“Terlena Berarti Musibah” Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

“Terlena Berarti Musibah” Oleh: Prof. Hanna


KENDARIPOS.CO.ID — Masih terngiang di telingaku. Bisik cintamu. Betapa lembut dan mesranya. Aku terlena.
Terlena. Kuterlena. Tiada terasa air mataku. Basahi pipi

Prof. Hanna

Sebait lagu yang ditulis Renaldi D. Wahab, dan dipopulerkan Ikke Nurjannah mengingatkan kita akan peristiwa akhir tahun 2019 di Wuhan, Cina, lalu membuat heboh dunia yang kita kenal dengan nama musibah Covid-19. Di Indonesia diperkirakan masuk awal Februari tahun 2020. Pemerintah mengambil langkah cepat dengan menerapkan Work From Home (WFH), pertengahan Maret 2020.

Semua instansi, perusahaan dan organisasi turut dengan imbauan itu. Memang masih terngiang di telinga kita, bisikan “cinta” dari pemerintah dengan imbauan untuk mengikuti protokol kesehatan (Prokes) seperti social dan physical distancing, pakai masker, dan lain-lain, bukan seperti di negara -negara lain yang menggunakan cara kekerasan.

Setelah kita berada dalam situasi ketegangan, ekonomi semakin berkurang, sistem pembelajaran berubah, terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dimana-dimana. Kita semua panik menghadapi situasi yang tak pasti. Beberapa daerah zona aman diberikan kesempatan untuk melonggarkan. Melihat peristiwa itu masyarakat tanpa peduli karena kebutuhan mengikuti sistem pelonggaran di daerah aman, dengan lembut sehingga terlena.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata terlena dimaknai sebagai mengantuk lalu tidur; tertidur. Contoh: malam tadi ia hanya dapat terlena. Menginterpretasi makna terlena sesuai dengan pikiran saya, saya mengibaratkan seekor harimau di padang pasir sedang kelaparan dan mengintai beberapa ekor sapi sebagai mangsanya. Harimau itu pura-pura diam saat menunggu mangsanya tertidur.

Covid- 19 adalah silent literasi yakni pembelajaran yang diam namun sangat membahayakan.
Kita saat ini diintai oleh musuh besar bernama Covid, yang pada saat kita terlena ia akan masuk entah kapan, entah siapa, entah di mana, dan tidak mengenal pangkat, jabatan dan status. Ia akan menghabisi mangsanya yang tidak mau tunduk pada imbauan pemerintah dan prokes. Yakinlah bahwa menerapkan prokes saja bisa kena, apalagi jika tidak menerapkannya.

Apakah kita tidak melihat kondisi saat ini, para tenaga medis yang sudah bekerja maksimal tanpa lelah mengawal mengantisipasi penyebaran Covid-19. Begitu pun TNI dan Polri yang dengan tegas dan arif menjalankan amanah. Saya rasa masyarakat perlu mengapresiasi kerja mereka dengan cara mengikuti prokes. Kita harus percaya dan yakini bahwa Covid adalah virus yang sangat membahayakan.

Saya melihat selama pelonggaran diterapkan itu, banyak diantara kita yang terlena. Bahkan tidak pernah berpikir terhadap kesehatan kita, keluarga dan kesehatan orang lain. Hal ini terbukti di mall, di jalan raya, di pesta, di mana-mana. Masih banyak di antara mereka yang tidak sama sekali mengindahkan imbauan prokes. Hasilnya, bukannya Covid landai di daerah ini, tetapi belum ada penurunan yang signifikan. Bahkan di beberapa daerah justru semakin menjadi-jadi.

Percayalah, sehebat apapun pemerintah menangani Covid-19, jika kita tidak sadar akan imbauan prokes, niscaya Covid-19 akan leluasa menguasai daerah kita. Jangan berharap kita aman dari Covid-19 jika tidak mau mengubah mindset hidup dalam prokes yang benar. Jika kita tetap pada pendirian mau hidup seperti sebelum ada Covid, maka yakinlah musibah akan datang.

Kata “musibah” yang dimaksudkan disini adalah bencana sebagai suatu peristiwa menyedihkan yang menimpa manusia akibat kelalaian umat manusia itu sendiri. Kita biasa mengatakan peristiwa longsor misalnya diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak mau menjaga alam. Selanjutnya dengan merujuk kepada ayat-ayat Alquran ditemukan aneka musibah yang dapat menimpa manusia pada diri, keluarga, harta jiwa, dan agamanya. Selanjutnya Alquran juga mengisyaratkan bahwa musibah terjadi akibat memperturutkan nafsu (QS asy-Syura 30 dan Thaha 81), atau kebodohan manusia.

Karena itu Allah SWT memerintahkan manusia untuk selalu belajar, dan Nabi Muhammad SAW mengingatkan dalam sabdanya: ”Jadilah seorang cendekiawan, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu yang baik, atau pencipta ilmu, dan jangan menjadi yang kelima (orang bodoh), karena jika demikian engkau akan celaka.”

Kata bodoh dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau tidak dapat (mengerjakan dan sebagainya): dan tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman). Dari kedua definisi ini maka kita bisa berinterpretasi bahwa banyak diantara kita yang sudah dipahamkan tentang bahaya Covid -19 dan cara mencegahnya, namun masih banyak yang tidak mengindahkannya dan tetap bersandar pada pengetahuan atau hawa nafsunya.

Istilah bodoh dapat juga diartikan dan ditempatkan seperti dalam kalimat “Seseorang memiliki kemahiran dalam matematika, tetapi sama sekali bodoh dalam ilmu Bahasa. Saya yakin bahwa kita sepakat bahwa kita tidak mau diklaim orang bodoh, dan tetap ingin memberikan rasa aman, bahagia kepada diri kita, kepada keluarga dan orang lain. Salah satu yang perlu kita tempuh adalah menuntut ilmu, menghilangkan kebodohan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.

Hal ini menunjukkan benarnya niat seseorang dalam menuntut ilmu. Salah satu yang perlu kita lakukan dalam menyikapi itu adalah, kita tidak bisa mempertahankan pendapat kita yang menurut pandangan orang banyak, itu benar yang didukung oleh teori yang valid berdasarkan teori kebenaran ilmiah sebagai salah satu serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel. Menentukan hubungan antar variabel dimaksudkan untuk menjelaskan fenomena alamiah.

Sebagai manusia yang berpikir tentu selalu berusaha menemukan kebenaran. Caranya antara lain menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip lewat penalaran rasional, kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul.

Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur terendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri.

Oleh sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia menata pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas. Plato pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy