Menunggu Hadirnya Altruisme Moral di Era Pandemi Corona, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

Menunggu Hadirnya Altruisme Moral di Era Pandemi Corona, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si
Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

KENDARIPOS.CO.ID — Masa-masa sulit menghadapi berbagai permasalahan di era pandemi corona ini menjadi sangat kompleks dengan gejolak publik di nusantara. Salah satunya adalah bantuan sosial (bansos) yang saat ini menjadi isu krusial dan menjadi trigger baru pembuka peluang adanya “praktik kecurangan”.

Trigger yang maksudkan adalah pelatuk, yakni burung pemakan serangga yang membuat sarangnya pada kayu yang dilubanginya; bisa juga berarti bagian ujung kulit kacang tanah dan sebagainya yang berbentuk seperti paruh burung. Ada juga yang mengartikan bagian bedil yang digunakan untuk menggerakkan picu (dapat dijangkau dan digerakkan oleh jari telunjuk).

Dari tiga definisi tersebut tergantung cara pembaca memaknainya. Karena penulis melihat fakta yang terjadi di lapangan, bahwa masih saja terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Bahkan tidak sedikit bansos tidak tepat sasaran sesuai data yang diberikan, bahkan ada sebagian petugas yang mengambil hak penerima bantuan dengan mengurangi jatah yang sudah ditentukan.

Penulis menilai banyak hal yang bisa menjadi alasan hingga sampai terjadi hal tersebut, mulai kurangnya pengawasan dari penentu kebijakan, minimnya strategi penentuan teknis pembagian yang sesuai dengan karakter bangsa hingga lunturnya nilai kebersamaan antar sesama. Saat ini kita merasakan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa sudah mulai tergeser.

Beberapa hal yang harus kita sadari bahwa pada dasarnya naluri setiap manusia adalah fitrah. Tidak pernah ada satu orang pun yang berniat untuk melakukan kesalahan, kejahatan maupun kecurangan, namun lunturnya nilai persatuan dan hilangnya rasa kebersamaan memicu adanya proses pergeseran karakter tersebut. Salah satu solusi yang bisa menjadi pengendali gejolak tersebut penulis mencoba melirik “altruisme” (rasa ingin menolong sesama yang tulus dan tanpa pamrih, tidak mengharapkan imbalan terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri).

Banyak hal yang bisa dijadikan fondasi untuk menjaga karakter bangsa. Dalam ingatan kita masih sangat melekat jika bangsa Indonesia terkenal dengan keanekaragaman agama, kultur budaya, suku, bahasa dan warna kulit yang hidup rukun dan bersatu dengan damai. Pada hakekatnya setiap manusia akan selalu memiliki rasa ingin memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang disayangi, jadi pada saat menghadapi gejolak di era pandemi corona saat ini pun, penulis meyakini kita akan menjadi tetap rukun, tenteram dan damai manakala pada setiap jiwa manusianya mengelola rasa kasih sayang dan tetap menjaga jiwa altruisme dengan ketulusan dan penuh rasa syukur.

Pertanyaannya, mengapa keanekaragaman yang kita miliki justru menjembatani kita untuk bersatu dengan damai? Satu hal yang menjadi rujukan adalah karena kebersamaan karakter dari pendahulu kita yang memang memiliki jiwa ikhlas dan tulus dalam melakukan segala hal, balasannya adalah keuntungan akhirat. Namun sekarang karakter yang terbangun sangat berbeda dengan karakter pandahulu kita, yakni keuntungan duniawi. Terkait dengan karakter itu, pada era globalisasi yang di tandai dengan kemajuan dunia ilmu informasi dan teknologi, memberikan banyak perubahan dan tekanan dalam segala bidang.

Dunia pendidikan yang secara filosofis dipandang sebagai wadah mencerdaskan dan membentuk watak manusia agar lebih baik (humanisasi), kini mulai bergeser atau disorientasi. Itu terjadi salah satunya disebabkan kurang siapnya pendidikan untuk mengikuti perkembangan zaman yang begitu cepat. Sehingga mendapat krisis kepercayaan dari masyarakat, dan lebih ironisnya lagi bahwa sudah masuk dalam krisis pembentukan karakter (kepribadian) secara baik.

Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan primer atau mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Melalui fungsinya sebagai (transfer of knowledge), tidak terlepas (transfer of value). Dalam rangkaian ternalisasi nilai-nilai budi pekerti kepada peserta didik, maka perlu adanya optimalisasi pendidikan dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bermoral.

Moral merupakan belief system yang bersisikan tata nilai dan menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu moralitas akan berjalan paralel dengan budaya masyarakat. Karena sifatnya yang universal, moralitas akan berlaku untuk seluruh kehidupan pada berbagai budaya dan tradisi masyarakat. Perbedaan antara dua paham di atas sesungguhnya hanya persoalan perspektif saja.

Yang pertama, berkenaan praktis moral dalam kehidupan masyarakat yang mau tidak mau pasti bersinggungan dengan budaya (what it is). Kedua, idealisme moralitas yang seharusnya terjadi dalam realasi kehidupan (what should be), akan tetapi menjadi sebuah realitas di masyarakat, bahwa moralitas lebih cenderung mengikuti dinamika budaya, ketimbang sebaliknya.

Itulah sebabnya sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee memberikan warning persoalan ini melalui teorinya “radiasi budaya”. Inti dari teori tersebut adalah bahwa keberadaan beraneka budaya di muka bumi ini saling memberikan imbas dan intervensi. Meskipun secara etimologis istilah moral mengandung arti adat istiadat, kebiasaan, atau cara hidup, namun secara substantif tidak sekedar bermakna tradisi kebiasaan belaka melainkan berkenaan dengan baik buruknya manusia sebagai manusia.

Dengan kata lain moralitas ini merupakan tolok ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari sisi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu. Dengan demikian moral mengandung muatan nilai dan norma yang bersumberkan pada hati nurani manusia.

Orang yang bermoral adalah orang yang memenuhi ketentuan-ketentuan kodrat yang tertanam dalam dirinya sendiri. Pengejawantahannya adalah mulai dari munculnya kehendak yaitu kehendak yang baik sampai kepada adanya tingkah laku dan tujuan yang baik pula. Predikat moral mensyaratkan adanya kebaikan yang berkesinambungan, sejak munculnya kehendak yang baik sampai kepada tingkah laku dalam mencapai tujuan yang baik pula, dan karena itu orang-orang yang bertingkah laku baik kadang-kadang belum dapat disebut sebagai orang yang bermoral.

Meskipun kebenaran tata nilai bersifat relatif antar beberapa kelompok masyarakat, namun kebenaran moralitas lebih bersifat universal. Hal ini dikarenakan pada karakteristik moral itu sendiri yang bersumberkan pada suara hati nurani manusia. Pada dasarnya ada dua macam suara hati murni, yaitu yang mengarah pada kebaikan, suara was-was yang mengarah pada kebaikan dan suara was-was yang mengarah pada keburukan.

Jika keinginan berbuat baik ditekan, dalam arti meninggalkan untuk berbuat baik sesuai denga norma yang berlaku, maka suara hati memanggil dan ingin mengarahkan pada hal-hal yang baik dan benar. Suara batin ini mengingatkan perbuatan itu kurang baik atau tidak baik. Kehadiran suara hati nurani ini bahkan datangnya secara tiba-tiba dan kuat sekali pengaruhnya pada diri seseorang.

Aristoteles melukiskan orang yang bermoral ialah orang yang sosok dirinya menampilkan hal-hal berikut: couraage (keberanian), temperance (kesederhanaan), liberality (kemurahan hati), magnificience (keindahan), high mindedness (pikiran yang tinggi), gentleness (kelemah-lembutan), truthfulness (kejujuran), wittness (saksi), and justice (keadilan), (Poespoprodjo, 1996). Selanjutnya Higgins (2001) mengemukakan profil orang bermoral yang dasarnya adalah tanggung jawab yang meliputi: 1. kebutuhan dan kesejahteraan individu dan orang lain, 2. the of other (yang lainnya ), 3. nilai moral atau karakter sempurna, 4. nilai intrinsik dari hubungan sosial.

Dari beberapa pendapat mengenai karakteristik manusia bermoral, terdapat benang merah, bahwa kualifikasi karakteristik tersebut menunjuk pada kebaikan dalam segala kompleksitas kehidupan, di mana kebaikan ini tidak saja termanifestasikan dalam bentuk perilaku, itulah yang penulis maksudkan altruisme moral. Akankah hadir dalam era pendemi corona ini ? (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy