“Mengedit” Masakan Rujab, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

“Mengedit” Masakan Rujab, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Beruntung bukan musim Pilkada, hingga gerakan sosialnya tak dianggap pencitraan. Saya tak bisa bayangkan bullyan media sosial jika aktivitas sosial itu bersamaan dengan musim Pilkada. Sekalipun murni gerakan sosial, dan gerakan para relawan, namun tak juga lepas dari sorotan miring, komentar yang diplesetkan, dan macam-macamnya. Istilah medsos-nya, “nyinyir”. Ada saja yang nyinyir di gerakan sosial itu.

Penasaran dengan nyinyiran terhadap gerakan wanita “peduli” yang kini menetap di Rumah Jabatan, saya kemudian memposting potongan video yang pemeran utamanya adalah Agista Aryani, isteri Gubernur Sultra, Ali Mazi. Dalam video itu, Agista “menangkap” karung-karung beras 5 kg hingga 10 kg yang diturunkan dari atas truk.

Seorang buruh melemparkan karung beras dari atas truk, sementara Agista menangkapnya di dekat tumpukan beras yang langsung juga ditumpuknya di tempat itu. “Dari gaya dan gerakannya, saya lihat ibu ini memang terbiasa kerja barang-barang berat begini. Kalau ibu yang jarang bekerja, pasti kelihatan klema-klemo tapi Agista mantap sekali gerakannya. Kelihatan kalau terbiasa kerja. Atau, mungkin hobi olahraga berat yah?,” begitu komentar seorang kawan.

Dengan postingan video pendek itu, ternyata viral. Sharenya dimana-mana. Dan, 99 persen disuka. Ada satu dua komen nyinyir dan dianggapnya sebagai pencitraan. “Pencitraan apaan. Daripada hambur dosa dengan nyinyir di Medsos, mending cari amal, jadi relawan di sini, ayo ke Rujab bungkus gula, angkat-angkat beras. Kita sudah setengah mati, masih dianggap pencitraan. Coba yang nyinyir itu, ikut saya bagi bantuan. Orang-orang di Gunung Kelor saja pada heran. Mendaki gunung. Jalan selebar trotoar. Orang pada ngos-ngosan, saya biasa aja. Tapi giliran di Gunung Amarilis, woow, saya menyerah. Daripada naik gunung, lebih baik warga yang saya suruh turun. Tapi tetap jaga jarak,” begitu Agista Aryani bercerita.

Serba sulit memang. Posisi isteri gubernur, tapi berjiwa sosial, peka dengan kehidupan lapis bawah. Bergerak membantu dibilang pencitraan. Bersikap acuh, hati memberontak ingin membantu. Apalagi, memang, secara ekonomi memiliki kesanggupan. “Istri saya memang hobi dengan kerjaan-kerjaan sosial kayak gitu. Sebenarnya saya larang, tapi mau diapalagi, sudah menjadi hobi. Status bukan istri gubernur saja sudah seperti itu. Kadang-kadang, istri saya mengajak anak-anak dalam kegiatan sosial seperti itu. Yah, sudah. yang penting niatnya: Lillahi Taala,” kata sang suami yang tak lain adalah Gubernur Sultra, Ali Mazi, SH.

Saya ngomong share dimana-mana, mungkin berlebihan. Tapi, maksud saya, jika yang meminta dikirimkan video itu sudah lintas daerah, itu artinya “disuka”. Dari Halmahera ada yang minta. Dari Ambon ada yang minta. Dari Riau, ada yang minta. Untuk kepentingan apa? Saya ndak tahu.Karena pemeran utama video adalah isteri gubernur, tentulah rentan politisasi. Memang disuka, tapi apakah “suka” untuk diapresiasi atau “suka” untuk dibully. Tapi ternyata, belum sehari posting, dari 200 yang jempol dan love , hanya satu yang membelot. Ini juga mungkin karena yang posting berakun: jelas.

Wintonya kebangatan? Tidak. Bacalah pembuktian ini. Sudah dua tahun Agista di Rumah Jabatan. Baru tiga malam lalu saya berkunjung malam di Rumah Jabatan. Saya lihat, banyak orang di Aula Sangia Ni Bandera. Di sana ada Kapolda, Danrem, Kabinda, Sekprov, dan tentu saja Gubernur Sultra, Ali Mazi. Sepertinya koordinasi Muspida. Tapi di sudut ruangan, ada yang bermain tennis meja. Gubernur juga bermain setelah pertemuan dengan Muspida. Cerita sampai larut.

Di larut malam menjelang waktu sahur, tiba-tiba muncul Agista. Tampak ia memperhatikan setiap orang yang ada di situ. Termasuk saya. “Woow, ada orang kesasar rupanya. Kemana saja selama ini”. begitu Agista. Dalam hatiku: maati saya. Dalam hatiku: mungkin ibu ini menganggap saya adalah salah satu pembullynya.

Dalam hatiku sekali lagi: maati saya. Ndak mungkin diajak sahur. Saya harus pulang cepat. Tak lama Agista setengah teriak: “jangan dulu ada yang pulang semua, kita sahur di sini.” Dalam hatiku: ooh, termasuk saya. Tahukah kamu jawaban dari kegundahan hatiku setelah disebut kesasar?

Di meja makan, Agista memanggil saya dengan suara tinggi: Onggi duduk sini. Karena saya tahu adab, saya ambil hidangan lalu memilih duduk di dekat orang yang saya lihat nasinya bumbung. Dalam hatiku: di sini tempatku yang tepat karena kelak perhatian terhadap saya saat makan akan terhalang dengan bumbungnya nasi di sekitar saya. Tapi Agista tetap saja memperhatikan.

“Onggi, ini ikan. Ambil. Saya sendiri yang masak.” “Saya sendiri yang masak”, saya garis bawahi. Artinya, ibu ini memang bisa kerja. Beda dengan ibu-ibu pejabat umumnya. Artinya, isteri orang berada tapi “tamat” dengan urusan dapur. Artinya, isteri Gubernur yang punya staf bagian dapur, tapi untuk santapan kesukaan suami, ia “edit” dan “layout” sendiri.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy