Hidup di Era Disrupsi Sebuah Pergeseran Makna, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Hidup di Era Disrupsi Sebuah Pergeseran Makna, Oleh : Prof. Hanna

Prof. Hanna


KENDARIPOS.CO.ID — Saya selama ini menikmati perdebatan yang sangat menarik tentang new normal. Karena begitu menariknya web seminar (webinar) bermunculan yang tentu saja diikuti oleh pembicara-pembicara yang mengklaim diri sebagai pakar new normal.

Hadirnya istilah new normal ini akibat adanya pandemik Covid-19 yang konon kabarnya belum juga bisa dikatakan berakhir, dan mungkin inilah jawaban atas realitas saat ini, yakni, kehidupan harus terus berjalan dan tidak bisa selamanya manusia diam mengisolasi diri. Hal ini dilakukan tidak lain adalah agar ekonomi bisa kuat, tidak runtuh, industri bisa berjalan, masyarakat tidak kehilangan penghasilan, dan menghindari kekacauan.

Dalam pandangan sederhana saya melihat bahwa new normal tidak lain adalah memulainya kehidupan baru memakai pembiasaan masyarakat sebagai suatu keharusan mulai membiasakan hidup seperti biasa berdampingan dengan virus corona penyebab Covid-19, karena kita percaya semakin kita panik semakin membuat pasif. Tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebaliknya kebutuhan tidak mengenal kata tunggu. Jika ini terjadi maka perekonomian Indonesia akan lumpuh. Oleh karena itu perlu pembiasaan. Membiasakan masyarakat hidup dalam protokol kesehatan agar tidak terjangkit Covid-19. Awalnya mungkin sangat susah, namun jika menjadi kebiasaan, susah itu menjadi gampang. Contohnya, pengendara sepeda motor wajib menggunakan helm. Awalnya mubcul berbagai kritikan. Saat ini menggunakan helm menjadi kebutuhan, bukan lagi paksaan.

Jika protokol kesehatan kita ikuti maka sedikit demi sedikit akan terbiasa. Ini yang disebut sebagai kehidupan dengan pola kenormalan baru atau the new normal life. Secara sederhana, intinya adalah melanjutkan kebiasaan yang selama ini dilakukan selama isolasi di rumah, ke dalam kehidupan yang lebih luas dan tentu saja cara ini sangat mudah dilakukan jika kita serius untuk kehidupan lebih baik melalui disrupsi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa inovasi semakin berkembang untuk kemakmuran rakyat.Loncatan-loncatan teknologi tidak seimbang dengan loncatan cara berpikir. Oleh karena itu, loncatan tadi adalah inovasi dari generasi milennial abad 21 yang saya sebut era disruption. Disrupsi dapat berarti perubahan mendasar atau fundamental.
Era disrupsi merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya. Fenomena ini berkembang pada perubahan pola dunia bisnis. Kemunculan transportasi berbasis gadget / daring adalah salah satu dampaknya yang paling populer di Indonesia. Karena disrupsi berpotensi menggantikan perilaku hidup lama dengan perilaku yang baru.

Dapat juga dikatakan disrupsi menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. Saya membaca tulisan Clayton Christensen bahwa disrupsi menggantikan ‘pasar lama’ industri, dan teknologi yang menghasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh.

Ia bersifat destruktif dan kreatif. Kreativitas menciptakan inovasi. Inovasi sejatinya destruktif sekaligus kreatif. Karena itulah, selalu ada yang hilang, memudar, lalu tiada. Semua ini merupakan siklus alam yang tidak terbantahkan. Peran manusia adalah membuat posisi aman untuk membentengi diri secara maksimal sesuai ajaran dan cara pandang kita masing-masing.

Di sisi lain, ada hal baru yang hidup. Meski ada lapangan kerja yang hilang, selalu ada yang menggantikannya, yang membutuhkan kreativitas, semangat kewirausahaan, dan cara-cara baru. Begitulah siklus alam. Era disrupsi menciptakan pasar baru sehingga bisnis yang selama ini tertutup dapat terbuka kembali.

Produk atau layanan pada era disrupsi lebih mudah diakses dan dipilih seperti online shop. Cukup membuka toko melalui didunia maya lalu memesan serta mengaksesnya dari internet. Era disrupsi membuat segala hal sekarang menjadi serba cepat, lebih pintar, menghemat waktu dan lebih akurat. Persolan disrupsi memang masih ada diantara yang belum bisa memahami secara sempurna, dengan berdalih akan merusak tatanan yang selama ini telah ada dan dipelihara dalam budaya Indonesia yang mengutamakan karakter, nilai-nilai adat dan kebiasaan suatu daerah.

Namun perlu disadari, tujuan pembangunan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu sangat penting karena dunia pun membutuhkan orang-orang yang berpendidikan agar dapat membangun negara maju. Selain itu, adanya karakter sangat diutamakan karena kehidupan saat ini tidak hanya melihat tingginya pendidikan atau apa yang telah diraih, melainkan pada karakter diri pribadi dari setiap individu Indonesia.

Karakter dapat diartikan sebagai cara pola berpikir dan berperilaku seseorang yang merupakan cerminan dirinya, baik secara individu maupun bersama-sama dalam lingkup keluarga, masyarakat dan bernegara. Untuk lebih singkat karakter merupakan pembawaan seseorang yang didapatkan sejak kecil. Karakter sangat erat hubungannya dengan nilai agama, kejiwaan, akhlak dan budi pekerti seseorang yang membedakan terhadap yang lainnya.

Sejalan dengan perkembangan zaman, diikuti dengan pergeseran moral sebagai karakter atau budaya negara timur, baik yang datang dari negara asing. Karena kehawatiran di era disrupsi saat ini adalah terjadinya banyak perubahan, baik berdampak positif dan negatif bagi kehidupan sehari-hari, akibat penggunaan gadget yang tidak dikontrol oleh masyarakat.

Kekhawatiran itu mungkin saja akan merusak moral generasi muda, timbulnya gerakan anarkisme dan tindakan kriminalitas lainnya. Padahal generasi muda adalah generasi penerus bangsa ini dimasa yang akan datang. Di sinilah peran guru dan masyarakat, harus menjadikan sekolah sebagai lembaga kreativitas berpikir dan berkarakter. Guru berperan sebagai mitra anak sebab bahan belajar bukan lagi guru satu-satunya.

Anak-anak saat ini bisa lebih kreatif dan mandiri dalam mencari sumber belajar. Mereka dapat mengkompilasi di sekolah dengan guru sebagai cerminan profesionalitas. Guru profesional adalah guru yang mampu mendidik anak muridnya menjadi generasi yang mampu bersaing dan memiliki moral yang baik. Seorang pendidik hendaknya berperilaku baik yang mampu menjadi teladan.

Keprofesionalitas guru sangat bagi para pendidik sehingga ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Karena guru mempunyai tugas berat dalam mendidik, mengarahkan dan memotivasi peserta didik untuk menjadi siswa cerdas, bermoral dan berkarakter untuk mencerdaskan bangsa. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy