Khotbah di Pelataran, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Khotbah di Pelataran, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Yalah. Shalat di rumah saja. Tapi di pelataran. Kategori dari biasanya. Lebih dari lima saf itu sudah banyak. Dan, inilah khotbah singkat itu. Tentu, mukaddimah, penutup dan doa tak kutuliskan. Begini bunyinya: Mengawali khutbah Idulfitri ini, perkenankan saya menyampaikan beberapa hal terkait keadaan yang mengharuskan kita semua untuk tunduk dan patuh pada anjuran pemerintah bahwa yang pertama, berkumpul dilarang.

Kedua, diimbau untuk saalat di rumah saja. Ketiga, jaga jarak. Keempat, patuhi protokol penanganan Covid-19, cuci tangan, gunakan hand sanitzer, dan gunakan masker.
Oleh karena itu, kita semua di tempat ini, semua jemaah Idulfitri yakin seyakinnya bahwa kita berkumpul bersaf-saf dalam keadaan rapi, lebih rapi daripada berkumpulnya orang di pasar, tempat bersih lebih bersih dari pasar.

Dua tempat yang sudah menjadi kebutuhan manusia sehari-hari khususnya umat Islam adalah masjid dan pasar. Masjid adalah tempat kaum muslimin berhubungan dengan Allah Ta’ala, sedangkan pasar adalah tempat berlangsungnya hubungan muamalah (antarmanusia). Akan tetapi, di dalam sebuah hadis dikatakan, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah pada masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim).

Karena itu, dengan tetap memperhatikan protokol penanganan Covid-19, maka salat kita hari ini sesuai sabda Rasulullah SAW. Ini untuk kita ketahui bersama karena jemaah masjid kita termasuk umat muslim Indonesia, selama pandemi Covid-19 benar-benar terpolarisasi dalam menjalankan ibadah terutama salat jemaah di masjid-masjid.

Dalam dua tahun terakhir, Ramadan dan Idulfitri sama-sama kita rayakan saat bangsa ini masih dirundung oleh ragam ujian. Ramadan dan Idulfitri tahun lalu, suasana kebatinan kita diusik dengan seteru antar elit bangsa ini, antar elit politik yang resonansinya sampai ke daerah-daerah, yang sudah tentu juga mengusik keikhlasan dalam bersilaturrahmi.
Ramadan dan Idulfitri tahun ini, tak ada lagi seteru elit. Tetapi kemudian, suasana kebatinan kita kembali terusik dengan hadirnya virus Corona yang melumpuhkan segala sendi kehidupan. Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.

Saya berdiri, berkhotbah ini, para jemaah membentang sajadah di luar rumah. Tak ada maksud sedikit pun atau niat mengabaikan imbauan pemerintah, hanya semata-mata kita semua mengharap keridaan Allah SWT. Kita datang untuk bermunajat. Ingin mengetuk pintu langit, mengharap pertolongan Allah Azza Wajalla agar pandemi Covid-19 segera hilang dari bumi Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara.

Pandemi Covid-19 yang membuat jemaah terpolarisasi dalam beribadah khususnya salat jemaah di masjid-masjid, sadar atau tidak disadari telah menjadikan kita semua masuk dalam sebuah garis peradaban yang akan dicatat dalam lembaran dakwah maupun sejarah.
Kita semua akan menjadi pelaku sejarah. Dan, generasi setelah kita akan mencatatnya sebagai sejarah peradaban.

Generasi kita akan mencatat, seperti juga kita yang ada saat ini mencatat sejarah peradaban masa lalu dalam perjalanan zaman. Beberapa kejadian dalam perjalanan zaman, para ulama, para dai kerap kali mendakwakan bahwa ada peristiwa laut terbelah di zaman Firaun.

Ada peristiwa air bah di zaman nabi Nuh. Ada peristiwa hijrah di zaman Nabi Muhammad SAW, dan peristiwa-peristiwa di setiap zaman lainnya yang didakwakan oleh para pendakwah. Demikian pula, peristiwa hari ini, dimana generasi kita yang akan datang, para dai yang akan berdakwah pada 100, 200 tahun yang akan datang dan setelahnya.

Mereka akan mendakwakan bahwa terdapat suatu fase kehidupan manusia, terdapat suatu zaman dimana terdapat suatu negeri yang dihuni mayoritas kaum muslimin, tak menjalankan idulfitri di lapangan terbuka, terdapat pelarangan salat jemaah di masjid-masjid dan negeri itu adalah Indonesia.Para dai akan mendakwakan bahwa pernah terjadi di suatu fase kehidupan bahwa pernah beredar video kekosongan jemaah di Masjidil Haram.
Jemaah Rahimakumullah. Kita semua harus menstabillo bahwa kehidupan dunia ini hanyalah tipu daya. Harta dan anak-anak kita semua adalah tipu daya. Jangan sampai kesenangan kita terhadap harta dan anak-anak melampaui kesenangan kita kepada Allah. Harta kita bukan punya kita.

Harta menjadi milik kita ketika kita masih memiliki hidup dan sertifikat tanah masih atas nama kita. Tetapi ketika sang pemilik hidup telah memanggil kita, maka harta yang begitu menyenangkan menjadi milik orang lain dan sertifikat dan BPKB pun sudah balik nama. Satu generasi mungkin masih jatuh ke tangan anak-anak kita, tetapi di generasi berikutnya, harta yang dulu menghalangi untuk dekat dengan Allah telah beralih menjadi milik orang lain.

Anak yang dulu begitu kita sayangi dan mencintai, kita manjakan dengan kehidupan dunia, setelah kita meninggalkan dunia ini, ternyata mereka tak sekalipun menengok batu nisanmu. Anakmu tak sekalipun melantunkan doa Rabbighfirli Waliwalidayya, Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghiira untukmu yang sudah diakhirat. Kenapa? Karena anda larut dalam kesasayangan dunia, sayang anak ketimbang sayang untuk kepentingan akhirat. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy