Belajar dari Covid- 19, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Belajar dari Covid- 19, Oleh: Prof. Hanna

Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei biasanya diperingati dengan berbagai aktivitas yang menunjukkan eksistensinya sebagai departemen yang mencetak sumber daya manusia unggul. Tahun ini peringatan itu sangat sederhana tetapi justru memberikan kejutan luar biasa, yakni tema yang diangkat adalah menantang publik untuk mengubah perilaku berpikir manusia yakni “belajar pada Covid-19”.

Masyarakat atau insan pendidikan tetap dapat memperingati dan memeriahkan Hardiknas Tahun 2020 dengan melakukan beragam aktivitas kreatif yang menjaga dan membangkitkan semangat belajar di masa darurat Covid-19 dan mendorong pelibatan dan partisipasi publik, serta mematuhi protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem saat diwawancarai Najwa Shihab di acara Belajar dari Covid-19 yang disiarkan langsung lewat akun Youtube Kemendikbud RI menjelaskan bahwa selalu ada hikmah dibalik sebuah masalah (pandemi Covid-19).

Ya, pandemi Covid-19 nyatanya memang membatasi setiap aktivitas atau pergerakkan masyarakat. Sektor pendidikan misalnya, terpaksa melakukan aktivitas belajar mengajar tanpa bertatap muka atau dilakukan secara online. Kegiatan yang rutin dilakukan para satuan pendidik dan siswa dengan mengandalkan teknologi pun membentuk normalitas baru di dunia pendidikan. Bahkan kini, kegiatan mengajar bukan hanya terjadi antara guru dan murid saja, tapi guru, murid, dan orang tua.

Untuk pertama kalinya kita melihat dari dua sisi. Covid-19 telah menghentikan semua aktivitas kota di seluruh dunia dan telah merubah perspektif kita terhadap ruang kota menjadi sebuah ruang yang abstrak. Aktivitas berkumpul, jalan-jalan dan melakukan kegiatan bersama di ruang kota adalah sesuatu hal yang harus dihindari dan diminimalkan. Ruang-ruang kota telah berubah menjadi tempat yang menakutkan untuk dikunjungi.

Rasa tidak aman akan terjangkit Covid-19 menghantui warga kota setiap akan keluar rumah, kecuali keadaan terpaksa. Saat keputusan pemerintah mengharuskan setiap orang melakukan social distancing dan meliburkan semua aktivitas sekolah dan kantor, maka dunia kita hanyalah sebesar ukuran lahan rumah kita.

Tulisan saya beberapa minggu lalu di koran ini bahwa Covid-19 mengajari atau mematikan. Berbagai literatur yang saya baca, lalu saya berkesimpulan bahwa corona lebih banyak mengajari manusia daripada mematikan, karena semua agama berpandangan dan meyakini bahwa kematian adalah kehendak Tuhan bukan karena penyakit. Namun kita tetap waspada untuk mengikuti anjuran pemerintah. Sebagaian orang berfikir corona adalah sebuah wabah yang membuat kita selalu khawatir dan takut terhadap segala hal yang memungkinkan penyebaran corona, namun tidak sedikit orang yang berpandangan berbeda yakni corona membawa dampak positif karena mengajari kita berbaga hal.

Pertama, mengajari publik untuk mengubah pola pikir dari impossible ke possible. Perubahan pola pikir ini tidak serta merta terjadi namun diperkuat oleh dalil, antara awalnya orang berpikir bahwa tidak mungkin salat jumat di masjid ditiadakan, namun kenyataanya itu terjadi yang didukung oleh dalil kuat.Demikian juga orang berpandangan bahwa umrah, tidak mungkin tidak dilaksanakan, namun kenyataannya tidak diadakan karena ada dalil yang mendukung. Ada juga yang berpandangan bahwa salat tarawih itu tidak mungkin ditiadakan namun kenyataannya banyak masjid yang meniadakan dan ada juga yang mengadakan tergantung persepsi kita.

Kedua, Corona mengajari publik tata asas, seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Indoesia adalah bangsa yang majemuk, karena kemajemukannya maka awalnya akan diragukan tentang ketaatatan asas dari pelaksanaan kebjakan pemerintah di atas karena berbagai sudat pandang yang berbeda, namun dengan hadirnya Corona ini ternyata masyarakat sadar akan pentngnya untuk mengikuti anjuran pemerntah.

Ketiga, Corona mengajari publik bagaimana mengerti bahwa tugas guru itu berat. Orang tua sadar betapa sulitnya mendidik anak dan empati terhadap guru meningkat secara drastis. Di sisi lain, guru juga menyadari untuk pertama kalinya, tanpa adanya peran orang tua yang baik dalam pendidikan, pendidikan anak tidak akan sukses.

Keempat, kita diajari bagaimana hidup mandiri.Dengan kebijakan physical distancing ini mengajari publik bagaimana hidup mandiri, tidak tergantung pada orang lain. Jaga jarak ini bukan hanya berlaku di tempat umum, tetapi juga berlaku di seluruh rumah tangga di setiap keluarga. Karena diantara keluarga belum tentu semuanya itu negatif, belum tentu seluruh anggota keluarga itu aman dari virus Corona ini.

Kelima, dengan corona mengajari kita untuk lebih banyak meminta kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Segala-galanya, banyak tafakkur. Keenam, dengan corona kita diajari bagaimana hidup di alam yang modern dengan memanfaatkan teknologi canggih, dalam proses belajar yang efektif. Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan perilaku.

Tidak sedikit publik yang menguasai teknologi seperti zoom, seperti google meet yang sangat menguntungkan proses belajar mengajar kepada mahasiswa, dan tidak tertutup kemungkinan ke depan pasca Corona, metode pembelajaran tatap muka akan berubah menjadi metode pembelajaran yang modern, demi mengefisienkan belanja negara. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy