Kolut Waspada Bencana : 14 Wilayah Rawan Diterjang Tsunami Besar – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Kolut Waspada Bencana : 14 Wilayah Rawan Diterjang Tsunami Besar

KENDARIPOS.CO.ID — 32.900 hektare wilayah pesisir Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) yang membentang dari utara hingga selatan berpotensi diterjang bencana tsunami dengan tingkat kerawanan tinggi. Selain itu, teritorial di gerbang utara Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berkontur perbukitan dan gunung tersebut juga diintai gempa dan fenomena likuifaksi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolut, Hj. Syamsuryani, menjelaskan, ketiga potensi bencana alam di Bumi Patowonua itu berdasarkan hasil kajian kerja sama Research and Empowerment Institute (RESYS), Pemprov dan BPBD Sulawesi Tenggara sebagai laporan akhir 2019. Ancaman gempa bumi potensi mengundang tsunami dan likuifaksi. “Ini buku hasil kajian yang baru kami terima. Informasi ini penting untuk kita semua agar berjaga-jaga dan memikirkan langkah antisipasi,” ujarnya, Senin (29/6).

Syamsuryani memaparkan, potensi tsunami itu didukung geomorfologi pendaratan rendah, riwayat gempa di bawah permukaan laut dan interpretasi, bahwa evolusi tektonik Teluk Bone hingga sekarang bisa saja masih berlangsung. “Memang terdapat cabang rute pergerakan lempeng Palu Koro yang memanjang ke teluk. Namun sejauh ini dianggap tidak aktif. Tapi kejadian gempa di Palu saat itu, guncangannya sangat dirasakan warga Kolut hingga semua bangunan bergoyang,” tuturnya.

32,9 ribu hektare kawasan yang masuk daerah potensi terdampak tsunami dengan tingkat potensi tinggi tersebut mencakup beberapa desa dan kelurahan, yakni Lasusua, Lambai, Rante Angin, Wawo, Katoi, Kodeoha, Tiwu dan Watunohu. Enam kecamatan lainnya yang separuh desanya potensial yakni Ngapa, Pakue, Pakue Tengah, Pakue Utara, Batu Putih dan pesisir Tolala. “Puluhan desa dengan tingkat kerawanan tinggi 10,42 persen,” bebernya.

Terkait potensi likuifaksi, peneliti mengambil 10 lokasi sampel tanah pada sejumlah kecamatan. Tiga diantaranya merupakan karekteristik tanah berbeda. “Untuk potensi likuifaksi ini tergolong rendah,” ucapnya. Para peneliti memandang pentingnya keberadaan mangrove dalam bentuk hutan bakau sebagai sabuk hijau alam (green belt) guna menekan pergerakan hantaman gelombang air laut sampai ke daratan. Alat deteksi bawah laut juga dianjurkan terpasang di perairan, seperti BUOY tsunami dan Cable Based Tsunameter (CBT). “Beruntung pekan lalu alat deteksi gempa sudah kami terima dari pusat,” aku Syamsuryani.

Selain itu, Pemkab sudah harus merencanakan dan mengintegrasikan jalur dan tempat evakuasi ke dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan. Pemanfaatan ruang sempadan di pantai perlu dikendalikan melalui peraturan zonasi dan implementasinya dalam perizinan pembangunan. Lima anjuran lain peneliti yakni terkait memperkuat struktur bangunan di wilayah rawan terdampak bencana baik longsor dan lainnya hingga meminimalisasi kerusakan lingkungan pesisir. (b/rus)

Daerah Berpotensi Terdampak Tsunami Tingkat Tinggi :

  • Lasusua
  • Lambai
  • Rante Angin
  • Wawo
  • Katoi
  • Kodeoha
  • Tiwu
  • Watunohu.
  • Elam Kecamatan Lain yang separuh desanya potensial :
  • Ngapa
  • Pakue
  • Pakue Tengah
  • Pakue Utara
  • Batu Putih
  • Pesisir Tolala
  • Potensi likuifaksi :
  • Peneliti mengambil 10 lokasi sampel tanah pada sejumlah kecamatan.
  • Tiga diantaranya merupakan karekteristik tanah berbeda.
  • Ancaman likuifaksi tergolong rendah
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy