“Daring” Alturisme Pendidikan yang Tepat, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

“Daring” Alturisme Pendidikan yang Tepat, Oleh : Prof. Hanna


KENDARIPOS.CO.ID — Kata alturisme, dimaknai sebagai keinginan seseorang menolong sesama yang tulus dan tanpa pamrih. Melihat dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, mengakibatkan berbagai elemen masyarakat was-was dalam beraktifitas untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sulawesi Tenggara termasuk provinsi yang masih memiliki kluster yang belum bisa landai sampai saat ini, meskipun pemerintah sudah bekerja maksimal untuk mengatasi penularan ini.

Kondisi ini mengakibatkan beberapa kantor dan toko yang kembali ditutup untuk sementara, termasuk satuan pendidikan dibeberapa daerah yang belum memperbolehkan proses belajar secara offline dilaksanakan. Proses belajar online atau secara daring. Berbagai upaya dilakukan mengatasi penyebaran wabah Covid-19, begitu pula dalam bidang pendidikan.

Hampir sebagian besar daerah memindahkan aktivitas belajar siswa sekolah ke rumah. Dalam pelaksanaannya, saya melihat pembelajaran berbasis daring terbukti belum efektif berdasarkan pengalaman dan pantauan masyarakat, walaupun beberapa sekolah memfasilitasi muridnya dengan fasilitas ipad namun penguasaan teknologi siswa dan orang tua masih belum maksimal.

Terkait dengan efektivitas, saya merujuk pada Hidayat (1986) bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Artinya bahwa efektivitas merupakan kemampuan memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang ditetapkan. Dengan kata lain efektivitas adalah tingkat kemampuan untuk mencapai tujuan yang tepat.

Dalam kondisi seperti ini, daring sebagai alturisme pendidikan sebagai alternatif yang dianggap akan membantu proses pelalajaran itu. Siswa belajar dari rumah sebagai pengganti siswa tidak dapat belajar di sekolah. Hal ini dilakukan sebagai jalan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan aktivitas menjaga jarak sosial (sosial distancing), sesuai kebijakan Mendikbud melalui Surat Edaran (SE) No 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Salah satu isi SE tersebut adalah mengimbau untuk belajar dari rumah melalui pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran daring menjadi dilema bagi guru dan siswa. Di satu sisi, proses pembelajaran harus berjalan. Dan, di sisi lain, pelbagai problematika mengiringi proses pelaksanaannya.

Oleh karena itu, seluruh stakeholder harus bekerja sama untuk menyukseskan pelaksanaan pembelajaran daring. Alternatif solusi untuk mengatasi tersebut harus diberikan dan disepakati untuk dilaksanakan secara bersama-sama. Guru melaksanakan pembelajaran meski tanpa bertatap muka langsung yang merupakan suatu pilihan strategi pembelajaran yang lazim dijadikan pilihan. Melalui berbagai platform semisal grup Whatsapp, email, google classroom, atau media yang lain, guru berusaha menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.

Umumnya, langkah yang dilakukan guru mulai dari menyiapkan konten materi pelajaran yang disampaikan pada setiap pertemuan lantas diunggah di media daring yang dipantau oleh guru. Penyampaian materi melalui daring dapat bersifat interaktif sehingga peserta belajar mampu berinteraksi dengan komputer sebagai media belajarnya.

Sebagai salah satu contoh siswa yang menggunakan pembelajaran media elektronik atau menjalin hubungan (browsing, chatting, vidiocall) melalui media elektronik, dalam hal ini komputer dan internet nantinya akan memperoleh hasil belajar yang lebih efektif dan baik dari pada pembelajaran konvensional. Namun apa yang terjadi, ternyata masih banyak kendala yang dialami, antara lain, pertama, masih banyak guru yang mempunyai keterbatasan dari sisi akses maupun pemanfaatan teknologi.

Kedua, kemandirian belajar siswa di rumah tidak dapat sepenuhnya dapat terlaksana dengan baik. Ketiga, tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan guru tampaknya membebani siswa karena tidak ada interkasi. Keempat, tidak semua siswa mempunyai handphone. Kelima, pembelajaran daring terkendala signal internet yang tidak stabil dan pulsa (kuota data) yang mahal.

Dari kondisi ini tentu saja kita tidak banyak berharap tentang karakter yang diidam-idamkan sebagaimana yang tertera dalam kurikulum dan akan berimplikasi pada ketidaktercapaian tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, yang perlu kita lakukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif adalah pertama, guru perlu belajar dan membekali diri dengan mengasah kemampuan dan kreativitasnya dalam menyampaikan materi sesuai dengan RPPnya.

Kedua, pekerjaan rumah dan penugasan kepada siswa hindari untuk tidak membebani siswa agar konsep belajar yang benar dapat terwujud. Ketiga, orangtua harus mengalokasikan waktu untuk mendampingi putra-putrinya selama belajar di rumah. Keempat, perlu menyiapkan konsep kemitraan bagi siswa yang tidak mampu, khususnya bagi siswa yang terkendala dengan pulsa (kuota) data yang mahal.

Kita tidak bisa lagi tinggal diam karena perkembangan pendidikan saat ini dipengaruhi oleh pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu teknologi informasi yang ikut berperan dalam dunia pendidikan adalah pembelajaran daring. Pembelajaran daring berfungsi sebagai penghubung antar pendidik dengan siswanya dan jaringan internet yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Bahkan berpengaruh besar terhadap proses pengajaran dan pembelajaran.

Kemudahan akses teknologi telah digunakan para pengajar untuk memudahkan proses pembelajaran. Akses teknologi juga mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Sejak ditemukannya teknologi internet, hampir segalanya menjadi mungkin dalam dunia pendidikan. Saat ini peserta didik dapat belajar tidak hanya dimana saja tetapi sekaligus kapan saja dengan fasilitas sistem electronic learning yang ada. E-learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan dan pelatihan, baik di negara-negara maju maupun negara sedang berkembang, khususnya Indonesia.

Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk e-learning namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronik sebagai alat bantunya yang telah berkontribusi dalam perubahan pelaksanaan pengajaran. Kita tidak perlu lagi berdikusi tentang teori efektivitas dan teori tentang untung dan buntungnya daring ini, yang perlu kita laksanakan adalah bagaimana proses pendidikan itu berjalan dan mencapai tujuan sebagaimana ditetapkan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy