Andaikan Saya Nur Endang Abbas, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Andaikan Saya Nur Endang Abbas, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Alhamdulillah. Saya dilantik menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) definitif Provinsi Sultra. Tentu saja bukan lagi status Penjabat (Pj). Seperti yang disematkan kepada Sarifuddin Safaa, Hj.Isma, La Ode Mustari dan La Ode Ahmad Pidana Bolombo. Tapi, hati saya tidak kaget, karena saya pernah juga menyandang sebagai Pj.Sekda di era Gubernur Sultra Ali Mazi.

Saya punya keyakinan untuk mengemban amanah ini. Bukan apa-apa. Segudang pengalaman dan kiprah pernah saya lewati. Semua bisa membantu saya untuk menjalankan tugas sebagai Sekda. Saya akan fokus bekerja. Saya yakin, menduduki jabatan ini sudah memiliki kompetensi. Soalnya, sudah melalui proses seleksi.

Dengan kompetensi yang saya miliki, sehingga dipercaya oleh Presiden, Menteri, Gubernur. Insya Allah, dengan kompetensi yang saya miliki akan terakomodir dan buktikan saat bekerja. Saya bertekad, organisasi Setda Provinsi Sultra menjadi organisasi publik yang modern. Seiring dengan salah satu misi Pemprov Sultra, yakni menciptakan birokrasi yang modern, profesional dan akuntabel.

Pengalaman saya pernah memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sultra tahun 1997-2001, merupakan salah satu modal sosial penting. Saya akan kirim WhatsApp (WA) ke teman akrab saat itu, Arsyad Abdullah. Saat saya mau jadi Ketua KNPI, ia menjadi teman saat itu. Saya akan bertanya, : Arsyad, saat saya pimpin KNPI, pelajaran penting apa yang bisa saya petik saat sekarang menjadi Sekda saat ini ?. Tentu saja adaptasi akan saya lakukan. Karena toh, ruang lingkup organisasi saat ini lebih luas. Zaman juga sudah berbeda.

Pengalaman itu saya akan jadikan modal dalam melaksanakan tugas kemasyarakatan. Terbuka kepada pemuda, elemen masyarakat, partai politik. Saya akan mendorong partai politik (parpol) untuk menjalankan fungsinya secara maksimal.

Parpol akan saya ajak dialog untuk memahami apa yang menjadi kendala dan problemanya dalam hubungannya dengan eksekutif. Pokoknya, luwes dan terbuka dalam memberi layanan pada parpol. Insya Allah, akan memosisikan diri selaku jembatan dan mediator antara eksekutif dan legislatif.

Saya akan bekerja keras dan penuh disiplin. Termasuk memperhatikan jajaran staf yang berada di bawah. Kalau soal bekerja keras, bukanlah hal sulit bagi saya. Sosialisasi sejak kecil, dari didikan orang tua dan pendidikan formal di sekolah. Pengalaman dan pendidikan masa kecil tersebut Insya Allah akan mempengaruhi juga kinerja saya sebagai Sekda. Tidak lupa komunikasi terbuka dengan para bawahan. Termasuk membagi habis tugas rutin kepada para staf.

Saya tidak akan melupakan kodrat saya sebagai perempuan. Sebelum berangkat ke kantor, segala kebutuhan rumah tangga, entah itu anak, suami dan keluarga saya akan layani. Kodrat sebagai ibu rumah tangga tidak akan saya tinggalkan.

Di tempat kerja, selaku pimpinan tidak melupakan feminin yang merupakan percerminan dari seorang ibu yang baik. Saat memberikan perintah kepada bawahannya, tidak semata-mata memerintah atas dasar tugas, tetapi juga harus tetap menjaga imagenya sebagai seorang perempuan yang feminin.

Itu saya lakukan, semata-mata untuk membuktikan bahwa perempuan adalah layak untuk menjadi pemimpin. Sebab, jika itu dilakukan akan tersosialisasi bahwa memang perempuan sejajar dengan laki laki saat dipercaya mengemban amanah jabatan publik. Intinya, saya berupaya untuk memusatkan perhatian pada sistem gagasan umum, pada semua dimensi kehidupan yang berpusat pada perempuan.

Karenanya, saya akan terus berpikir bagaimana dengan perempuan? Mengapa masih tertinggal? Mengapa itu terjadi? Bagaimana menciptakan dunia sosial sedemikian rupa adil bagi perempuan dan semua umat manusia.

Itulah benak saya. Sebab selama ini, persoalan yang dialami oleh perempuan adalah bukan hanya dilihat dalam hubungannya dengan laki-laki. Tapi juga dalam kaitannya dengan struktur, kultur dan sistem masyarakat yang lebih luas. Sistem nilai budaya telah dikonstruksi secara patriarkis, sehingga perempuan berada pada struktur yang terhegemoni oleh laki-laki.

Banyak yang saya harus mau tuangkan. Tapi cukuplah dulu catatan ini. Soalnya, sudah banyak yang harus saya kerjakan. Selamat bekerja Bu Endang. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy