Ekonomi Sultra 2020 Diprediksi Hanya Tumbuh 4,3 Persen – Kendari Pos
Ekonomi & Bisnis

Ekonomi Sultra 2020 Diprediksi Hanya Tumbuh 4,3 Persen

Pembangunan Jembatan Teluk Kendari untuk menunjang sistem jaringan jalan dari Kota Lama menuju Poasia yang berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi kawasan. Akibat pandemi Covid-19, pembangunan fisik dihentikan sementara karena pemerintah fokus pada penanganan Covid-19. Kebijakan ini pun berakibat pada pelambatan pertumbuhan ekonomi Sultra.

KENDARIPOS.CO.ID — Perekonomian Sulawesi Tenggara (Sultra) triwulan I 2020 hanya tumbuh 4,37 persen (yoy), melambat dibanding triwulan I 2019 sebesar 6,39 persen. Meskipun melemah, capaian tersebut lebih tinggi dari perekonomian nasional maupun rata-rata pulau Sulawesi yang juga mengalami perlambatan, masing-masing sebesar 3,0 persen (yoy) dan 3,8 persen (yoy).

“Pandemi Covid-19 yang mulai merebak pada awal tahun 2020 di Tiongkok dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia dan Sultra. Hal ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Sultra pada triwulan I 2020,” ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sultra, Suharman Thabrani, kemarin.

Lanjut dia, dari sisi permintaan, penurunan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2020 dipengaruhi oleh perlambatan pada sektor-sektor utama perekonomian Sultra. Konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tumbuh seiring telah berlalunya periode libur dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) pada akhir tahun 2019. Pemberlakuan social distancing sebagai upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 di Sultra berdampak pada terbatasnya konsumsi masyarakat.

Di samping itu, kata Suharman, penurunan yang cukup signifikan terjadi pada investasi yang disebabkan oleh terbatasnya pembangunan yang dilakukan oleh swasta dan pemerintah seiring dengan pengetatan akses masuk SDM maupun barang serta refocusing untuk penanganan Covid-19. Perlambatan juga terjadi pada kinerja ekspor Sultra yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain dampak dari larangan ekspor bijih nikel kadar rendah yang efektif per 1 Januari 2020 serta perekonomian Tiongkok yang mengalami kontraksi pertumbuhan pada triwulan I 2020 sehingga berdampak pada kinerja ekspor Sultra mengingat Tiongkok sebagai mitra dagang utama.

“Meskipun demikian, perlambatan perekonomian Sultra dapat tertahan oleh penurunan kinerja pada impor terutama impor antardaerah seiring pengetatan akses keluar masuk selama penerapan social distancing,” imbuhnya.

Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi Sultra terutama disebabkan oleh perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta lapangan usaha industri pengolahan. Penurunan kinerja pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian disebabkan oleh berlakunya larangan ekspor bijih nikel kadar rendah sehingga berdampak pada produksi pertambangan.

Sementara itu, terang Suharman, masih terbatasnya pembangunan oleh pemerintah maupun swasta mengakibatkan perlambatan pada kinerja lapangan usaha konstruksi. Penerapan social distancing sebagai penyebab tingkat konsumsi masyarakat yang cenderung menurun juga turut memberikan dampak terhadap kinerja lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. Disamping itu, perlambatan pertumbuhan juga terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan diakibatkan oleh based effect pertumbuhan periode sebelumnya serta telah beroperasionalnya smelter di Sultra dengan kapasitas optimalnya.

“Meskipun demikian, perlambatan pada lapangan usaha utama tersebut dapat sedikit tertahan oleh akselerasi pada lapangan usaha pertanian. Berlangsungnya periode penangkapan ikan serta dampak pandemi Covid-19 yang cukup rendah terhadap lapangan usaha pertanian, mampu mendorong terjadinya akselerasi pertumbuhan lapangan usaha,” bebernya.

Melihat kondisi tersebut, kata dia, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada tahun 2020 diperkirakan akan berada pada kisaran 3,9 persen hingga 4,3 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 yang sebesar 6,5 persen (yoy). Berlangsungnya pandemi Covid-19 dinilai menjadi faktor utama penurunan pertumbuhan ekonomi Sultra.

Dijelaskan Suharman, ada sejumlah faktor yang akan menjadi penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi Sultra pada tahun 2020. Pertama, pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintah akan tertahan seiring dengan penghentian sementara pengadaan barang dan jasa yang difokuskan pada penanganan Covid-19. Kemudian, pemberlakuan social distancing memberikan dampak pada konsumsi masyarakat terutama pada non bahan makanan, penundaan Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap 11 kabupaten/kota sebesar 35 persen berpotensi menurunkan kinerja konsumsi pemerintah, pengetatan akses keluar masuk untuk manusia dan barang diperkirakan akan berdampak pada investasi yang dilakukan oleh swasta, kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia dapat berdampak pada perdagangan luar negeri di Sultra, serta harga nikel dunia diperkirakan akan mengalami penurunan.

Sementara itu, faktor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra meliputi kinerja industri pengolahan diperkirakan akan mengalami peningkatan didukung oleh kapasitas produksi smelter dan industri olahan logam yang masih cukup tinggi, program bantuan dari pemerintah seperti peningkatan bansos nontunai, rencana pelaksanaan bantuan langsung tunai, insentif bagi UMKM dan tenaga medis, program prakerja dan tingkat inflasi yang rendah diperkirakan dapat menjaga tingkat konsumsi rumah tangga. (b/uli)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy