Pejabat Screening Itu Gagap, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Pejabat Screening Itu Gagap, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.COL.ID — Zaman saya dahulu hingga zaman saya sekarang, berbicara untuk merubah Pancasila itu “haram”. Takut. Dan, kalau menjadi konsumsi berita, pasti: heboh. Takut karena hormat. Segan karena merasa berdosa. Pokoknya, rasa takut, segan, dan tidak sampai hati bercampur baur. Jangan sampai dianggap merubah ideologi negara.

Tapi anehnya, ketika sekelompok orang, hanya karena bekerja atas biaya negara, lalu membicarakan untuk merubah Pancasila kok tak punya rasa takut, tak segan, dan tak ragu dianggap merongrong ideologi bangsa. Aneh saja.

Saya kira, seluruh warga bangsa sepakat bahwa, ketika membicarakan untuk merubah ideologi Pancasila pasti heboh. Pasti menguras dan memaksa perhatian warga bangsa untuk terlibat aktif mendiskusikannya. Singkat kata, energi akan terkuras dan pikiran akan tercurah di diskusi tentang rencana perubahan ideologi itu yang sekarang dikenal dengan RUU HIP.

Nah, jikalau semua tahu bahwa RUU ini akan menyita perhatian warga bangsa, lalu kenapa hal itu harus dimunculkan? Saya berpikir, jangan sampai hal ini untuk mengalihkan perhatian. Nah, kira-kira, masalah apa yang lebih serius dihadapi bangsa ini hingga perhatian seluruh warganya dirancang untuk dialihkan?

Tapi, kayaknya tidak. Tapi, jangan sampai benar bela. Ah, ndak mungkin. Ndak ada yang namanya pengalihan. Ini semata-mata hanya keinginan dalam rangka tegaknya ideologi bangsa.

Tapi, jangan sampai memang pengalihan isyu. Oleh karena siapapun tahu bahwa, untuk mengalihkan perhatian seluruh warga maka buatlah sesuatu hal yang bisa membuat setiap warga, dipanggil atau tidak dipanggil, sadar atau tidak sadar, akan larut dalam diskusinya nanti.

Nah, tepat: RUU HIP contennya. Artinya, anda sudah tahu bahwa hal ini akan mendapat penolakan di mana-mana, dan mungkin juga anda tahu bahwa hal ini tak bakalan lanjut, lalu kenapa tetap mengambil langkah itu?

Dua kemungkinan penyebabnya: Satu, kalian sudah kuat dan yakin mampu menggolkannya. Dua, kemungkinan memberlokkan perhatian. Coba kita berandai-andai. Kita coba melemparkan kemungkinan untuk screening ulang bagi setiap calon aparatur negara. Kira-kira, “lemparan” ini pun akan melahirkan reaksi pro kontra. Dan, mungkin juga akan seru.

Bertolak dari fenomena yang acap kali kita dipertontonkan oleh sebagian aparatur negara, sesungguhnya screening bagi setiap calon aparatur negara ini penting. Tengoklah beberapa anekdot ini. “Interupsi pimpinan?” Silakan. Dia angkat telunjuk lalu berkata: “Elloka teeme”. Lalu ia keluar ruang sidang menuju kamar kecil.

“Interupsi pimpinan?” Silakan. “Pembahasan Alat Kelengkapan Dewan sebaiknya dipercepat, karena ruangan saya panas sekali. Belum ada horden dan AC-nya”. Kenapa buru-buru? “Mohon maaf kasian, hari ini ada Sidang Purnama. Sekarang giliran juru bicara Komisi C. Silakan. “Terima kasih pimpinan, pendapat Komisi C, sama dengan Komisi B. Demikian assalamu alaikum wr wb.”

Apa solusinya untuk menghindari ini? Ya, mungkin screening perlu dihidupkan kembali dalam rangka terciptanya aparatur negara yang profesional, handal, dan bersih dari niat merongrong kedaulatan bangsa.

Tapi, teringatlah cerita adanya seorang pejabat screening yang gagap. Entah benar atau tidak cerita ini, tapi yang pasti, cerita itu diceritakan. Pejabat litsus yang gagap itu sedang mewawancarai seorang calon PNS. Kira-kira begini dialognya: “A a andaikata I i in Indonesia ini, did did dijajah kembali o oleh beb beb Belanda dan o o orang orang beb beb berani yang pup punya badik sudah lari. Bab bab bagimana sis sis sikap sodara?

Belum selesai bicara sudah dijawab: “Salari” (kebetulan yang discreening cerewet dan cepat bicaranya). Kek kek kenapa kolari? “Sedangkan orang berani dan ada pisonya sudah lari, apalagi saya. Ses ses sekarang pertanyaan kek kek kedua. “Ses ses sebutkan salah satu anggota kek keluargamu yang tet tet terlibat PKI?” “Tttada” (Saking cepatnya menyebut TIDAK ADA akhirnya bunyi: Tttada. “Sas sas satu saja”. Tttada. “Ah, mh mh mmasa?” “Yo tia ada”.

Artinya apa? Artinya, cerita anekdot masa lalu tentang screening memang mengutamakan pentingnya nasionalisme dan kedaulatan bangsa. Dan, apakah hasil dari orientasi berpikir seperti itu memberikan hasil yang positif atau justru sebaliknya? Oleh karena perkembangan zaman dan peradaban dalam dua dekade terakhir, rasanya cukup untuk kita mereview bahwa yang baik sempurnakan, yang jelek perbaiki, yang kurang dilengkapi, dalam rangka kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang harmonis dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy