Materi Khutbah Id, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Materi Khutbah Id, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Kita semua akan menjadi pelaku sejarah. Dan, generasi setelah kita akan mencatatnya sebagai sejarah peradaban. Generasi kita akan mencatat, seperti juga kita mencatat sejarah peradaban masa lalu dalam perjalanan zaman.

Kita mencatat sejarah di zaman kekhalifahan Firaun dimana laut terbelah.
Kita mencatat sejarah tsunami air bah di zaman Nuh. Kita mencatat sejarah dimana terdapat dua kiblat umat Islam dalam suatu masa. Dan lain-lain.

Nah, sekarang, kita adalah pelaku dari sejarah itu. Bahwa di masa kita yang hidup dan mengalami saat ini, terjadi pelarangan sembahyang berjamaah di masjid-masjid. Tarawih di masjid dilarang. Salat Idulfitri di masjid juga dilarang, lebih-lebih salat Idulfitri di lapangan terbuka.

Di zaman kita saat ini, pernah terjadi dimana umat Islam dilarang untuk salat Jumat. Ini akan tercatat oleh generasi kedepan, seperti juga kita mencatat sejarah para khalifah dan umatnya sebelum kita. Zaman ini terjadi peradaban yang kebalik-balik. Tabale-bale.

Dulu kalau belanja, harus ke pasar. Sekarang, dalam kamar pun bisa belanja. Dulu, wanita bercadar mengundang perhatian dan cenderung dibully. Sekarang, laki-laki pun pakai cadar. Cadar ialah: masker.
Dulu, sabung ayam sembunyi-sembunyi dan Jumatan terang-terangan pakai toa untuk pembesar suara. Sekarang, sabung ayam terang-terangan, Jumatan sembunyi-sembunyi. Jangan pake toa. Jangan sampai kedengaran. Tabale-bale.

Dulu, kalau dikeluarkan imbauan atau instruksi, pasti berlaku merata. Misalnya, kalau ada instruksi dilarang berkumpul, maka berkumpul dimanapun dilarang. Sekarang tabale. Dilarang kumpul di masjid tapi kumpul di pasar dan plaza-plaza tak ada imbauan larangan. Agar tak ada ambigu, mestinya diberlakukan adil merata. Berkumpul dimanapun dilarang atau dibolehkan.

Zaman memang tabale.
Dulu, ketua organisasi itu diminta, sekarang dipilih.
Dulu, memilih pemimpin ada istilah dipaksa untuk bersedia menjadi ketua. Sekarang tabale, diminta untuk mundur malah maju dengan menyogok. Anehnya, produk dan proses bahan baku berbeda, meminta hasil yang sama.

Dulu, ketua yang mengeluarkan fatwa untuk kerja bakti, anggota pasti tunduk patuh. Sekarang, ketua yang mengeluarkan fatwa kerja bakti, anggota bilang: pirooo. Jadi, jangan mendambakan hasil yang sama jika bahan baku dan prosesnya berbeda.

Dulu, rajin sembahyang ke masjid, rajin tahajud mungkin bisa jadi wali. Sekarang, jangan mimpi. Rajin ke masjid dan tahajud belum tentu sama dengan kualitas kerajinan umat masa lalu. Kenapa, perjuangannya berbeda. Dulu berat, sekarang ringan.

Dulu rumah ke masjid jaraknya jauh, sekarang dekat.
Dulu ke masjid melintas hutan yang di sempanjang jalan hanya bunyi burung kiu dan koa, sekarang melintasi plaza, mall dan Kendari Beach yang di sepanjang jalan mendengar suara merdu.


Dulu, ke masjid jalan kaki, sekarang naik Fortuner. Jadi, tahu diri. Sampai sini bisa paham? Kalau belum, saya tambah lagi. Dulu, bangun dari tidur untuk tahajud, sekarang susah tidur dan salat Isya pun malam-malam. Orang lihat dikira tahajud padahal sembahyang Isya. Siapa? Kadang-kadang saya begitu.

Karena itu, tahu dirilah masing-masing, jangan mengeluarkan keputusan publik sebelum ditelaah benar karena bisa jadi, keputusan yang subyektif dan tak memenuhi rasa keadilan kadang-kadang memukul diri kita sendiri, memukul kewibawaan, memukul kharisma, memukul kepercayaan, dan sebaliknya menyuburkan antipati. Paham? Kalau suka, jangan lupa like and share. Kalau tidak suka, jangan lupa di-delete.(nebansi@yahoo.com)

Zaman Memang Tabale

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy