Opandea Kanau, Apandea Angko, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Opandea Kanau, Apandea Angko, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Tak adalagi jalan kategori rusak parah di Buton Tengah. Rusak ringan, masih. Inipun akibat pembukaan jalan baru. Jalan mulus, banyak. Panjang dan jauh. Pemukiman yang bernuansa komunal, tak ada lagi oleh karena antara satu kelompok pemukiman dengan pemukim yang lainnya sudah terakses bagus.

Dulu, komunitas masyarakat yang bermukim di satu kawasan tertentu aksesnya kebanyakan memilih laut. Oleh karena akses yang disuka via laut, menjadikan interaksi antara kelompok masyarakat terhambat. Misalnya, masyarakat Mawasangka tak mudah berinteraksi dengan masyarakat Tolandona.

Demikian sebaliknya. Kenapa, karena akses jalan yang tak nyaman. Interaksi masyarakat Baruta dengan masyarakat Lakudo juga tak gampang. Masyarakat Wambuloli, di Mawasangka Timur, lebih soe (sial) lagi. Karena akses jalan yang sulit dan “sepi” mereka tak jarang memilih membangun rumah di Mawasangka.

Pokoknya, interaksi komunal masyarakat Buton Tengah seperti Mawasangka, Mawasangka Timur, Lakudo, Lombe, Tolandona sesungguhnya lebih gampang berinteraksi di Baubau ketimbang di daerah mereka sendiri. Kenapa? Karena pintu laut dirasa lebih nyaman dan mudah.

Itu semua terjadi sebelum Samahuddin-La Ntau menjabat Bupati-Wakil Bupati Buton Tengah. Sekarang, tak lagi. Tak ada lagi hambatan dari Lakudo ke Lombe. Dari Lombe ke Tolandona via Wadiabero sudah jalan mulus dengan view yang begitu mempesona. Dari Wamengkoli ke Lakudo, di sana juga pemandangan pantai Bone Oge yang indahnya minta ampun. Dari Desa Terapung Waburense ke Mawasangka yang dulu susahnya minta ampun, sekarang sudah teraspal.

Tiga tahun kepemimpinan Samahuddin-La Ntau, Buton Tengah memang berubah. Benar-benar berubah. Saya saja kaget. Saya yang pernah ke Mawasangka, ke Lakudo, ke Tolandona, ke Baruta, ke Waburense, ke Wasilomata, ke Bombonawulu tempat benteng dan bekas Kamali (kediaman raja) kerajaan Muna masa lalu.

Dan, kini, jalannya begitu mulus dan menyenangkan dilewati. Bukan aspal tenteng tapi hot mix. Hanya kondisi jalan yang berubah? Tidak. Pembangunan di sektor lain juga berubah. Kompleks perkantoran dari kejauhan sudah Nampak bahwa daerah ini benar-benar berubah. Tetapi, perubahan pembangunan ini tak berlaku bagi mereka yang tak pernah berkunjung di kecamatan-kecamatan cakupan Buton Tengah sebelum Samahuddin – La Ntau memimpin.

Hanya itu yang berubah? Tidak. Destinasi wisatanya juga begitu maju. Aneka macam destinasi wisata, ada. Tinggal pilih. Ingin berwisata pantai ada di Bone Oge dan pantai-pantai lainnya. Ingin wisata goa?

Woow, di sana bahkan menjuluki dirinya Kabupaten 1000 goa. Mau berwisata budaya?
Woow, di sana ada bekas kediaman istana raja-raja masa lalu. Ada benteng yang viewnya juga minta ampun eloknya.

Ingin ole-ole? Alee, di sanalah pusatnya jambu mete Lombe. Hanya itu kemajuannya? Tidak. Masih banyak. Kalau ditulis di kolom ini, satu halaman koran tak cukup. 24 halaman pun jika diceritakan kemajuan Buton Tengah tak cukup. Bayangkan saja, nilai dan harga tanah pun melompat maju. Mau bukti? Lihatlah Labungkari.

Sebelum Samahuddin-La Natau, daerah ini boleh dikata daerah “tempat Jin buang anak”, sekarang sudah menjadi pusat pertemuan ruas-ruas jalan yang “merobek-robek” Buton Tengah. Tak heran, jika ke Buton Tengah, anda akan menemukan Simpang Lima Labungkari.

Kenapa begitu maju? Ternyata, ada keterpaduan perasaan antara pemimpin dan rakyatnya. Pemimpin tahu apa yang diinginkan rakyatnya, dan rakyat pun yakin dan percaya bahwa pemimpin mereka tak bakal ingkar.

Saya tahu ini tatkala Samahuddin yang berdiri di atas podium saat upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-6 Kabupaten Buton Tengah. Saat itu, Samahuddin memekikkan kalimat pendek yang penuh makna: APANDEA ANGKO, OPANDEA KANAU. Dan, saya tahu artinya karena mirip bahasa Muna yang berarti: Saya Kenal Kamu, Kamu Kenal Saya. Atau, tagline ini juga bisa diartikan, Saya Mengerti Perasaanmu, Kamu pun Mengerti Tentang Saya.

Artinya, kalau begini kejadiannya, tak salah rakyat Buton Tengah memilih pemimpin. Kalau begini kejadiannya,maka masa jabatan Samahuddin- La Ntau yang baru tiga tahun, dan masih akan berlangsung dua tahun. Kira-kira sudah diisyaratkan La Gooli ketika saya tanya dimana lokasi upacara yang saat itu saya sudah berada di tikungan Bombonawulu. Gooli? Dimana tempat upacara HUT Buton Tengah? Dia jawab: folaosaanemo (lanjut saja). (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy