Bibir PKI Di-Ntup Tawon, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Bibir PKI Di-Ntup Tawon, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Sudah tidak adakah pekerjaanmu hingga otakmu “ko larikan” ke pemikiran untuk merubah Pancasila menjadi Ekasila atau Trisila? Banyaknya pekerjaan, tapi otakmu kok bisa-bisanya berpikir untuk rancangan undang-undang (RUU) haluan ideologi Pancasila (HIP).

RUU itu seperti apa? Pancasila mau diapakan? Mau dirubah jadi Ekasila? Dirubah jadi Trisila? Oh, jangan. Kenapa? Tau ndak, bahwa orang-orang yang menyusun teks Pancasila pada zamannya adalah orang-orang yang “Jauuuuuuuuh” di atas kita. Jauh. Jauh sekali. Bukan bandingan.

Dari sisi titel, ya yalah kamu yang unggul. Tapi, dari sisi kepadatan ilmu: minggir kamu. Mereka memikirkan teks Pancasila setelah melakukan iktikaf, tahajud, istikharah dan diskusi dengan tokoh-tokoh penting bangsa yang juga, tokoh-tokoh itu ketika ditemui ternyata baru pula selesai ibadah. Kamu apa?

Tunjukan pada publik, bahwa kaliber ketokohanmu seperti juga kaliber tokoh masa lalu. Tokoh-tokoh bangsa masa lalu saat menduduki jabatan tanpa kasak kusuk sebelumnya. Apakah kamu menduduki jabatan juga tanpa kasak kusuk? Pindah.

Tokoh-tokoh bangsa perumus Pancasila, pada waktu Pemilu mereka tak main amplop serangan fajar. Apakah kamu juga menempati posisi jabatan politik ini juga tanpa amplop? Minggir. Suci mana alam berpikirnya, tokoh masa lalu atau tokoh masa kini?

Lalu, kalau kebersihan diri saja sudah bukan bandingan, trus kenapa Pancasila harus direcoki dengan rancangan undang-undang produk tokoh masa kini? Jangan. Hentikan. Ndak produktif.

Generasi saat ini sudah cerdas. Kecerdasan itu dapat dilihat dari beberapa fenomena yang menggelengkan kepala. Misalnya, saat Corona diputuskan sebagai pandemi lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa masjid ditutup dan salat di rumah saja. Ketika sebagian umat melanggar fatwa MUI, kamu ikut memberi pengetatan dengan dasar fatwa MUI. Artinya, begitu tunduknya kamu kepada fatwa MUI.

Lalu, muncullah RUU HIP yang kemudian ditentang oleh MUI dan kamu seolah-olah mengabaikan. Nah, kenapa untuk urusan RUU HIP kamu tak menjadikan fatwa MUI sebagai penguatan dalam penolakan, sementara urusan pandemi Covid kamu bertindak sebaliknya? Hmmm hm hm.

Kenapa RUU HIP ini menjadi rame diskusinya, ya, karena kekhawatiran akan kebangkitan PKI. Apakah itu PKI? PKI itu partai komunis yang pernah terlibat dalam pengendalian negara, berpengaruh di DPR-RI, pernah duduk di kabinet masa lalu, dan puncaknya tragedi 30 September 1965. Beberapa jenderal TNI dibunuh. Coba bayangkan, ngeri kan?

Bayangkan, membunuh Hansip saja rasanya sudah melawan aparat. Membunuh Babinsa saja rasanya sudah mengkhianati bangsa. Apalagi, membunuh Jenderal TNI. Bayangkan. Ngeri PKI.

Inilah sebab kenapa PKI dan simbol-simbolnya begitu dimusuhi dan jadi momok bangsa ini. Yah, karena kekejamannya, dan keinginan besarnya untuk merubah ideologi negara dari Pancasila menjadi komunis.

Wahai milenial, inilah salah satu sebab kenapa PKI dianggap momok bangsa. Ya, karena kekejian dan penghianatannya terhadap bangsa. Andai kalian mengikuti pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, seperti generasi ayah kalian, maka kalian tak akan sudi dan tak akan berani mengenakan simbol-simbol PKI.

Simbol yang terkenal dari PKI adalah gambar Palu Arit. Karena itu, jika tak ingin dicemooh di zaman ini, jika tak ingin diperlakukan kasar maka, jangan sekali-kali mengenakan simbol-simbol PKI. Kenapa? Ya, karena sejarah kelam tadi. Kalau ada orang seumuran bapak/ibumu yang mengenakan simbol Palu Arit, maka yakinlah, orang itu pasti aktifis komunis.

Wahai milenial, teks Pancasila dekatkan dihatimu. Dan jika ada propaganda dari orang-orang berotak PKI maka buatlah kesimpulan sendiri, misalnya orang ini pasti teman-temannya Mas Trisila atau Mbak Ekasila. Dan lain-lain kesimpulan.

Wahai diriku, mumpung sekarang “berkuasa” gunakanlah kuasamu untuk menerangkan kebenaran dan kebaikan karena sebentar nanti, kelak kamu tak punya kuasa lagi, maka disitulah penyesalanmu karena aspirasimu buntu dimana-mana.

Bayangkan aspirasi tokoh-tokoh masa lalu yang kini berkumpul di dunia pensiunan, mereka ingin menyalurkan aspirasi kepada saya yang punya kuasa. Para pensiunan itu ingin menyalurkan aspirasi kepada saya yang diajarkan sejarah PKI. Saya yang sedikit faham sejarah PKI, rasanya kok saya ingin tolak oleh karena iming ini dan itu.

Bayangkanlah. Kamu saja yang paham PKI sudah ingin abai, apalagi pengganti kuasamu kelak, yang “buta” dengan sejarah PKI. Artinya, mumpung kamu punya kuasa, punya stempel, punya tongkat komando, gunakanlah itu karena kelak akan ditutup pintu aspirasimu, kelak kamu akan dicampakkan, kelak kamu tak akan bernilai karena yang bernilai hanya beberapa orang, dan ketika itu, bayangkan penyesalanmu. Dan, ketika kamu menyesal, jangan salahkan tawon kalau bibirmu dientup. (nebansi@yahoo.com)

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy