Rendahnya Minat Baca “Betulkah”?, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Rendahnya Minat Baca “Betulkah”?, Oleh: Prof. Hanna

Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Memperingati hari buku nasional 17 Mei lalu, saya terinspirasi dari semboyan yang berkata bahwa (1) “Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya”, dan (2) salah satu kecanduan yang tidak berbahaya adalah kecanduan membaca, namun hasil Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) atau Program Penilaian Pelajar Internasional menujukkan bahwa kemampuan membaca siswa kita masih rendah.

Hari Buku Nasional ke-40 tahun ini, kita disuguhi hasil yang kurang menggembirakan. Hasil PISA tahun 2018 cukup menyedihkan yakni Indonesia masih belum beranjak dari papan bawah. Berturut-turut, nilai untuk membaca, matematika, dan sains dari hasil tes di 2018 adalah 371, 379, dan 396. Nilai ini mengalami penurunan dibanding tes di tahun 2015, di mana berturut-turut membaca, matematika, dan sains kita meraih skor 397, 386, 403.

Dari semua skor itu, membaca memiliki penurunan skor terendah, dan bahkan di bawah skor di tahun 2012 yaitu 396, yang tidak jauh berbeda dengan kompetensi membaca pelajar Indonesia menurut hasil survei PISA 2015 meraih nilai 397, angka ini jauh di bawah rata-rata OECD (Organization for Economic CO-operation and Development) sebesar 493.

Demikian pula skor kompetensi matematika hanya 386, tertinggal dari rata-rata OECD sebesar 490. Skor kompetensi sains sebesar 403 juga di bawah rata-rata OECD sebesar 493, ini artinya bahwa Indonesia berada pada posisi yang lemah dalam membaca buku, bahkan disinyalir bahwa kemampuan membaca Indonesai adaah 1/1000 artinya 1000 orang hanya satu yang memiliki minat baca.

Dari data tersebut di atas, pertanyaan yang muncul adalah apakah kita percaya atau tidak? Buku adalah jendela dunia, dan kegiatan membaca buku merupakan suatu cara untuk membuka jendela tersebut agar kita bisa mengetahui lebih tentang dunia yang belum kita tahu sebelumnya.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang-orang yang telah berusia lanjut. Buku merupakan sumber berbagai informasi yang dapat membuka wawasan kita tentang berbagai hal seperti ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun aspek-aspek kehidupan lainnya.

Selain itu, dengan membaca, dapat membantu mengubah masa depan, serta dapat menambah kecerdasan akal dan pikiran kita. Jika kita berbicara kemampuan membaca maka yang dimaksudkan adalah kesanggupan anak untuk mengenali huruf dan kata, kemudian menghubungkannya dengan bunyi, serta memahami makna dari tulisan yang dibaca yang diawali dengan kemampuan mendengarkan huruf dengan benar dan tepat.

Berbicara mengenai membaca buku, pengalaman saya tahun 2005 saat pertama kali terbang ke Swedia dari Kualalumpur via Amsterdam. Pengalaman yang sangat bersejarah itu melihat fenomena saat pesawat sudah take of di udara Malaysia, para penumpang berdiri termasuk seorang anak muda di dekat saya mengambil sesuatu dalam kabinnya.
Setelah membuka kabin pesawat, dia mengeluarkan 6 judul buku dan berkata, this is a real flight. Kemudian disamping kiri saya, seorang nenek pun tak ketinggalan mengambil buku dari dalam kabin, dan berkata this is my food. Tetapi penumpang dari Asia termasuk Indonesia justru mengambil cemilan di kopernya. Dari dua orang Eropa yang duduk disamping saya ternyata mereka terbang mempersiapkan perjalanan panjang, yaitu adalah buku, dan yang menjadi santapan mereka hanyalah, buku.

Bagaimana dengan bangsa Indonesia ? Mungkin inilah yang salah satu penyebab rendahnya daya baca di Indonesia sebagaimana yang dirilis PISA tadi. Turunnya skor PISA ini memang boleh dibilang memprihatinkan. PISA diselenggarakan oleh OECD. Penilaian PISA dilakukan dengan menguji anak-anak berusia 15 tahun. Jika dibandingkan dengan rata-rata internasional, Indonesia memiliki jarak yang cukup jauh. Membaca, Matematika, dan Sains di rata-rata internasional ada di angka 487, 489, dan 489. Indonesia bahkan tidak berhasil menembus skor di atas 400 untuk ketiganya.

Penurunan kualitas ini tentu indikasi bahwa ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan, jika PISA masih menjadi standar bagi pemerintahan kita untuk pembangunan pendidikan. Dari kondisi ini sebagai negara yang besar, sebagai akademisi, bisa kita terima sebagai suatu proses pembenaran ilmiah karena dilakukan secara ilmiah, namun dalam proses reliabilitas, saya bisa mengatakan bahwa hasil PISA 2018 masih dipertanyakan validitasnya.

Hal ini disebabkan karena (1) program ini dibuat untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah secara rata-rata di setiap negara. (2) bahan yang diuji adalah matematika, Sains, dan Kemampuan Membaca, (3) setiap negara memiliki jumlah sampel yang berbeda, OECD mengklaim ada 600.000 pelajar dari 72 negara yang diuji di PISA di seluruh dunia, (4) teks bacaan dalam uji PISA adalah multiteks dan berbasis komputer. Dengan tingkat kecanggihan baik dari isi maupun struktur, genre yang mengintegrasikan kata, kalimat, grafik, peta, dan ragaan membuat anak-anak Indonesia kemungkinan belum terbiasa dan terampil menangkap makna yang tersaji dalam paragraf; dan kecepatan menangkap makna antarteks, antarteks dengan grafik, antarteks dan simbol, serta relasi makna antargrafik, (5) metode yang digunakan adalah survey yang mengambil sampel dari populasi yang mungkin tidak diperuntukkan untuk kemampuan membaca, tetapi untuk kemampuan sains dan matematika termasuk penarikan sampel.

Saya sangat sependapat dengan Asteri Desi Kartika yang menulis di Bisnis. Com Jakarta, 18 Maret 2019 mengatakan Mengukur minat baca seseorang secara akurat dinilai masih sulit diperhitungkan. Pasalnya ada banyak indikator yang butuh diperhitungkan. Menurut Ika Natassa, penulis buku Antologi Rasa, minat baca masyarakat Indonesia boleh dikatakan tidak rendah.

Hal itu bisa dilihat dari animo masyarakat ke toko buku, festival buku, atau pembicaraan buku di media sosial. Bahkan beberapa buku Indonesia sangat marak untuk dibajak. Artinya, masih banyak demand untuk membaca buku. Hanya saja cara tersebut salah. Menurut Ika, permasalah yang dihadapi adalah akses terhadap buku tersebut, karena perpustakaan yang belum tersebut di kota-kota kecil, hingga soal ketersediaan atau update buku baru dari setiap perpustakaan.

Lebih lanjut, menurutnya masyarakat masih belum cukup kesadaran menghargai suatu buku atau suatu karya lebih dari sekedar membacanya. Tapi juga menghargai di balik proses penciptaan tersebut. Demikian juga jika kita melihat kenyataan yang sebenarnya Indonesia adalah negara yang memiliki perpustakaan yang terbanyak kedua di dunia, mungkin 70 persen populasinya adalah pelaku pendidikan yang serta merta kegiatannya adalah membaca. Jika pelaku pendidikan ini rata-rata membaca setiap hari maka populasi minat baca di Indonesia berarti 70 persen setiap hari, belum termasuk non pelaku pendidikan.

Yang tidak kalah pentingnya adalah masyarakat Indonesia adalah muslim yang salah satu keyakinannya adalah IQRA, bacalah, sebagaimana yang dikatakan oleh teman yang duduk di samping saya di pesawat ke Amsterdam. Ketika saya bertanya pada ibu itu, ia mengatakan, this is my food, sambil menunjukkan beberapa buku yang ia pegang, lalu berkata bahwa, yes, without book I can’t do anything. I don’t like to talk, I don’t like to eat but I like to read, and this my food in our flight, no foot and no talk.

Setelah diskusi itu saya tidak bertanya lagi, karena ibu itu sangat serius membaca dan sampai pesawat mendarat di Amsterdam memang dia tidak bercerita, tidak pesan makan dan tidak mengantuk. Terkait pengalaman saya tersebut menyaksikan bagaimana seorang nenek di peswat begitu asik membaca, lalu saya membaca beberapa pandangan bahwa ternyata membaca buku memberikan manfaat yang luar biasa. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy