Birokrasi, Berubahlah, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Birokrasi, Berubahlah, Oleh : Prof. Eka Suaib

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Rupanya, pandemik covid-19 menimbulkan ketidakpastian dalam berbagai sektor. Dari aspek kesehatan, vaksin belum ditemukan, kurva belum melandai. Pada aspek, ekonomi, pengangguran meningkat, jumlah penduduk miskin meningkat, produktivitas menurun. Pada aspek transportasi, penutupan arus antarkota menyebabkan industri transportasi merugi. Di depan mata, terpampang krisis lain, yakni energi, pangan, dan keuangan.

Dalam skala global, penanganan covid-19 di Indonesia memiliki skor 48, sama dengan posisi Singapura. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata skor global yakni 45. Skor paling tinggi diperoleh Cina yakni 85, disusul Vietnam skor 77, India skor 59. Yang terendah adalah Mexico skor 37, USA, 41 dan Iran, 36.

Berdasarkan angka di atas, maka sebenarnya Indonesia masuk kategori baik, selevel dengan kualitas penanganan di Singapura. Ada 4 faktor yang diperhitungkah menentukan tinggi rendahnya indeks krisis sebuah negara. Yakni peran pemimpin politik dan pemerintahan, pemimpin dunia bisnis, masyarakat, dan media. Meski demikian, dalam situasi seperti ini, maka Indonesia perlu untuk melakukan tranformasi managemen. Khususnya transformasi birokrasi.

Artikel Prof. Prasojo (Guru Besar UI) di Kompas mengulasnya Sabtu lalu. Prof. Prasojo mengemukakan, birokrasi perlu melakukan transformasi yakni dari birokrasi Weberian menuju birokrasi new normal. Diharapkan bahwa melalui tranformasi ini akan membentuk sosok baru birokrasi yang modern, lincah, dan melayani.

Push factor perlunya terjadi transformasi birokrasi. Pertama, pandemik dan bencana alam. Fenomena ini seiring dengan penggunaan internet dan big data. Faktor tersebut kemudian daya dorong kuat agar birokasi dapat berubah. Kedua, bonus demografi yakni banyaknya usia produktif. Ketiga, krisis kemanusiaan yakni konflik, kriris energi, krisis akhlak. Keempat, urbanisasi yakni banyaknya tren desa menjadi kota mengakibatkan ada distribusi balik menuju desa.

Pada aspek tata laksana, maka perlu untuk tetap melembagakan e-administration. Ruang lingkupnya adalah e-planning, e-performance, dan e- evaluation. Pada saat pandemik ini, sudah perlu dipikirkan e-office meliputi e-precesing, e-meeting, e-corespance, dan smart building.

Sekat-sekat di kantor, sudah perlu untuk ditata sesuai dengan protokol kesehatan. Mungkin di kantor, dengan pola yang ada saat ini, sudah tidak terlalu butuh lagi office boy, atau cleaning service. Jadi, perlu ada perubahan standar baru tentang tata kerja di birokrasi.

Pada aspek kepemimpinan, maka pendelegasian lebih penting dibandingkan dengan pengarahan. Ide-ide ini sebenarnya sudah lazim di ide-ide New Public Management. Aspek semangat kolegial mungkin perlu lebih kuat ditanamkan dibandingkan dengan one man show. Karena itu, salah satu kompetensi yang dibutuhkan adalah kemampuan melakukan kolaborasi.

Kualifikasi SDM yang lebih banyak dibutuhkan adalah literasi IT, termasuk didalammya managemen. Penggunaan IT bisa dilaksanakan pada proses formasi, seleksi, mutasi, kinerja, penggajian, dan pensiun. Karena itu, tidak menutup kemungkinan maka porsi recruitmern PPPK mestinya lebih besar. Karena berdasar atas kompetensi sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Aspek kelembagaan yakni dengan pekerjaan birokrasi dari rumah. Work from Home. Dengan demikian, maka organisasi dengan pola yang flat, slim dan biaya rendah merupakan agenda penting untuk mewujudkannya.

Jika aspek-aspek ‘statis’ di atas dapat teruwujud, maka kemudian perlu ditopang oleh pola kebijakan yang akan ditempuh oleh para birokrat. Penguatan pengambilan keputusan atas dasar data, merupakan iklim yang perlu terus dipompakan. Apalagi pada level, ‘birokrat jalanan’ yang merupakan ujung tombak kebijakan perlu menjadikannya sebagai panglima. Pada situasi pandemik ini, sebaiknya perintah lisan, bisa dijadikan sebagai salah satu bentuk kebijakan publik.

Perubahan-perubahan perlu dilakukan dengan mengurangi prinsip taat pada aturan. Inovasi harus menjadi insentif utama bagi para birokrat. Karena itu , setiap inovasi-inovasi yang dilakukan pada setiap institisi perlu didokumentasikan dengan baik. Untuk mewujudkannya, maka perilaku disiplin, jujur dan penuh dengan integritas merupakan sikap mental utama yang perlu tumbuh pada birokrasi.

Kiranya, salah satu hikmah dari pandemik yakni birokrasi dituntut untuk bekerja dengan gesit. Menjadi manusia pembelajar. Kiranya perlu untuk bekerja dan belajar kapan saja, dengan siapa saja. Itulah basis transdisiplin. Sikap dan perilaku konvensional kiranya tidak terlalu relevan, dan pada akhirnya akan tetap melanggengkan birokrasi yang kaku. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy