New Normal Aspek Politik, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

New Normal Aspek Politik, Oleh : Prof. Eka Suaib

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib


KENDARIPOS.CO.ID — Konsep new normal life diperbincangkan tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Konsep ini tak hanya diberlakukan di negara kita karena merupakan konsep dari badan kesehatan dunia WHO. Dalam konsep new normal WHO ini aktivitas hidup akan dikembalikan pada kondisi sebelum terjadinya Covid-19.

Kebijakan PSBB, atau karantina wilayah telah menyebabkan berbagai aspek kehidupan ikut terdampak. Selain banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan kesulitan makan, berdiam diri di rumah juga memunculkan dampak psikologis yang tak kalah beratnya. Aktivitas perkantoran, sekolah, bisnis dihentikan. Aktivitas masyarakat, dengan mengumpul orang dalam jumlah banyak, juga dilarang.

Melalui new normal, maka setiap sektor kehidupan dipandu melalui protokol kesehatan. Bagaimana normal baru dalam aspek politik? Jika dikaitkan dengan kebijakan selama ini, maka yang perlu diatur adalah jarak fisik. Soalnya, dalam aktivitas politik, pasti melibatkan banyak orang. Karena itulah, dengan konsep new normal perlu betul-betul untuk didetailkan agar tidak menimbulkan masalah baru.

Melalui Perpu No.2/2020 menyebut pemungutan suara Pilkada pada Desember 2020. Jika dihelat Desember 2020, maka pada bulan Juni tahapan pilkada sudah harus jalan. Berdasarkan tahapan yang ada, saat ini yakni tahapan pencocokan dan penelitian verifikasi dukungan pencalonan bakal calon perseorangan. Dengan metode apa penyelenggara akan lakukan? Berdasarkan regulasi, maka sensus yang benar. Tidak mungkin dengan penarikan sampel, karena mengingkari regulasi. Ubah regulasi?

Pada saat pendataan pemilih, berdasarkan pengalaman pilkada sebelumnya, petugas mendatangi rumah warga. Apakah situasi sudah kondusif ?. Soalnya, sudah hampir 3 bulan, orang ‘enggan’ untuk dikunjungi, kecuali hal yang sangat urgen. Tahapan lain, seperti kampanye. Selama ini, banyak bentuk kampanye, salah satunya kampanye akbar. Pasti mengumpul banyak orang. Demikian juga pada tahapan pemungutan dan penghitungan suara, dan rekapitulasi penghitungan suara.

Cara berpikirnya sederhana. Pada situasi sekarang ini, prioritas orang adalah adalah menjaga kesehatan dan menata ekonomi keluarga. Jaga kesehatan, yakni jarak fisik, karantina, gunakan masker. Selanjutnya, setelah semua sudah kokoh, maka pelan-pelan membangun ekonomi rumah tangga yang porak poranda akibat pandemik ini.

Pada situasi seperti itu, lalu mereka diharapkan datang untuk menghadiri kampanye, pemungutan suara dan penghitungan suara. Dimana logikanya? Apakah mereka punya kemauan untuk menghadirinya? Apalagi, selama ini, sudah begitu masif imbauan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah. Ini sudah menjadi budaya baru bagi sebagian besar orang. Jika tidak didiskusikan secara mendalam, jangan-jangan pilkada yang dilaksanakan di 270 daerah di seluruh Indonesia dapat menjadi pusat episentrum baru penyebaran Covid-19.

Belum lagi, pada situasi sekarang ini, sangat menguntungkan petahana. Punya kesempatan untuk bertemu dengan rakyat, bagi-bagi bantuan sosial (Bansos), menyiram disinfektan, bagi-bagi masker. Gratis. Jadi, wabah pandemik, menguntungkan petahana. Para ilmuwan politik menyebutnya dengan pork barrel. Yakni pemanfaatan program-program sosial melalui personalisasi program. Artinya, ada klaim bahwa program yang dikucurkan merupakan milik pribadi. Dalam situasi pandemi, tak boleh ada yang bermain di air keruh. Semua spektrum kepolitikan harus berorientasi politik kemanusiaan. Maka, new normal tak boleh ditunggangi oleh kontestasi yang tidak seimbang.

Sehubungan dengan upaya untuk menjamin tertib politik, maka mental baru juga perlu ditumbuhkan. Parpol sudah perlu berbenah untuk mempersiapkan lembaganya pada tatanan baru juga. Pembaharuan parpol pada segala aspek kiranya menjadi agenda penting. Pendidikan politik secara masif sudah perlu dilakukan. Penggunaan media sosial (Medsos) dan media virtual lainnya kiranya menjadi saluran alternatif baru. Karena itu, mendekati pemilih tidak lagi memadai dengan pola konvensional.

Bagi penyelenggara pemilu, pada semua level, perlu untuk menjaga trust (kepercayaan). Pelaksanaan pilkada akan menghadapi tantangan baru. Penyelenggara ingin melaksanakan seluruh tahapan, tetapi saat bersamaan juga menjaga keselamatan penyelenggara, pemilih, dan peserta kontestasi.

Penggerak dari hal tersebut yakni komitmen untuk menyelenggarakan perhelatan pilkada dengan berpegang teguh pada azas pemilu. Akhirnya, perlu ditanamkan kesadaran bahwa pada situasi apapun juga, peradaban politik perlu tetap dijaga. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy