Lebaran di Era Pandemi Corona “Mengukur Keyakinan”, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

Lebaran di Era Pandemi Corona “Mengukur Keyakinan”, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si
Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

KENDARIPOS.CO.ID — Salat Idulfitri adalah ibadah salat sunnah yang dilakukan setiap hari raya Idulfitri dan Iduladha. Salat Ied (Idulfitri) termasuk dalam salat sunnah muakad, artinya salat ini walaupun bersifat sunnah, tetapi sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

Pelaksanaan hari raya Idulfitri tahun ini merupakan hari raya yang lain dari pada tahun sebelumnya. Jika boleh penulis menyatakan, bahwa lebaran tahun ini “mengukur keyakinan” masyarakat terhadap fenomena yang saat ini terjadi. Idulfitri tahun ini menurut pandangan publik memiliki dualisme pelaksanaan, yang pertama mengikuti anjuran pemerintah untuk melaksanakan salat Ied di rumah saja dengan berbagai petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh masing-masing ormas (organisasi masyarakat) dan kedua, ada juga yang tetap melaksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya yakni melaksanakan salat berjamaah di lapangan atau di masjid.

Rosmah Widiyani dalam detiknews, 12 Mei 2020 menjelaskan, hukum salat Idulfitri dan Iduladha menurut Imam Maliki dan Imam Syafi’i adalah sunnah muakad dengan derajat berada di bawah salat witir. Mereka yang “wajib”melaksanakan ibadah ini adalah yang terkena kewajiban salat Jumat antara lain laki-laki dewasa dan merdeka. Salat Ied sangat dianjurkan bagi anak-anak, kaum wanita, hamba sahaya dan musafir yang telah menempuh perjalanan.
Menurut para penganut madzhab Syafi’i, hukum salat hari raya adalah sunnah maka boleh dilakukan sendiri seperti salat gerhana. Salat sendiri bisa dilakukan hamba sahaya yang tidak bisa keluar atas izin tuannya, wanita dan musafir. Tentu saja kedua pemikiran ini memiliki dalil masing-masing dan tidak perlu saling menyalahkan, bukankah perbedaan itu adalah Rahmat-Nya.

Apa yang menjadi rujukan kita dalam memilih salah satu alternatif diantara kedua pilihan tersebut adalah “keyakinan”. Keyakinan dan kepercayaan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran (Wikipedia Indonesia).

Keyakinan dan kepercayaan tersebut yakni persesuaian antara pengetahuan dan objek, bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yang sesuai dengan (tidak ditolak) oleh orang lain dan tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Contoh: Pada suatu masa, manusia pernah meyakini teori Darwin, tentang asal usul manusia, namun belakangan teori tersebut bisa dibantah jika ada penemuan-penemuan baru hasil penelitian yang sesuai dengan validitas data dan fenomena yang terjadi saat ini.

Sedangkan kepercayaan adalah suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premis benar yang sesuai dengan objek, yakni pengetahuan yang obejektif. Karena suatu objek memiliki banyak aspek, maka sulit untuk mencakup keseluruhan aspek (mencoba meliputi seluruh kebenaran dari objek tersebut). Hubungan antara kepercayaan dengan ilmu pengetahuan terjalin dengan sangat erat.

Orang-orang yang berkepercayaan biasanya dalam berargumen berkata bahwa mereka tahu segala mengenai argumentasi. Hubungan antara berkepercayaan dan ilmu pengetahuan adalah bahwa ilmu pengetahuan adalah bagian dari berkepercayaan jika berkepercayaan itu benar, dan jika berkepercayaan memiliki alasan pembenar (wajar dan harus masuk akal pernyataan / bukti / petunjuk), termasuk dalam menyikapi dulisame pelaksanaan lebaran, antara salat di rumah dan salat di lapangan atau masjid.

Lebaran adalah hari yang sangat dinantikan oleh umat muslim setelah sebulan lamanya melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan. Banyak yang dipersiapkan demi menyambut hari lebaran yang merupakan hari kemenangan bagi umat muslim tersebut, seperti yang pernah penulis uraikan di edisi sebelumnya, bahwa umat muslim khususnya di Indonesia selalu menjadikan momen di bulan ramadan ini sebagai media beramal dengan berbagi terhadap sesama karena ada keutamaan yang diyakini jika kita beramal di bulan ramadan.

Suasana tersebut pada bulan ramadan tahun ini serasa memilukan, banyak hal yang dirasakan hilang dengan masih “darurat”nya kondisi saat ini. Sudah hampir tiga bulan lamanya belum ada tanda-tanda Corona akan “menghilang”, sehingga dibeberapa daerah masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diperpanjang. Bahkan dibeberapa daerah tindakan tegas diterapkan terhadap tindakan pelanggaran. Itu artinya belum ada kepastian kapan musibah Corona ini akan berakhir.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan masyarakat saat ini untuk tidak mempersiapkan berbagai hal menyambut lebaran seperti biasa. Salah satunya dikarenakan tahun ini pemerintah sudah menghimbau untuk tidak mudik, menganjurkan tidak ada tradisi silaturahmi, tidak boleh ada kerumunan, dan lain-lain. Artinya tidak ada anggota keluarga atau sanak famili dekat maupun jauh yang dinantikan untuk berkunjung ke rumah kita ataupun kita yang berkunjung ke rumah mereka, jadi tidak ada persiapan istimewa seperti biasanya.

Begitu pula dengan pelaksanaan salat Ied yang biasa dilaksanakan bersama-sama (berjamaah) oleh seluruh masyarakat, tahun ini kemungkinan akan lain suasananya dengan tahun-tahun sebelumnya.Karena kita percaya siapapun tidak pernah berharap akan adanya kondisi seperti ini, tradisi “nyandang” (membeli pakaian baru untuk menyambut lebaran baik untuk pribadi maupun untuk berbagi dengan orang lain) pun sepertinya akan berlalu pada lebaran tahun ini.

Hal itu diungkapkan oleh beberapa pedagang pakaian, yang sangat menantikan bulan ini dan berharap bisa “panen” pada bulan ramadan, alasannya karena apabila menjelang lebaran omzet penjualan akan meningkat, tahun ini sangat memilukan bagi mereka, karena adanya peraturan PSBB yang mengharuskan toko-toko selain distribusi kebutuhan pokok dilarang beraktifitas (wajib tutup total), tidak ada pilihan lain bagi mereka selain mengikuti aturan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Publik melihat sisi positif dari semua kejadian ini dan bisa mengambil hikmah dari semua musibah yang kita hadapi bersama, bahwa akan muncul satu pernyataan yang luar biasa yakni: sejatinya manusia hanya mampu merencanakan banyak hal, hanya Allah SWT yang berhak menentukan apapun yang terjadi pada seluruh mahluk dimuka bumi ini. Jika kita semua menyadari dan meyakini hal tersebut, tidak akan muncul kejadian atau hal-hal yang bersifat negatif dalam menyikapi keadaan sekarang ini.

Fitrah tujuan utama lebaran adalah kembali ke kesucian setelah melewati masa ujian selama satu bulan penuh, seluruh umat muslim melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan dengan mengharap Rida-Nya dan sejatinya dalam bulan ramadan terdapat malam seribu bulan yaitu malam lailatul qadar, yaitu malam yang penuh berkah dan ampunan bagi setiap insan yang memohon dengan sungguh-sungguh kepada Sang Khalik. Bukan tentang lebaran harus memakai pakaian baru atau tentang lebaran harus mudik karena seyogyanya tujuan utama tersebut tak akan luput dari dalam diri kita walaupun lebaran tahun ini dilaksanakan dalam situasi pandemi Corona.

Penulis berharap publik tetap menjalankan apa yang sudah menjadi Takdir-Nya dengan sabar, tawakal dan penuh ketulusan, karena hanya orang-orang sabar dan tawakal dengan keyakinan yang tulus yang bisa merasakan Nikmat-Nya dengan penuh rasa syukur diatas nilai-nilai kesabaran dan kesederhanaan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy