Insipirasi La Ode Arif Mudianto : Dari Kaledupa, Berleluhur Muna Sukses di Tanah Bogor – Kendari Pos
Edukasi

Insipirasi La Ode Arif Mudianto : Dari Kaledupa, Berleluhur Muna Sukses di Tanah Bogor

KENDARIPO.CO.ID — Tak gampang menembus perguruan tinggi di tanah Jawa. Tapi, Ir. Arif Mudianto MT membuktikan itu. Ia kini dipercaya sebagai Direktur Kemahasiswaan Universitas Pakuan (Unpak). Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Rektor.

Memang, tak gampang mendapat pengakuan dan merebut kepercayaan di universitas bergengsi. Posisi Arif Mudianto saat ini ia sandang setelah sebelumnya melewati 5 (lima) jabatan struktural di kampus. Awalnya ia menjabat Sekretaris Jurusan Teknik Sipil, lalu Pembantu Dekan. Sukses sebagai Pembantu Dekan, ia dipercaya menjabat Kepala Pusat Penelitian Pengembangan Wilayah dan Lingkungan Hidup. Dan, ketika dianggap sukses di jabatan ini, Arif dipercaya untuk menduduki jabatan Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya, Iptek

dan Energi Terbarukan. Dari sini ia diangkat menjadi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan yang selanjutnya menjabat Direktur Kemahasiswaan Unpak.

Hanya itu alasannya hingga mendapatkan pengakuan terhormat di Unpak? Bukan. Sebagai syarat di internal kementerian pendidikan tinggi, Arif Mudianto telah menyelesaikan 16 makalah atau jurnal. Disamping itu, 8 penelitian ilmiah yang dipublish pun telah dilakukannya.
Itu saja? Oh, tidak. Sesungguhnya Arif telah mengikuti 22 pertemuan ilmiah baik di kampus maupun luar kampus. Baik itu di lingkungan kementerian pendidikan, struktur pemerintahan,

maupun lintas departemen. Pokoknya, pertemuan ilmiah lintas departemen yang mengambil angle keteknikan tentunya.
Yang tak kalah gengsi, alumni S1 Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan S2 UGM ini, ternyata juga dipercaya sebagai Tenaga Ahli Teknik pada pekerjaan 47 jenis proyek lintas

departemen yang tersebar Sabang-Merauke. “Saya dipercaya begini bukan karena keilmuan semata-mata. Tanpa kejujuran dan konsistensi, ilmumu ndak ada apa-apanya. Di Jawa,

termasuk di Bogor ini banyak orang pintar dari aspek ilmu manapun. Tapi, konsistensi dan loyalitas jangan sampai dikesampingkan,” tutur putera Wakatobi ini. (yog/adv)

Saya Berhak Menyandang Nama La Ode

Di kalangan teman-teman semasa kuliah di Yogyakarta, Arif Mudianto tak dianggap sebagai anak luar Jawa. Ya, ini karena nama yang berbau Jawa. Tapi, di kalangan teman-teman sesama anak Sulawesi Tenggara, Arif Mudianto dikenal sebagai anak Buton yang berasal dari Kaledupa.

Ketika Kabupaten Wakatobi terbentuk, jadilah Arif Mudianto sebagai anak Wakatobi. Anggapan teman-teman sesama anak Sultra terhadap Arif ini, berlangsung hingga Arif menamatkan pendidikan Sarjana di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pasca ini, Arif seolah “menghilang”dari komunikasi sesama alumni.

Muncul-muncul, Arif Mudianto ternyata sudah jadi orang sukses di Bogor. Ini juga diketahui melalui jejaring sosial. “Saya sengaja tidak memproklamirkan diri. Biarkan saya dianggap sebagai orang luar Sulawesi,” tutur Arif.

Kepada Kendari Pos, Arif Mudianto mengaku bahwa dirinya sesungguhnya “asli” anak kepulauan. “Ibu saya blasteran Wolio-Kaledupa. Kakek dari ayah saya orang Wakuru. Ini kami ketahui setelah membuka-buka dokumen ayah saya setelah meninggal belum lama ini di Jakarta. Kita buka-buka dokumen, ternyata banyak sepupu ayah saya di Wakuru. Jadi, saya ini bisa dibilang orang Muna, orang Wakatobi juga orang Buton. Nenek saya dari ibu bahkan orang dalam keraton. Ayah saya juga ternyata La Ode. Jadi, sesungguhnya saya berhak menyandang nama La Ode. Hanya karena nama saya berbau Jawa, akhirnya orang-orang menganggap saya sebagai orang Jawa,” tuturnya.

Dengan penjelasan ini, La Ode Arif Mudianto mewanti-wanti untuk tidak dikait-kaitkan dengan misi politik. Ia mengungkap ini semata-mata agar generasi Sultra terinspirasi bahwa tidak sedikit anak Sultra yang eksis di rantau orang. “Itu saja yang saya ingin utarakan. Jangan dikaitkan dengan misi politik. Apalagi, Wakatobi misalnya, saat ini kan sedang menggelar Pilkada. Jadi, ndak mungkinlah dikaitkan dengan politik. Pentas politik di Kota Baubau juga masih lama. Demikian pula dengan Sultra misalnya. Sekali lagi, ini hanya untuk inspiring generasi,” katanya.

Walau begitu, ia akui jika segala aspek kesuksesan, acap kali direcoki dengan persoalan politik. Kampus pun demikian. Hanya, bagi kampus yang ingin tampil profesional dan diakui publik, maka keprofesionalan menjadi mutlak dilakukan. “Saya dipercaya di Unpak, karena keprofesionalan tadi. Soal politik, mungkin saya akan bersedia suatu ketika nanti, jika tak di kampus lagi. Tapi kan, usia pensiun saya masih lama. Sebagai orang eksak, tentu saya juga punya hitungan-hitungan. Ya, nantilah kita lihat. Kan, dalam politik itu ada hak masyarakat.

Kalau ternyata masyarakat wellcome, kenapa tidak. Sory, ini intermeso. Sekali lagi, saya hanya ingin petiklah inspirasi jika anda anggap mengispirasi. Jika tidak, anggap saja sebagai informasi biasa. Sederhana kan?,” ujarnya. (yog/b)

Prestasi:

22 pertemuan ilmiah

-16 Makalah/Jurna
-l
8 Jenis Penelitian yang Dipublikasi

-Pengalaman Proyek di 47 Jenis Proyek dengan Kualifikasi Tenaga Ahli Teknik Jalan Madya

-6 Jabatan Struktural

Pendidikan

-SDN 3 Baubau

-SMPN 2 Kendari

-SMA 1 Kendari

-S1 Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

S2 Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy