Menanti Kedatangan 500 Corona, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Menanti Kedatangan 500 Corona, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Sudah berapa lama? Sudah dua bulan Corona meneror. Menyakiti. Menghambat. Meliburkan. Memiskinkan. Merugikan. Mengurangi pendapatan. Dan lain-lain. Kapan akan berakhir? Tak ada yang tahu dan, tak ada yang bisa pastikan. Kapan Corona akan berakhir? Setelah berhasil riset kesehatan menemukan obat pembasminya. Kapan? Ndak tahu.

Kapan Corona akan berakhir? Entah. Setelah 500 tenaga kerja asing (TKA) tiba? Bbbodoh. Kenapa kobilang saya bodoh? Karena tidak ada hubungan antara TKA dan Corona. Kapan 500 Corona tiba? Pertanyaanmu salah. Apanya yang salah? Bukan 500 Corona tapi, 500 TKA. Kapan mereka datang? Masih prokontra. Jika TKA datang, Corona hilang? Pertanyaanmu ndak nyambung. Jika TKA terus-terusan diadang, apakah Corona akan hilang? Banyanya bicaramuee.

Kodimo. Apa itu Kodimo? Istilah anak Sultra yang berarti: Jika kehadiranmu tak menambah mutu dan pertanyaanmu tak subtantif lebih baik diam. Jika TKA terus-terusan dihadang, apakah Corona akan hilang? Maksudmu apa?

Andai ada pernyataan begini: kekuatan mendatangkan TKA lebih dahsyat dibanding kekuatan untuk menyatakan wabah Corona, apakah Anda masuk akal? Masuk akal jika kita dibawah kendali mafioso. Umpamanya. Atau kita berandai-andai. Dapatkah Corona dinyatakan pulih agar TKA boleh masuk, setelah masuk situasi kembali kita nyatakan sebagai Wabah? Itu namanya akal-akalan. Atas nama bangsa Indonesia dan atas nama kemanusiaan, saya mohon,jangan lakukan itu.

Bukan maksud hati seperti itu. Ini hanya umpamanya. Anda masuk akal? Sekali lagi, saya mohon anda jangan lakukan itu.

*
Tapi bahwa, ditengah lockdown, di tengah penutupan mudik lebaran, di tengah ketatnya arus transportasi penumpang, di tengah himbauan untuk tetap ibadah di rumah, di ambang lebaran yang tak akan dilakukan di lapangan bebas, tiba-tiba muncul informasi bahwa 500 TKA akan datang ke Sultra.

Jika ini terjadi, maka seluruh persyaratan dari seluruh himbauan pemerintah selama ini gugur. Di larang ke masjid karena kumpul-kumpul, maka 500 TKA sudah pasti berkumpul. Di larang ke Masjid karena shaf yang begitu rapat, ini juga gugur jika dibanding dengan shaf pesawat yang akan ditumpangi para TKA termasuk berjubelnya di area Bandara. Di Cengkareng berjubel, di Hasanuddin berjubel, di Haluoleo berjubel, di Morosi berjubel.

Keyakinan saya, rakyat Sultra tidak menolak investasi. Yang ditolak adalah, ancaman wabah Corona. Apalagi, Corona berasal dimana para TKA itu berasal. Jika pemerintah sudah menetapkan lockdown, sudah memutuskan untuk tetap tinggal dalam rumah, maka hargailah keputusan pemerintah itu. Rakyat akan hormat dan tunduk kepadamu, jika kata dan perbuatanmu selaras. Rakyat akan tunduk dan patuh hanya pada keputusan pemerintah. Jadi, pemerintah, keluarkanlah aturan yang tak ambigu. Sekali ambigu, maka kamu akan kehilangan trust.

Sabarlah. Dapatkah kalian bersabar hingga wabah Corona benar-benar hilang untuk mendatangkan TKA itu? Hargailah sebagian pendapat masyarakat bahwa mereka lebih memilih mati karena Corona ketimbang mati kelaparan. Kenapa ada kalimat ini? Karena rakyat menghargai anjuran pemerintah di satu sisi, di sisi lain, ekonomi mereka lumpuh. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy