Nilai Tukar Petani Sultra Turun 1,66 Persen – Kendari Pos
Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Petani Sultra Turun 1,66 Persen

Seorang petani di Kabupaten Konawe saat memanen padi, beberapa waktu lalu.


KENDARIPOS.CO.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sultra pada April 2020 mengalami penurunan sebesar 1,66 persen dibanding bulan Maret 2020 yaitu dari 97,28 menjadi 95,67.

Penurunan tersebut disebabkan empat dari lima subsektor yang membangun NTP Sulawesi Tenggara mengalami penurunan yaitu subsektor tanaman hortikultura sebesar 1,94 persen, perkebunan rakyat sebesar 3,04 persen, subsektor peternakan sebesar 0,93 persen dan subsektor perikanan sebesar 1,45 persen. Hanya satu subsektor yang mengalami kenaikan yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,28 persen.

“Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada April 2020, NTP Sultra mengalami penurunan sebesar 1,66 persen dibanding Maret 2020 yaitu dari 97,28 menjadi 95,67,” kata Kepala BPS Sultra, Moh Edy Mahmud, kemarin.

Edy bilang, dilihat dari indeks harga yang diterima petani (It) di Sulawesi Tenggara pada April 2020, empat dari lima subsektor mengalami penurunan yaitu subsektor tanaman hortikultura sebesar 1,54 persen, subsektor perkebunan rakyat sebesar 2,68 persen, subsektor peternakan sebesar 0,64 persen dan subsektor perikanan sebesar 1,14 persen. Sedangkan subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 0,52 persen.

Sementara, melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib), dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada April 2020, indeks harga yang dibayar petani di Sultra tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen dibandingkan Maret 2020, yaitu dari 103,62 menjadi 103,96.

“Jika dilihat untuk masing-masing subsektor, kenaikan indeks terjadi pada semua subsektor yang mendukung nilai tukar petani yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,24 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,41 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,38 persen, subsektor peternakan sebesar 0,30 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,31 persen,” terangnya.

Dijelaskan, dari 34 provinsi yang dilaporkan, terjadi kenaikan NTP di empat provinsi pada April 2020, sedangkan 30 provinsi lainnya mengalami penurunan NTP. Kenaikan NTP tertinggi pada April 2020 tercatat di Provinsi Riau sebesar 1,66 persen disusul Provinsi Papua Barat sebesar 0,11 persen, dan Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 0,10 persen. Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan NTP terbesar adalah Kalimantan Barat sebesar 3,27 persen disusul Provinsi Sumatera Selatan sebesar 3,10 persen, dan Provinsi Sumatera Utara sebesar 2,74 persen.

Edy juga menyebutkan bahwa pada bulan April 2020, 23 provinsi dilaporkan mengalami inflasi perdesaan dan terdapat 11 provinsi yang mengalami deflasi perdesaan. Provinsi yang mengalami inflasi perdesaan tertinggi adalah Sulawesi Utara sebesar 1,19 persen disusul Maluku sebesar 1,17 persen dan Papua sebesar 1,11 persen.

“Sementara, provinsi yang mengalami deflasi perdesaan terdalam adalah Aceh sebesar 0,60 persen disusul DKI Jakarta sebesar 0,42 persen, dan Jambi sebesar 0,33 persen,” pungkasnya. (b/uli)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy