Pendidikan Mencari Bentuk Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Pendidikan Mencari Bentuk Oleh: Prof. Hanna

Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Masalah Covid-19 belum ada kepastian kapan berakhir. Akhir-akhir ini kehidupan normal (new normal) digaungkan yang penerapannya tetap memperhatikan protokol kesehatan. Di lain pihak, masyarakat sudah menanti datangnya normal agar perekoniman bisa kembali normal, namun tanda-tanda itu semakin membingungkan pemerintah untuk mengambil langkah pasti.
Semua berbicara hebat berargumentasi dalam pendekatan penangan Covid-19, namun kenyataannya belum ada yang tepat, kecuali protokol kesehatan. Pendidikan berada dalam persimpangan jalan.

Sebelumnya, banyak yang menyoroti pemerintah tentang belajar di rumah. Banyak siswa yang merasa bosan. Banyak orang tua yang mengeluh, namun akhir-akhir ini saat pemerintah ingin memberlakukan new normal, kembali lagi berbondong-bondang memrotes agar sekolah jangan dibuka karena kekhawatiran tentang penularan Covid sebagaimana yang terjadi di beberapa negara, yang telah membuka kesempatan untuk belajar ternyata menimbulkan kasus baru.

Pengalaman itulah yang menjadi pijakan yang menolak sekolah dibuka dalam waktu dekat kkKarena kesiapan sekolah dan orang tua mengubah perilaku kehidupan anak sesuai protokol kesehatan susah dijamin. Mereka akan berkumpul seperti biasanya, meskipun pembagian shift dan pengurangan jumlah dalam kelas diterapkan, dan sekolah sudah membuat alat pelindung diri (APD) masing-masing. Kekhawatiran itu tetap akan ada, kecuali jika anak-anak betul menyadari pentingnya menerapkan protokol kesehatan itu, tetapi siapa yang menjamin?

Dalam kehidupan yang serba kompleks saat ini, pola berfikir positif merupakan alternatif untuk menjadikan anak didik termotivasi belajar. Jika pola pikir yang siap unggul dalam menghadapi kompleksitas dan kerumitan yang akan muncul pada masa mendatang, menjadi bekal penting bagi setiap individu sebagai syarat cukup agar seseorang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan juga berperilaku yang baik pula.

Pola pikir positif akan memudahkan dalam implementasi setiap materi pembelajaran yang diperlukan oleh para pembelajar (pelajar dan mahasiswa) melalui orang tua. Orang tua harus mampu bertransformasi dan beradaptasi terlebih dahulu, sehingga orang tua mampu menjadi pendamping atau motivator perubahan bagi anak-anaknya di rumah.

Sistem pendidikan sekarang dalam pandemik ibarat berada dalam persimpngan jalan, artinya belum adanya tanda-tanda yang pasti sistem yang akan digunakan terkait kemajemukan masyarakat pelaku dan objek pendidikan, yang ada hari ini adalah masyarakat sebatas masih memahami dalam bentuk konseptual berisi argementasi pasar sebagai konsekuensi dari kebijakan sistem pemerintahan Indonesia yang berpihak pada penggunaan teknologi termasuk dalam praktek pemerintah, berimplikasi pada semua lini kehidupan bangsa Indonesia.

Kebijakan pendidikan yang banyak menggunakan teknologi ini memang sangat merisaukan karena akan mengubur impian mobilitas kelas sosial dan tatap muka untuk memperbaiki kelas sosialnya. Melalui sistem ini, maka yang bisa diserap dalam lingkungan pendidikan adalah mereka yang memiliki kemampuan finansial yang cukup, sedangkan yang kurang akan termarjinalkan dan yang paling terkena dampak adalah masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Belum seragamnya proses pembelajaran, baik itu terkait standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan hingga saat ini masih menjadi sebuah problematika besar di dunia pendidikan. Apa yang menjadi kekhawatiran kita dalam kondisi ini jika pendidikan tidak dikelaloh secara baik dan terukur. Dengan kata lain, jika pelaku dunia pendidikan tidak bertindak dengan cepat dan tepat, maka ketidaksetaraan fasilitas pembelajaran yang meliputi konektivitas internet dan peralatan komunikasi seperti laptop atau smartphone akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin tajam.

Terkait dengan itu, Arga Sumantri 24 April 2020 menulis pernyataan Rektor Telkom University Adiwijaya menyatakan pandemi virus korona (covid-19) mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam keseharian individu dan aktivitas masyarakat, membawa dampak perubahan yang luar biasa untuk semua bidang. Salah satunya bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keniscayaan.

Menurutnya, sekira 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah pun ‘dipaksa’ untuk melakukan pembelajaran dari rumah. Adiwijaya menjelaskan disrupsi teknologi terjadi di dunia pendidikan, pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan 100 persen di sekolah, secara tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis.

Tak bisa dipungkiri di atas 50 persen pelajar dan mahasiswa berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Adiwijaya memahami, semua orang tua berharap anaknya menjadi orang yang terpelajar atau terdidik dengan baik. Persoalan-persoalan yang akan muncul di masa depan bisa dipastikan akan bertambah kompleks dan rumit. Seorang yang terdidik, dicirikan dengan sudut pandang yang lengkap, dan prilaku baik dalam menghadapi berbagai masalah.

Masa pandemi ini menjadi sebuah peluang untuk menyadarkan setiap orang tua bahwa beban pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan pada guru/dosen semata. Pembelajaran sesungguhnya merupakan proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jika hal seperti ini peran orang tua dan sekolah perlu duduk bersama untuk merancang sebuat sistem pendidikan anak-anak.

Sekolah tidak bisa hanya dengan memberikan tugas dan orang tua juga tidak bisa hanya menyuruh anak-anak mengerjakan tugas dari guru. Orang tua yang menjadi mentor dan pendamping di rumah merupakan role model perubahan sikap bagi siswa dalam berperilaku dan menghadapi permasalahan saat ini. Orang tua harus mampu belajar kembali bersama anak-anak di rumah. Sekaligus, menanamkan pola berpikir yang positif sehingga menghadapi pandemi ini sebagai sebuah pola hidup baru yang harus dibiasakan untuk dijalani.

Suatu renungan dari–Zig Ziglar mengapa pola pemikiran positif kita jadikan rujukan dalam kondisi pandemik ini karena “berpikir positif akan membiarkan anda melakukan segala sesuatu lebih baik daripada berpikir negatif.” Saat kamu bisa selalu berpikir positif, kamu akan lebih mampu melakukan segala hal dengan baik. Pikiran memberikan dampak yang sangat besar bagi tindakan. Kemudian, tindakan akam mempengaruhi hasil yang diterima. Ketiganya memiliki kesinambungan yang diawali dengan pikiran positif. Nah, apabila kamu ingin mendapatkan hasil yang memuaskan, awali dengan berpikir positif. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy