Salat Id Bisa Berjamaah Bisa Sendirian, Berikut Panduannya – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Salat Id Bisa Berjamaah Bisa Sendirian, Berikut Panduannya

KENDARIPOS.CO.ID — Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum lama ini menerbitkan fatwa tentang tata cara salat Idulfitri di tengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).

Ketua MUI Sultra, K.H. Mursyidin mengungkapkan, fatwa yang dimaksud adalah fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang panduan kaifiat takbir dan salat Idulfitri saat pandemi Covid-19.

Adapun alasan diterbitkannya fatwa tersebut lanjut Mursyidin, yakni untuk merespons datangnya tanggal 1 Syawal 1441 H yang kemungkinan besar terjadi pada saat wabah virus corona belum mereda.

“Berdasarkan fatwa, di tengah pandemi ini pelaksanaan salat Idulfitri bisa dilaksanakan secara berjamaah masjid atau lapangan atau di rumah, bisa juga sendirian. Akan tetapi pelaksanaan salat berjamaah di masjid dan di lapangan dilaksanakan pada wilayah yang dinilai aman dari penularan virus corona (Zero Covid-19) atau kawasan yang terkendali, dan ada pelonggaran kebijakan physical distancing,” ungkap Mursyidin, Selasa (19/5).

Sedangkan umat muslim yang berada di kawasan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali lanjut Mursyidin, maka salat Idulfitri dapat dilaksanakan di rumah masing-masing. “Baik pelaksanaannya di lapangan atau masjid ataupun dirumah sekalipun itu harus tetap mematuhi protokol kesehatan guna mencegah terjadinya potensi penularan virus corona,” kata Mursyidin.

Adapun tata cara salat Idulfitri (Salat Id) sesuai fatwa MUI, kata Mursyidin yakni sebelum salat Id, disunnahkan memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih. Lalu, salat Id dimulai dengan menyeru ash-shalatu jami’ah yang artinya “Salat jama’ah akan segera didirikan. Selain itu, salat Id dilaksanakan tanpa didahuli azan dan iqamah.
Selanjutnya, membaca niat salat Id. Dilanjutkan membaca takbiratul ihram sambil mengangkat kedua tangan.

Pada rakaat pertama, setelah membaca doa iftitah, dilanjutkan membaca takbir sebanyak tujuh kali. Takbir tujuh kali sambil mengangkat tangan. 
Setelah itu, membaca surah Al-Fatihah sebagai rukun salat. Lalu, disunahkan membaca surah al-A’la. Kemudian dilanjutkan rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, seperti salat biasa. Lalu, berdiri kembali untuk melaksanakan rakaat kedua. 
Pada rakaat kedua, membaca takbir sebanyak 5 kali sambil mengangkat tangan seperti sebelumnya.

Kelima takbir itu di luar takbir saat berdiri pada rakaat kedua (takbir qiyam). Setelah lima takbir, membaca surah al-Fatihah, dan disunahkan membaca surah al-Ghasyiyah.
Dilanjutkan rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, duduk tasyahud akhir dan salam. Setelah salat, mendengarkan khutbah Idulfitri. “Jika salat Idulfitri dilaksanakan secara berjamaah, maka ketentuan jumlah jamaahnya, minimal empat orang, yakni satu imam dan tiga makmum,” kata Mursyidin.

Adapun tata cara salat Id sendirian (munfarid), kata Mursyidin, tata caranya tidak jauh berbeda dengan salat Id berjamaah, kecuali niatnya yang dimaksudkan untuk salat sendirian. “Selain itu, bacaan salat Idulfitri diucapkan dengan pelan atau tidak dikeraskan. Salat Id sendirian tidak disertai khutbah,” kata Mursyidin.

Di tempat terpisah, Kepala Kanwil Kemenag Sultra, Fesal Musaad membolehkan salat Id digelar di tanah lapang, masjid, atau mushala, khusus bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dengan wabah Covid-19 terkendali. “Sesuai fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) itu diperbolehkan suatu daerah melaksanakan salat Id asalkan daerah tersebut tidak terdapat wabah covid-19 atau covid-nya terkendali,” ungkapnya, kemarin.

Menurut Fesal, suatu kawasan dianggap terkendali dari wabah Covid-19 jika angka penularan virus korona di kawasan tersebut menunjukkan penurunan atau bahkan sama sekali tidak ada masyarakat yang terinfeksi Covid-19 alias Zero Covid-19. Meski begitu, Fesal mengimbau daerah yang hendak melaksanakan salat Id agar tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Misalnya jamaah wajib memakai masker dan tidak memperbolehkan bersalaman demi menghindarkan jamaah dari potensi penularan. “Mereka wajib patuhi kebijakan social distancing. Selesai salat langsung pulang kerumah masing-masing,” kata Fesal.

Fesal mengaku sejauh ini belum menerima laporan soal daerah mana saja yang melaksanakan salat Id. Fesal memprediksi daerah yang zero Covid-19 seperti Kabupaten Buton, Buton Selatan, Konawe Utara, Buton Utara dan Konawe Kepulauan besar kemungkinan akan melaksanakan salat Id berjamaah. Sedangkan untuk daerah zona merah, Kemenag tidak mengijinkan pelaksaan salat Id. Fesal sudah menginstruksikan Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) agar tidak memfasilitasi pelaksanaan salat Id berjamaah. “Belum ada yang lapor. Mungkin daerah yang zero covid-19 ini koordinasinya di Kemenag Kabupaten. Itu kami bolehkan karena sesuai fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020. Tapi kalau yang daerah yang terdapat satu, dua, tiga atau lebih masyarakat yang terinfeksi Covid-19, tidak kami izinkan dan tidak difasilitasi,” kata Fesal.

Sementara itu, Forkopimda Kota Kendari, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Kendari dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam membuat maklumat bersama rangkaian Ibadah Idulfitri tahun 2020. Kepala Kantor Kemenag Kota Kendari, Zainal Mustamin mengatakan, kegiatan seremonial open house, halal bihalal dan ziarah ke taman pemakaman umum (TPU) ditiadakan. “Sedangkan silaturrahmi antar keluarga dapat dilaksanakan melalui media sosial (video call atau teleconference) atau dapat dilakukan secara terbatas mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid -19,”jelasnya.

PHBI tingkat kelurahan dan kecamatan se-Kota Kendari tidak menyelenggarakan pawai takbir. Selain itu, distribusi zakat fitrah, infak dan sedekah dilakukan oleh Baznas, UPZ dan amil zakat masjid agar menghindari kerumunan massa. Dapat dilakukan dengan mengantarkan langsung ke rumah penerima zakat. (ags/rah/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy