Dikbud Konawe : Belajar Dari Rumah Diperpanjang Hingga 8 Agustus – Kendari Pos
Konawe

Dikbud Konawe : Belajar Dari Rumah Diperpanjang Hingga 8 Agustus

KENDARIPOS.CO.ID — Peserta didik jenjang TK/PAUD hingga SMP sederajat di Konawe masih akan mengikuti proses belajar dari rumah (BDR) sampai 10 hari kedepan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe sudah memperpanjang pola pembelajaran di masa adaptasi kebiasaan baru itu sejak 25 Juli hingga 8 Agustus 2020 mendatang. Keputusan itu diambil setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) setempat berkonsultasi dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Konawe. Meskipun situasi daerah mulai membaik, Pemkab belum berani menyelenggarakan proses pembelajaran tatap muka di dalam kelas seperti biasa.

Kepala Dinas Dikbud Konawe, Suriyadi, mengatakan, kebijakan pembelajaran di luar kelas itu, juga merujuk kepada surat keputusan bersama (SKB) empat Menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi Covid-19. Dengan adanya penambahan waktu BDR itu, ia meminta Satuan Pendidikan di Konawe menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Entah itu lewat metode dalam jaringan (daring) dan di luar jaringan (luring). Bahkan bisa mengkombinasikan kedua metode tersebut.

“Guru dan tenaga kependidikan juga kita minta tetap melaksanakan aktivitas di Satuan Pendidikan masing-masing. Tapi harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah,” ujar Suriyadi, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (28/7). Mantan Sekretaris Dinas (Sekdis) Dikbud Konawe itu menjelaskan, memang saat ini Pemerintah Pusat sudah mewacanakan daerah berstatus zona hijau untuk melakukan proses pembelajaran tatap muka. Seharusnya, lanjut Suriyadi, Pemerintah Pusat juga bisa memberikan kewenangan kepada setiap daerah untuk mengklaster kecamatan mana saja yang boleh melakukan belajar tatap muka dalam kelas.

Sebab asumsinya, bisa jadi ditingkat kabupaten/kota memang wilayah itu masih berstatus zona merah pandemi. Namun, jika dikerucutkan di level kecamatan, nyatanya sudah banyak yang berstatus zona hijau. “Tapi itu cuma saran saja. Itu keinginan kami sebenarnya. Sehingga klaster wilayah zona merah, kuning atau hijau itu dibagi per kecamatan. Kita ambil contoh di Kabupaten Konawe. Di kecamatan Latoma, saya anggap di sana itu zona hijau. Bolehlah kita lakukan pembelajaran klasikal. Tapi kan kita belum punya dasar melakukan itu,” ungkapnya.

Suriyadi tak memungkiri, sebagian orang tua siswa di Konawe mulai mengeluhkan sistem pembelajaran lewat metode daring. Selain harus merogoh kocek tambahan untuk menyediakan paket data internet bagi anaknya, para orang tua tersebut khawatir putra-putrinya terkekang akibat interaksi dengan lingkungan sekitarnya yang terus dibatasi. “Tapi lagi-lagi kita diperhadapkan dengan pertanyaan dilematis. Mau pintar atau mau sakit. Itu jadi pertimbangan kami lagi. Intinya, perpanjangan atau penghentian proses BDR itu tetap kita koordinasi dengan Tim Gugus Covid-19 Konawe,” pungkas Ketua PGRI Konawe itu. (b/adi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy