Belajar Kesederhanaan dari Seorang Kery Saiful Konggoasa, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Belajar Kesederhanaan dari Seorang Kery Saiful Konggoasa, Oleh : Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Suatu malam, gawai saya berdering. Kawan baik saya mengajak untuk bertemu dan diskusi bersama seseorang bernama Kery sekira pukul 19.00 Wita. Saya tidak tahu Kery siapa yang dimaksud, saya hanya mengatakan siap, dan kebetulan saya berada di Unaaha,Kabupaten Konawe. Karena tidak tahu Kery siapa maka saya balik bertanya, ternyata yang dimaksudkan adalah Bupati Konawe. Mendengar ajakan itu, saya bergegas ingin berdiskusi berbagai informasi yang saya dengar tentang sosok Kery, maka menunggu lah saya di Unaaha hampir 3 jam dengan maksud langsung ke rumah jabatan (Rujab) Bupati. Ternyata saya keliru. Acaranya diadakan di rumahnya. Saya tanya alamat rumah Pak Kery di Unaaha selain rujab. Rata-rata masyarakat menyebut di Pondidaha, di ranch sapi beliau atau di rumah saudara-saudaranya.

Kami lalu menelusuri jalan di Kecamatan Wonggeduku hampir setengah jam menuju ke ranch sapi. Di tempat itu, saya tidak melihat bangunan yang wah. Saya melihat satu ruangan yang sangat sederhana tempat Pak Kery keluar masuk dan mungkin itulah tempatnya beraktivitas.
Cerita dan bercerita justru saya kaget ternyata banyak orang yang berdatangan. Saya dan beberapa teman menemui beliau. Melihat kedatangan kami, beliau menerima kami sembari mempersilakan tamunya yang lain. Kami dipersilakan duduk. Saya mengamati ratusan orang yang saya tidak tahu dari mana orang yang sebanyak itu, walaupun diguyur hujan deras dan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Dengan ramah, Pak Kery berjalan menyalami tamunya satu persatu dengan salam khas Namaste. Kawan saya yang tahu persis watak pak Kery mengatakan kalau bukan karena Covid-19, ribuan orang akan berdatangan. Saya mengamati sepintas. Ternyata karisma dan kesederhanaan tampak di pada sosok seorang Kery. Bayangkan saja, orang nomor satu di Kabupaten Konawe hanya menggunakan sandal jepit sebagai pengalas kaki, dan kostum seadanya. Dengan tampilan sederhana itu, dia menerima tamu. “Maaf saya begini apa adanya,”ujar Kery sembari mengajak kami makan.

Ketika tamu-tamunya sedang makan, tak sungkan dihampiri dan disapa penuh persahabatan. Itulah sosok seorang Kery, kata teman saya. Beliau adalah pemimpin yang ikhlas. Melihat latarbelakang beliau, mungkin orang yang pertama kali melihat tidak mengira kalau beliau seorang bupati. Beliau mengajarkan memiliki prinsip, bagi beliau adalah bisa membuat anak-anaknya pintar. “Beliau itu orangnya humble, pembawaanya yang sederhana, sangat mudah bergaul sama masyarakat. Beliau bupati tapi tidak malu ketika berkumpul bersama masyarakat. Cerdas, beliau juga tegas, tapi dengan ketegasan beliau kita nyaman dan penjelasan beliau ketika menerangkan kebijakan jelas mudah dipahami. Kelebihan beliau adalah sangat paham betul tentang apa yang ia tahu,” ujar salah seorang tamu.

“Beliau itu orang yang banyak tahu tapi tidak sesuai dengan gaya beliau yang sederhana, dan mungkin orang yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa beliau orang yang alim. Beliau orang yang tidak neko-neko, cara mnejelsakan juga mudah dipahami,” sahut salah seorang tamu lainnya yang hadir malam itu.

Mmelihat kesederhanaan seorang Kery, saya teringat sebuih teori yang dikemukakan Jim Collins dalam Good to Great bahwa prinsip kesederhanaan yang ternyata berperan besar dalam kemajuan perusahaan. Syarat nomor satu bagi sebuah perusahaan yang ingin menjadi hebat adalah: memiliki pemimpin yang sederhana.

Kesederhanaan adalah properti, kondisi, atau kualitas ketika segalanya dapat dipertimbangkan untuk dimiliki. Kesederhanaan biasanya berhubungan dengan beban yang diletakkan sesuatu pada seseorang yang mencoba untuk menjelaskan atau memahaminya. Dalam filsafat kesederhanaan adalah kriteria meta-ilmiah yang bertujuan untuk mengevaluasi sesuatu. Konsep sejenis tentang parsimony juga digunakan dalam filosofi ilmu pengetahuan yang merupakan penjelasan atas suatu fenomena yang kurang penting dianggap memiliki nilai yang lebih superior dibanding fenomena yang lebih penting.

Parsimony adalah penghematan. Sayangnya ada diantara pemimpin menerapkan parsimony yang kelewatan. Seharusnya menjadikan masalah menjadi sederhana. Bukan menyederhanakan masalah. Jim menulis hasil riset yang diamati selama lima tahun terhadap yang menjadi jawara selama 15 tahun di dekade 90-an. Jim menulis resep untuk menjadi pemimpin hebat adalah pemimpin tingkat 5 yakni bauran paradoksal dari kerendahan hati pribadi dan kemauan professional.

Mereka menunjukkan kesederhanaan yang menimbulkan kekaguman, tidak menonjolkan diri dan mengecilkan peran pribadi. Sebaliknya, 2/3 perusahaan yang biasa-biasa saja memiliki pemimpin dengan ego pribadi yang sangat kuat dan melupakan kepentingan perusahaan. Saya berpikir bahwa Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa yang menakhodai Konawe setelah memenangkan Pilkada 2013 dan Pilkada tahun 2018 memang pantas karena kesederhanaannya. Selama kepemimpinan Kery, pembangunan, kesehjateraan, dan keamanan di Konawe sangat signifikan.

Saya tertarik mengamati kesederhanaan karena berdasarkan filosofi yakni “atas suatu fenomena yang kurang penting dianggap memiliki nilai yang lebih superior dibanding fenomena yang lebih penting“ maka kita akan jadikan rujukan bahwa keberhasilan dan kesuksesan seseorang kadang belum tentu karena penguasaan teknologi tinggi, lulusan universitas terkemuka, kemenarikan user interface (baca: tampan atau cantik), kewibawaan, kejeniusan, kepandaian, atau karena atribut-atribut hebat dan keren yang lain, semua itu bukan jaminan.

Tetapi banyak jalan yang perlu kita jadikan rujukan tergantung kreativitas dan kegigihan individu (Kata Romy Satria Wahono). Kreativitas menghasilkan produk yang diakui dan bermanfaat untuk masyarakat harus terus diasah, ini sering saya sebut keunggulan defacto dejure. Sekolah setinggi mungkin juga penting karena ini adalah keunggulan dejure. Jadi keunggulan defacto dan dejure adalah termasuk faktor keberhasilan. Targeting untuk menjadi seorang specialist yang mumpuni harus terus dikejar, karena di era ke depan semakin sedikit wilayah kerja untuk kaum generalist (ngerti banyak hal tapi hanya kulit-kulitnya).

Tapi jangan lupa juga bahwa kita harus menjadi seorang specialist yang punya kemampuan verbal dan bisa “menjual” dan “bernegosiasi” dengan orang lain tentang produk dan keunggulan kita. Specialist semacam ini yang sering disebut dengan vertatilist (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif.

Demikian juga kegigihan dan kejelian kita mengubah suatu kesederhanaan dan bahkan kelemahan atau kekurangan, menjadi sebuah kekuatan adalah kunci keberhasilan. Jangan minder, jangan rendah diri dan jangan hiraukan ejekan orang lain hanya karena kita sekolah di universitas yang tidak terkemuka ataupun di universitas kecil yang ada di kota kecil. Toh Linus Torvald yang bukan lulusan Standford University atau MIT berhasil membuktikan bahwa Linux dapat menjadi sistem operasi andal dan terkenal, bahkan mengalahkan kampiun sistem operasi dunia Prof. Andrew S. Tannenbaum yang sebelumnya membuat Minix.

Kehadiran seorang Kery sebagai orang nomor satu di Konawe membawa dampak yang signifikan terhadap peningkatan kehidupan masyarakat bukan hanya masyarakat Konawe tetapi berbagai jenis masyarakat dari penjuru tanah air, bersatu, menyatu mencari peningkatan kehidupan dengan satu visi membangun Konawe yang lebih baik untuk mewujudkan Konawe Gemilang. (bersambung).

Penulis : Guru Besar FKIP UHO.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy