Kalung Anti Virus Corona yang Over Claim – Kendari Pos
Metro Kendari

Kalung Anti Virus Corona yang Over Claim

Ketua IAI Sultra, Dra.Hj. Harmawati, Apt, M.Kes

KENDARIPOS.CO.ID — Kementerian Pertanian baru saja merilis hasil penelitian terbarunya tentang manfaat Eucalyptus. Sp (dikenal dengan minyak kayu putih). Zat ini dijadikan kalung dan diklaim mampu menjadi penangkal yang efektif terhadap virus corona. Hal ini dibantah oleh ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sultra, karena dampaknya menimbulkan persepsi yangmembahayakan Banyak masyarakat mengandalkan kalung tersebut
hingga abai terhadap protokol kesehatan.

Ketua IAI Sultra, Dra.Hj. Harmawati, Apt, M.Kes, mengutif tulisan dr. Rais Reskiawan Mahasiswa S3 University Nottingham Inggiris
menulis yang dimuat dalam media Kumparan bahwa penelitian dari tim Kementan telah melalui dua proses riset ilmiah yaitu moleculer docking (software) dan studi in Vitro. “Permasalahannya, ke dua proses tersebut masih tahap paling awal dalam studi pengembangan obat atau vaksin.Hasil penelitian ini tidak bisa langsung ditranslasi menjadi sebuah produk yang digunakan masyarakat. Sebuah penelitian membutuhkan
waktu yang tidak singkat, tahapannya pun melalui banyak proses. Setelah uji in Vitro dilanjut kan dengan In Vivo (Binatang), kemudian dilakukan lagi 3 tahapan uji Klinis, hingga efeknya terbukti Keamanannya” paparnya.

Misalnya dengan penelitian obat Stroke Contoh melalui studi in Vitro yakni ditemukan ribuan zat yang dianggap bisa mengobati stroke. Kemudian dari ribuan itu hanya 300 yang lolos uji keamanan pada manusia. Lalu dari ratusan itu tidak ada satu pun yang berhasil menunjukkan efektifitas dalam mengobati penyakit stroke pada manusia. kata dr. Rais Reskiawan. Hal tersebut menurut Harmawati, diperkuat lagi dengan analisis dari Yohanes Cakrapradipa Wibowo, Phd, dari University of heldelberg Jerman. Yakni di Asia pada tahun 1970 an Artemisinin berhasil diisolasi dari tanaman Artemisia Annua (Anuma). Artemisin terbukti bermanfaat untuk terapi malaria. Dipublikasikan pada tahun 1979 dan baru mendapat status sebagai obat terapi malaria pada tahun 2006. alasannya perlu menolak Eucalyptus sebagai anti virus corona memiliki banyakpertimbangan Diantaranya minim literatur ilmiah yang melatarbelakangi penelitian ini. Bersifat subjektif dan akan menjadi masalah dalam pengujian hopotesis ilmiah. Senyawa – senyawa sintesis murni dari herbal ini cenderung tidak stabil.

Hal yang berbahaya dalam penelitian ini adalah masyarakat menjadi abai terhadap protokol kesehatan. Padahal di masa pandemi seperti ini masyarakat harus waspada.”Mereka jadi tidak menggunakan masker, tidak menjaga jarak, tidak mencuci tangan atau menggunakan
Hand sanitiser. Karena mereka beranggapan sudah meiliki kalung anti virus.Ditakutkan dengan abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan, bisa menjadi penyebab melonjaknya angka masyarakat yang terinveksi virus corona,”pungkasnya. (lis/adv)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy