Homo Mechanicus dan Residivis, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, S.Psi – Kendari Pos
Opini

Homo Mechanicus dan Residivis, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, S.Psi

Muhammad Radhi Mafazi,
Pembimbing Kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Baubau

KENDARIPOS.CO.ID — Hikmah kehidupan bisa kita ambil dari siapa saja, dari perjuangan manusia yang telah bertobat setelah melalui jalan yang sesat maupun dari ribuan kilah manusia yang memilih terus menerus berada di jalan kesesatan. Seperti hal nya, contoh manusia berikut ini. Sebut saja RO, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus pencurian, sudah berulang kali keluar masuk Lapas. Seoalah baginya hotel rodeo sebagai rumah kedua. Kepercayaan negara dengan pemberian hak ber-integrasi, dengan tujuan untuk kembali berbaur di masyarakat tidak ia hianati.

Bandingkan dengan YN, seorang WBP, kasus yang sama, ia memilih jalan pertobatan setelah melakukan perenungan panjang dan menemukan hikmah kehidupan. Sehingga ia memilih kembali menjadi orang yang bijaksana, bahkan setelah masa percobaan pembebasan bersyaratnya berakhir. Dua contoh manusia di atas sangatlah kontras, sekedar catatan bahwa RO mencuri barang sekelas telpon genggam bermerk dan jenis peralatan elektronik lainnya, tidak bisa digolongkan sebagai jenis gangguan kleptomania.

Berdasarkan buku saku diagnosis gangguan jiwa, gambaran esensial dari gangguan kleptomania ialah individu mungkin tampak cemas, murung dan rasa bersalah pada waktu di antara episode pencurian, bahkan dari artikel alodokter.com, barang yang dicuri oleh pengidam gangguan kleptomania juga bukan barang yang begitu penting atau remeh. Ragam pembinaan di dalam Lapas atau Rutan sebagai proses treatment pada manusia yang tersesat agar menemukan kembali jalan yang benar, ternyata tidak meresap dalam jiwanya, sehingga ia memilih kembali melakukan tindak pidana berulangkali ibarat sebuah mesin yang telah diprogram.

Homo Mechanicus

Mengambil konsep kepribadian dari Erich Fromm (2019) dalam bukunya The Heart of Man, menjabarkan bahwa homo mechanicus adalah indvidu yang berhasrat pada sebuah kebendaan, masih memiliki hasrat kenikmatan tetapi menganalogikan terhadap kerangka mekanis dan tak hidup. Kebahagiaan hidupnya dapat diperoleh dengan menekan “tombol” pada mesin yang mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya. Individu seperti ini tidak tertarik pada respon kehidupan, semua ia gambarkan dalam bentuk barang.

Erich Fromm (2018) dalam buku yang lain dengan judul The Art Of Living menjelaskan bahwa homo mechanicus, sama halnya seperti individu dengan konsep memiliki. Yaitu segala sendi kehidupannya mengarah pada penghambaan benda. Benda disini termasuk uang, sehingga cinta dan kasih sayang yang diberikan atau diterimanya, diukur dengan kebendaan. Sehingga individu dengan konsep kepribadian memiliki, akan terpatri pada dirinya bahwa “aku diakui karena kepemilikan benda”, sebenarnya mereka yang menganut konsep ini sedang menitih jalan ketidakwarasan, ia merasa tersakiti oleh hal tersbut. Padahal puncak kasih sayang tertinggi ialah “cinta tanpa syarat”, seperti cinta ibu terhadap anaknya.

Individu dengan kencederungan homo mechanicus akan menganggap bahwa besaran harga benda berbanding lurus dengan rasa kasih sayang yang ia terima, jadi jangan heran jika Warga Binaan Pemasyarakatan yang kembali lagi kepada lingkungan yang sama dengan konsep “cinta dengan syarat”, dan tetap menyirami sisi homo mechanicus nya, kemungkinan besar harus kembali dalam proses pembinaan. Hal ini terjadi karena mereka akan secara terus menerus mencari benda yang dapat ditukar dengan kasih sayang, tidak lagi memikirkan kebahagiaan sejati pada dirinya akibatnya mereka lupa siapa dirinya. Ekstremnya mereka kehilangan sisi kemanusiaanya.

Hilangnya Sisi Kemanusiaan

Berdasarkan data dari ditjenpas.go.id, per tanggal 20 Mei 2020, penerapan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 10 tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi bagi Narapidana dan Anak dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19, Narapidana yang mendapatkan Asimilasi di rumah dan Integrasi Sosial berjumlah 38.783 orang, dengan rincian 2.401 orang mendapatkan integrasi sosial dan 37.382 orang mendapatkan asimilasi di rumah, dan yang melakukan pengulangan tindak pidana sebanyak 126 orang.Menarik, dari jumlah 38.783 narapidana yang mendapatkan haknya, 126 orang memilih melanggar hak manusia lain, sehingga negara mencabut haknya sebagai manusia bebas, dan mendapatkan label sebagai residivis. Residivis sendiri diambil dari bahasa prancis, yaitu re dan cado, re berarti mengulang, cado berarti jatuh, secara istilah pengulangan tindak pidana.

Mereka yang memilih jalan menjadi residivis, dengan menghianati kepercayaan negara, adalah manusia yang mengalami kekosongan terhadap sisi kemanusiaanya. Konsep dari sistem pemasyarakatan yang dicanangkan oleh dr.Sahardjo pada pidatonya dalam acara penghargaan Doctor Honoris Causa oleh Universitas Indonesia pada 27 April 1964, sehingga merubah sistem kepenjaraan menjadi pemasyarakatan yang lebih berfokus pada pembinaan, bukan lagi pembalasan dendam terhadap pelanggar hukum. Pembinaan dengan konsep yaitu pemulihan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Jumlah 126 orang yang memilih jalan menjadi residivis adalah manusia yang belum secara matang dalam mengikuti proses pembinaan dalam lembaga. Kekosongan pada dirinya saat pembinaan di masalalu sebagai bentu kepura-puraan terisi, perlu penggalian lebih dalam dari sisi hidupnya untuk mengatahui kekosongan pada diri WBP yang mengulangi tindak pidana, apakah dari sisi hubungannya dengan Tuhannya, kehidupannya yaitu hubungannya dengan sesama manusia, atau penghidupannya, terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Pada dasarnya manusia dengan konsep kepribadian homo mechanicus akan selalu kosong, pergerakannya didasarkan pada pemenuhan nafsu dan kasih sayang semu dari lingkungan yang sebenarnya tidak peduli dengan keadaan sebenarnya. Inilah jerat homo mechanicus, semua serba kepura-puraan bahkan untuk kebahagiaannya sendiri.

Keluar Dari Jeratan Homo Mechanicus

Tidak bisa dipungkiri bahwa homo mechanicus adalah bentuk manusia yang dingin terhadap respon kehidupan. Jeratan konsep kehidupan homo mechanicus harus segera ditinggalkan oleh setiap manusia, sebagai wujud pertobatan sejati. Solusinya adalah segera keluar dari lingkungan yang membuat jiwa manusia menjadi beku, karena suka tidak suka inilah bentuk konkret dari pertobatan sejati.

Dapat disimpulkan bahwa mereka yang masih menginginkan keluar dari perangkap homo mechanicus yang dingin terhadap respon kehidupan , pada akhirnya mengulangi lagi perbuatan pidana, dengan merebut hak manusia lain, secara tidak langsung merebut hak kemanusiaannya sendiri, harus kembali dilakukan pembinaan, dengan tujuan sebagai wujud mengisi kekosongan jiwa manusia. Manusia mempunyai hak prerogratif untuk menentukan derajat kehidupannya, mau lebih tinggi dibandingkan dengan malaikat (homo deva) atau lebih rendah dari hewan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy