah Pendidikan Terancam?, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

“Disrupsi” Akankah Pendidikan Terancam?, Oleh : Prof. Hanna

Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Dalam beberapa bulan terkahir ini kita disibukkan dengan satu fenomena dunia yakni Covid 19 yang sangat menakutkan semua orang. Di tengah ketakutan itu, lambat laun kita bisa beradaptasi dengan kehidupan new normal meski Covid-19 belum landai tetapi paling tidak ketakutan dan kepanikan tidak seperti awal-awal munculnya Covid-19 karena masyarakat sudah memahami cara mengantisipasi penularannya.

Demikian juga, new normal semakin akrab dengan masyarakat termasuk dalam dunia pendidikan. Penggunaan teknologi kian meningkat, dan yang dikhawatirkan adalah terjadinya disrupsi dalam dunia pendidikan, karena saat ini kita berada dalam dunia disrupsi. Disrupsi adalah gangguan yang mengakibatkan industri tidak berjalan seperti biasanya karena bermunculannya kompetitor baru yang jauh lebih efisien dan efektif, serta penemuan teknologi baru yang mengubah peta bisnis.

Disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. Mari kita lihat kondisi nyata yang terjadi dalam dunia Pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Rata-rata mengubah cara mengajar dari sistem tatap muka ke sistem daring. Sistem ujian dari tatap muka menjadi virtual. Tak ada yang tak terdampak disrupsi.

Pengecualian bisa terjadi apabila kita benar-benar cerdik berinovasi, membentuk kembali model pendidikan dengan cara-cara baru. Pengeculian juga bisa terjadi apabila para elite dan masyarakatnya mau merecyling menyusun ulang undang-undang atau peraturan lama, atau memberi ruang sedikit lebih leluasa pada pembaruan. “Disruption menggantikan ‘pasar lama’ industri, dan teknologi, yang mengahasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan kreatif!” kata Clayton Christensen, profesor di Harvard Business School.

Tidak bisa dipungkiri bahwa jika rujukan kita adalah inovasi maka inovasi memang sejatinya destruktif sekaligus kreatif. Karena itulah, selalu ada yang hilang, memudar, lalu mati. Semua ini menakutkan sekaligus bisa membuat kita membentengi diri secara berlebihan.

Di sisi lain, ada hal baru yang hidup. Meski ada lapangan kerja yang hilang, selalu ada yang menggantikannya, yang membutuhkan kreativitas, semangat kewirausahaan, dan cara-cara baru. Begitulah siklus alam. Sehingga kita bisa melihat bahwa hampir semua kegiatan manusia sehari-hari, kalau bukan perbaikan, adalah pengulangan (iteration), termasuk mengulang agar mendapatkan hasil yang lebih baik atau terperangkap dalam kebiasaan.

Pengalaman di beberapa negara maju karena teknologi yang hebat di zamannya, namun zaman berganti teknologipun tanpa nilai inovasi maka negara itupun akan mengalami keterlambatan. Memang inovasi yang maju adalah sesuatu hal yang didambakan oleh semua orang seperti yang terjadi saat ini. Semua indusrti melakukan inovasi bahkan diasumskian bahwa tiga sampai sembilan persen produk terkemuka di dunia ini adalah hasil inovasi.

Pertanyaannya adalah apa yang terjadi jikalau begitu semua inovasi sudah berada di depan mata kita semua, namun masih banyak orang yang belum terjangkau? Bukankah inovasi ditujukan untuk kemakmuran umat manusia? Kekhawatiran ini muncul setelah saya membaca tulisan Prof. Clayton Christensen, pencipta teori disrupsi, pada tahun 2014 memprediksikan bahwa “50 persen dari seluruh universitas di AS akan bangkrut dalam 10-15 tahun ke depan.” Penyebabnya, karena universitas-universitas itu terdisrupsi oleh beragam terobosan inovasi seperti online learning dan Massive Online Open Courses (MOOCs).

Tulisan Prof. Christensen itu didukung beberapa pendapat lain yang mencemaskan disrupsi yang menerpa dunia pendidikan kita seperti, (a) 65 persen anak-anak kita yang kini memulai sekolah nantinya bakal mendapatkan pekerjaan yang saat ini belum ada, (b) 75 juta (42 persen) pekerjaan manusia akan digantikan robot dan artificial intelligence pada tahun 2022 (World Economic Forum, 2018). Dan (c) 60 persen universitas di seluruh dunia akan menggunakan teknologi virtual reality (VR) pada tahun 2021 untuk menghasilkan lingkungan pembelajaran yang imersif (Gartner, 2018).

Peringatan pakar dan lembaga think tank global tersebut menjadi wake-up call bagi stakeholders pendidikan kita. Bahwa kalau dunia pendidikan dikelola dengan cara-cara yang BAU (business as usual) pada akhirnya akan menjadi obsolet, tak relevan, dan akhirnya melapuk. Walaupun banyak orang yang berpendapat bahwa pendidikan adalah salah-satu institusi yang dikenal paling sulit berubah menghadapi terpaan disrupsi.

Tak heran, jika kondisi dan metode pembelajaran hari ini tak jauh berbeda dengan kondisi seabad yang lampau, akan tetapi yang perlu diketahui bahwa dunia pendidikan kita adalah suatu sistem yang bertahun-tahun dibangun dan dikhawatirkan akan menjadi usang dan bahkan dinilai tidak relevan lagi dengan dunia saat ini.

Akankah kita bertahan ? Oleh karena itu letak dasar meletakkan ruh pendidikan adalah ditangan pelaku pendidikan. Guru perlu meletakkan “life long education” sebagai paradigma dalam beraktivitas menjalankan profesinya. Guru abad 21 harus menggeser paradigma “pengembangan” ke dalam konsep “belajar” dan dari pandangan “atomistik” digeser ke dalam pandangan “holistik” dan memiliki tacid knowledge pengalaman empiris yang berharga.

Percayalah dengan pendidikan yang berkualitas akan menunjukkan bangsa dan jati diri Indonesia karena kita percaya bahwa pelaku pendidikan kita adalah guru, pemikir yang reflektif (reflective thinker) mengandung makna aktivitas refleksi sampai kepada pelaksanaan tindakan seharusnya memberikan dampak peningkatan profesionalisme secara akumulatif melalui tindakan nyata membangun pengalaman belajar sendiri (kontruktivistik) yang disebut belajar mandiri (self motivated learning). (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy