Dengan Rp.1.500 Kita Bisa Mencerdaskan Bangsa, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Dengan Rp.1.500 Kita Bisa Mencerdaskan Bangsa, Oleh : Prof. Hanna


Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — It is Impossible. Saya pernah didebat oleh beberapa orang terkait sistem dalam kondisi pandemik ini. Perdebatan itu terjadi saat saya menyampaikan satu pemikiran dari kegalauan para guru dan masyarakat dalam menghadapi proses pembelajaran dalam jaringan (Daring).

Saya katakan waktu itu, dengan uang Rp.1.500 kita bisa mengubah dunia melalui sistem pembelajaran daring. Namun beberapa diantara mereka tidak sependapat dengan ide saya, dan kenyataannya harus begitu.

Mari kita melihat kenyataan bahwa dalam tahun ajaran baru 2020-2021, setelah penerimaan siswa baru, selanjutnya Masa Pengenalan Sekolah (MPS) dengan menekankan aspek karakter baik melalui daring (online) maupun offline. Dalam kondisi saat ini, dunia pendidikan disibukan dengan sistem penerimaan siswa baru dan proses pembelajaran berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa, ada banyak persoalan yang muncul di masyarakat terkait pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM) secara daring di tengah pandemi Covid-19 ini yakni kerumitan dan keruwetan.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, kerumitan berarti menjadikan sulit dan sukar, sedangkan kata keruwetan berarti, mengusutkan; mengalutkan; menyulitkan. Kerumitan itu tentu saja dialami para orang tua (rata-rata ibu-ibu) yang harus menemani dan membimbing anak dalam PBM baik yang menggunakan aplikasi zoom, google meet maupun WhatsApp (WA). Hal ini disebabkan karena penggunaan andoroid oleh sebagian masyarakat apalagi termasuk anak-anak SMP masih sangat sulit.

Kerumitan lain adalah karena tidak semua anak dan orang tua mampu membeli paket data internet apalagi membeli andoroid. Bukan tanpa halangan, metode belajar daring ini rupanya menyisakan banyak kegelisahan di masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, sektor pendidikan Indonesia termasuk di negara negara lainnya, kini tengah mengalami persoalan serius karena tidak semua pendidik, siswa dan orang tua benar-benar siap menghadapi kehidupan saat ini yang orang katakan, era new normal. Di samping itu kerumitan di alami oleh sebagian guru yang selama ini terbiasa dengan kondisi pembelajaran secara offline.

Keruwetan itu karena harus mengubah kebiasaan, membuat persiapan, membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), melaporkan sistem pembelajaran daring sebagai suatu keharusan, termasuk memahami karakter psikologis siswa dan pendidiknya agar pola pengajaran learn from home atau belajar dari rumah yang diberikan dapat tepat guna.

Selain itu keruwetan juga seorang guru karena harus mampu mempersiapkan sebuah virtual classrom yang menarik agar siswa tetap terfokus dan tidak bosan dan gangguan dengan segala permasalahannya, sehingga PBM itu menyenangkan. Karena proses pembelajaran akan mudah diterima dan dipahami bila situasi hati senang.

Perasaan senang tersebut menghasilkan akan berimplikasi pada rasa sayang. Artinya bahwa jika seseorang anak didik menyenangi mata ajar tentu akan menumbuhkan rasa sayang terhadap pelajaran yang ia peroleh. Demikian juga dalam PMB, konteks menyenangkan merupakan suatu keharusan yang perlu dilakukan guru, kepada muridnya sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila cara guru mengajar menyenangkan, anak didik pun menjadi ikut senang.

Sebaliknya, bila anak didik sudah merasa senang, maka belajarpun menjadi semangat. Melihat anak didiknya antusias dalam belajar tentunya guru pun akan senang dan merasa puas bahwa proses pembelajaran berhasil dilakukan. Membuat siswa senang dalam belajar merupakan tugas wajib setiap guru. Tujuannya agar apa yang sudah disampaikan oleh guru tidak menjadi sia-sia saja, melainkan dapat terserap dan diaplikasikan oleh anak didiknya.

Untuk menyenangkan anak didik, dapat diibaratkan seperti mengisi air ke botol tertutup. Guru perlu membuka tutup botol terlebih dahulu dengan cara menciptakan rangsangan untuk menggugah minat belajar anak didiknya. Jika tutup botol sudah terbuka, kita akan mudah menuangkan isi ke dalamnya dengan berbagai materi sesuai yang kita harapkan.

Bobbi De Porter, menyatakan bahwa mengajar yang menyenangkan “bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Maksudnya, kita sebagai guru harus berempati terhadap situasi dan kondisi anak didik. Bila anak didik senang dengan bermain, kita harus mampu untuk masuk ke dalam dunia bermain mereka.

Bila kita berhasil masuk ke dalam dunia bermain yang mereka sukai, kita dapat antarkan materi sesuai yang kita harapkan. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya bukan hanya memberikan materi yang harus dipelajari anak didik, tetapi lebih jauh dari itu, diajarkan pula bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam belajar.

Pertanyaan yang perlu dijawab, mampukah kita melakukannya dalam kondisi saat ini, ditambah dengan masalah paket data internet yang mungkin tidak semua bisa diperoleh. Paket data internet bukanlah suatu masalah, jika seluruh elemen bisa berpikir kreatif.

Terkait dengan pembelajaran work from house maka konsep yang perlu dipikirkan oleh masyarakat selaku mitra pendidikan dapat dilibatkan dengan cara membuat posko yang berfungsi melayani pendidikan daring dengan mengikuti protokol kesehatan (Prokes). Contoh, di sebuah kompleks perumahan terdapat beberapa rumah yang memiliki jaringan internet yang mungkin tidak digunakan seluruh kuota internetnya. Dan jumlah peserta didik dalam sebuah rumah yang mengakses internet tidak bisa dikontrol.

Karena banyaknya maka jaringan tidak terkontrol dengan baik. Untuk mengantisipasi potensi masalah jaringan, sebaiknya masyarakat menyisipkan biaya pulsa yang dipersiapkan oleh posko. Biaya posko itu diambil dari iuran masyarakat. Katakanlah terdapat 100 rumah di kompleks. 100 rumah itu menyisihkan Rp.1.500 perhari dikalikan sebulan maka Rp.45.000.

Iuran Rp.45.000 sebulan lalu dikalikan 100 rumah, maka berjumlah Rp.4.500.000/bulan. Jika biaya yang sebanyak ini dimanfaatkan membayar biaya internet sekira Rp.600.000/perbulan, maka bisa 5 posko didirikan di kompleks itu. Bahkan bisa membiayai tim pendamping.

Konsep ini juga bisa membantu masyarakat yang tidak memiliki fasilitas android. Saya yakin,uang Rp.1.500 itu tidak punya arti apa-apa, namun jika dimanfaatkan dengan baik, uang tersebut akan bernilai ibadah. Selain itu, dalam undang-undang sistem pendidikan diperlukan adanya kemitraan yang melibatkan masyarakat.

Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Masyarakat dapat berperan sebagai sumber pelaksana dan pengguna hasil pendidikan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy