“Corona“ Dilema Perempuan, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

“Corona“ Dilema Perempuan, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si, Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

KENDARIPOS.CO.ID — Peranan perempuan menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, masalah akan menjadi beban yang sangat berat, namun berbagai alasan mengharuskan perempuan tetap kokoh dan tangguh. Masalah Pandemi Corona Covid-19 yang kini sedang melanda Bumi Pertiwi dan dunia, bukanlah menjadi hambatan bagai seorang perempua. Yang menjadi pertanyaannya adalah, mampukah perempuan Indonesia menghadapinya? Hal apa saja yang bisa diperankan perempuan Indonesia dalam menghadapi masalah yang sangat global ini?.

Menelisik tulisan Prof. Hanna pada kolom Gadis 22 April 2020 terbitan Kendari Pos tentang perempuan-perempuan hebat Indonesia selain Kartini, jelas bahwa dalam sejarah khususnya di Indonesia tercatat banyak perempuan hebat yang bisa dijadikan cermin ketangguhannya bagi perempuan masa kini. Menurut Hanna tercatat dalam sejarah beberapa nama selain Kartini di Indonesia diantaranya Colliq Pujie, Opu Daeng Risadju, Emmy Saelan di Sulawesi Selatan dan Wa Ode Wou di Sulawesi Tenggara, dan banyak lagi sosok-sosok perempuan hebat lainnya.
Artinya bahwa perempuan Indonesia terukir dalam sejarah sebagai perempuan yang hebat dan tangguh, tetapi sampai saat ini dalam perspektif keadilan antara laik-laki dan perempuan masih belum imbang atau tidak setara, perempuan seringkali dianggap sebagai sumber masalah.

Antik Bintari, M.Si dalam Webinar UNPAD 24 April 2020 mengatakan: WID (women in development) perempuan dalam pembangunan, bagaimana melibatkan perempuan, seperti partisipasi, peran bisa sekedar hadir, mendengarkan. Perempuan dianggap sebagai masalah. GID (gender in development) perspektif keadilan antara laki-laki dan perempuan, karena pembagian peran yang tidak Imbang atau tidak setara menimbulkan masalah. Yang dibutuhkan adalah perspektif gender. Perspektif perempuan karena akibat ketidakadilan gender perempuan lebih banyak dirugikan (menjadi korban).

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs (Sustainable Development Goals) dalam point kelima disebutkan: (1) mengakhiri segala bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan dimanapun; (2) Menghilangkan segala bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan diruang publik dan pribadi, termasuk perdagangan manusia dan eksploitasi seksual serta berbagai jenis eksploitasi lainnya; (3). menghilangkan semua praktek berbahaya, seperti pernikahan anak, pernikahan dini dan paksa, serta sunat perempuan; (4). menjamin partisipasi penuh dan efektif dan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memimpin di semua tingkat pengambilan keputusan dalam kehidupan politik, ekonomi dan masyarakat; (5) Menjamin akses universal terhadap kesehatan seksual dan reproduksi yang telah disepakati sesuai dengan Programe of Action of the International Conference on Population and Development and the Beijing Platform serta dokumen-dokumen hasil review dari konferensi-konferensi tersebut.

Dalam pernyataan tersebut jelas bahwa kaum perempuan memiliki hak perlindungan yang sangat besar, namun pada kenyataannya masih banyak ditemukan kasus-kasus penindasan dan intimidasi terhadap kaum perempuan, khususnya di Indonesia. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menjadi kendala saat kaum perempuan ingin memposisikan diri sebagai “strong figure” dalam menghadapi masalah kehidupan.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh Ida Widianingsih, M.A., PhD. ditemukan bahwa perempuan yang aktif di politik itu tidak selalu menunjukkan bahwa dia “powerfull enough” dan bisa melakukan banyak perubahan signifikan. Beberapa diantaranya masuk karena syarat kuota dan dia seolah-olah (menjadi) pengambil keputusan utama. Ida mengatakan “sementara kebebasan berpendapat membantu mereka (perempuan) berekspresi.”

Hal tersebut membuat ruang gerak kaum perempuan sangat terbatas. Banyak hal yang bisa diperankan oleh kaum perempuan Indonesia, namun batasan yang diberikan cukup membuat kaum perempuan hanya bisa menatap sendu atas apa yang diharapkannya, hanya sebagian kecil saja yang bisa mendapatkan secara utuh harapannya tersebut. Faktanya, total UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Indonesia tahun 2018, 64 persen diantaranya dikelola perempuan (Bappenas, Januari 2019) – melalui UMKM kontribusi perempuan, 60 persen terhadap PDB; banyak pekerja perempuan yang harus mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan.

Hingga 16 April 2020, ada sekitar 2.385 orang pekerja yang di PHK dan dirumahkan akibat pandemi global tersebut, sekitar 762 orang atau 31 persen nya adalah pekerja perempuan. Pada April 2020, ada sebanyak 4.144 orang PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang dipulangkan dari negara-negara terdampak Covid-19, dimana 83 persennya merupakan perempuan. Masalah mulai timbul setelah mereka pulang ke Indonesia karena tidak semua PMI memiliki mata pencaharian. Yang menjadi permasalahan juga datang dari para ibu rumah tangga yang bebannya bertambah dengan adanya keharusan mendampingi anak-anaknya tugas belajar dirumah.

Pendampingan dan pengasuhan bagi anak selama Belajar di Rumah (BdR) juga menimbulkan beban ganda, khususnya bagi perempuan sebagai ibu yang juga bekerja. Potensi terjadinya kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan, anak dan kelompok rentan lainnya dimasa pandemik.

Sebanyak 205 kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dialami perempuan selama masa pandemi Covid-19 (Data SIMFONI PPA [Perlindungan Perempuan dan Anak], 23 April 2020). Dalam Gugus Tugas Covid-19, kementerian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Republik Indonesia belum dimasukkan sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanganan Covid-19.

Hal ini menegaskan bahwa sebagian besar kaum perempuan Indonesia belum bisa maksimal diposisikan sebagai “penangkal masalah” saat dihadapkan pada situasi darurat seperti saat ini ketika “wabah” Corona melanda, kita hanya bisa pasrah terhadap keadaan walaupun gejolak ingin berupaya dan “melawan” sangat besar. Dengan kekuatan semangat juang yang dimiliki oleh Kartini dan para pejuang perempuan Indonesia lainnya penulis berharap kaum perempuan Indonesia bukan hanya harus tangguh melainkan tidak boleh lemah dan mampu menghalau “badai kehidupan” karena kita sebagai kaum perempuan adalah pewaris kekuatan bagi generasi penerus bangsa.

Hal sekecil apapun bisa kita sumbangkan demi Bumi Pertiwi tercinta. Jadikan keterbatasan yang dimiliki sebagai modal dasar kekuatan yang bisa dibentuk dengan modal produktif, kreativitas dan inovasi. Perempuan harus bangkit menjadi garda terdepan sebagai penguat barisan dalam melawan dan memutus mata rantai virus Corona ini, dengan hal kecil yang bisa kita lakukan adalah membuat nyaman keluarga untuk diam dirumah. Aktivitas yang biasa kita lakukan sebagai perempuan bisa dengan meningkatkan kepedulian terhadap keluarga, “ekstra proteksi” terhadap kebersihan keluarga dan lingkungan serta ”memenej” dan menjadwalkan aktivitas positif yang bisa membuat keluarga tidak jenuh untuk tetap bekreativitas didalam rumah.

Covid-19 merupakan hal terbaru dalam garis epidemi yang menimbulkan kesenjangan ekonomi termasuk yang terkait dengan gender, pembangunan berkeadilan adalah yang melibatkan semua pihak dalam setiap tahapannya termasuk perempuan dan kebijakan pembangunan yang Responsive Gender menjadi sebuah keharusan dalam pemenuhan hak warga Negara (Antik Bintari). Penulis berharap perempuan Indonesia mampu menjawab semua masalah terkait Covid-19 yang kini sedang dihadapi, membangun mental generasi penerus dengan tetap berkarya sesuai kemampuan yang dimiliki dan tetap optimis menatap masa depan yang lebih baik lagi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy