Catatan Dramaturgi, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Catatan Dramaturgi, Oleh : Prof. Eka Suaib

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Kehidupan diibaratkan teater, interaksi sosial di atas panggung yang menampilkan peran-peran yang dimainkan para aktor. Seringkali sang aktor melakukan pengelolaan kesan (impression management) itu tanpa sadar, namun adakalanya juga sengaja untuk meningkatkan status sosialnya dimata orang lain atau demi kepentingan finansial atau politik tertentu.

Menggunakan pandangan Goffman, kebanyakan atribut, milik (busana, mobil, tempat tinggal, rumah yang dihuni, perabotannya), dan perilaku manusia digunakan untuk presentasi –diri, termasuk cara berjalan dan berbicara, pekerjaan dan cara menghabiskan waktu luang, untuk memberi tahu orang lain siapa kita dan mengendalikan pengaruh yang akan ditimbulkan busana, penampilan, dan kebiasaan kita terhadap orang lain supaya orang lain memandang kita sebagai orang yang ingin kita tunjukkan.

Dalam memainkan peran, seseorang harus pandai memerankan dirinya di bagian depan (front stage) dan bagian belakang (back stage). Tentu dengan peran yang berbeda. Pegawai bank, misalnya, memakai dasi dan parfum agar ia dan kantornya dipandang bonafide oleh (calon) nasabahnya. Penampilan bagian depan juga bisa oleh resepsionis hotel, pelayan toko, atau pelayan restoran kepada tamu. Di bagian belakang, para aktor tadi yang disebutkan menampilkan lakon cerita lain. Para pegawai bank, bisa saja memakai baju kaos oblong.

Seorang politisi saat kampanye dapat memainkan panggung depan dengan cara yang baik sekali. Memakai kopiah, berpakaian baju koko, lalu dibalut dengan public relations yang cukup andal maka dapat melipatgandakan pengaruh pesan sehingga tampil apik di depan khalayak. Dalam dunia politik modern, pemimpin politik dinilai tidak hanya berdasarkan apa yang mereka katakan, namun juga bagaimana mereka mengatakannya.

Ada satu kisah, dari cerita negeri entah berantah. Melalui rapat terbuka, mengampanyekan menolak kedatangan TKA. Wawancara disebar melalui TV nasional. Pada episode berikutnya, pernyataan bergeser dan berbeda sikap dari yang sebelumnya. Belakangan, dengan memanfaatkan panggung depan, maka tampil heroik di atas panggung. Seperti biasa, dengan postur tubuh yang ideal, bahasa verbal, slogan, jargon, dan janji-janji dilontarkan melalui orator yang disuguhkan, tampil meyakinkan di panggung depan. Melalui orasi yang tersiar luas melalui WhatsApp (WA), ia meyakinkan audience bahwa ia tetap bersama-sama dengan rakyat. Anak muda yang juga berada di atas panggung seolah meyakinkan bahwa ungkapan aktor dimaksud memang benar.

Episode ditutup, saat kedatangan akan dilakukan pengecekan visa yang digunakan. Juga akan memeriksa keahlian apa saja yang dimiliki, dan tentu saja kedatangannya menggunakan protokol kesehatan. Tidak ada konfirmasi apa hasil pemeriksaan item-item dimaksud.

Dari balik jeruji, Nur Alam, seperti yang banyak ditulis dalam berita mensyaratkan bahwa pada situasi sekarang, pemerintah daerah hanya penerima kebijakan yang sudah diputuskan oleh pemerintah pusat. Sepanjang sudah ada visa dari Kemenkumham, paspor telah lolos dari kementrian keuangan, dirjen bea cukai dan kementrian perhubungan.

Pemerintah pusat (Pempus) punya agenda, rakyat juga punya kepentingan. Biasa dalam negara demokrasi. Kembali pada inti soal, ada yang memiliki skenario dramaturgi politik. Bukan alamiah sebagai akibat bekerjanya sendi-sendi demokrasi yang tampil apa adanya. Proses demokratisasi berhasil, jika menampilkan hal yang betul-betul terjadi.

Inilah imaginasi kita untuk membangun masa depan yang lebih baik. Masih banyak agenda-agenda pembangunan dan politik. Bahwa ada penolakan dan mendukung pada suatu agenda, hal yang biasa. Tapi, agar bisa dikerjakan secara efektif, pada setiap agenda memerlukan dukungan yang luas. Itulah yang menjadi tantangan sekaligus jaminan keberhasilan.

Kita tentu saja berharap, semoga terjadi keseimbangan baru. Pada akhirnya memunculkan sikap yang optimis, tidak apatis. Bukan malah sebaliknya, yang muncul adalah kontradiksi dan sinisme yang meluas. Saya, percaya, bahwa itu tidak terjadi, karena yang bersangkutan bukan orang kemarin sore dalam politik. Mewakili kekuasaan yang dominan. Ketua partai. Jam terbang tinggi, visioner juga. Hanya, saja, tiba-tiba datang virus corona, dan melanda daerah ini, tidak terkecuali. Karena itu, pesan yang penting, bisakah sedikit berempati dengan situasi ini?. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy