VIRUS CORONA di Lembaran Lusuh, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

VIRUS CORONA di Lembaran Lusuh, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Wabah itu apa sih? Pengertian saya yang nonmedis, wabah artinya banyak. Banyak yang sakit dan, mati. Pengertian nonmedis saya, wabah penyakit artinya, banyak yang sakit. Sakitnya serupa. Dan, banyak. Banyak yang sakit.

Terus, di Tobuuha ada wabah ndak? Tidak ada. Karena tidak ada yang sakit. Kalaupun ada yang sakit, yah, paling satu dua.
Di Kendari ada wabah ndak? Oooo, kalau itu saya tidak bisa komen. Tapi, kalau wabah diartikan dengan banyak sakit dan, mati, maka di Kendari tidak ada wabah. Lalu kenapa responsnya seolah-olah wabah penyakit yang mematikan sudah diambang pintu?

Yah, karena nasional meresponsnya seperti itu maka kita pun mesti merespons yang sama. Tapi, kalau wabah diartikan dengan banyak yang sakit dan mematikan maka di Kendari tak ada wabah.

Terkait wabah virus corona, yang kemudian pemerintah membentuk gugus tugas untuk menghalaunya, saya pun turut waspada. Saya tidak waspada konyol, tapi, saya waspada dengan berpikir.

Saya berpikir, virus corona itu apa sih? Bernarkah virusnya seperti video yang disebar di media sosial yang hanya dengan bersentuhan kulit virusnya langsung menjalar?

Saya berpikir, apakah penyakit corona ini penyakit baru? Saya berpikir, di Tobuuha tak ada yang meninggal, tapi kenapa orang-orang Tobuuha ikut mengurung diri dalam kamar? Karena takut jangan sampai tertular andai keluyuran? Ada yang saja yang keluar rumah, hilir mudik, ke pasar, ke pelelangan ikan, ke pasar lagi, ke pelelangan lagi, tapi tak ada yang sakit. Lalu, corona itu apa sih?

Dalam rasa was-was, datanglah seorang membawa lembaran-lembaran lusuh. Dalam lembaran lusuh itu, tertulis virus corona. Saya perhatikan. Memang, lusuh lembarannya. Saya tanya, lembaran ini kapan kamu bukukan? Seseorang itu menjawab: empat tahun lalu. Oh, pantas lusuh.

Dalam lembaran lusuh itu, Virus Corona terulis di baris KEDUA. Baris KETIGA tertulis Virus-virus Lainnya. Lalu, virus apa yang tertulis di baris PERTAMA? Oh, ternyata FLU. Pengertian saya, virus yang tertulis pertama pastilah virus yang dinomorsatukan, virus yang tertulis KEDUA pastilah dinomorduakan dan Virus KETIGA pasti pula dinomortigakan, dan seterusnya.

Kalau anda sepakat dengan penomoran itu maka anda berpikir seperti saya, dan jika tak sependapat dengan itu, bisa jadi yang menulis di lembaran ini tak sempurna pemahamannya dalam dunia per-VIRUS-an.

Saya kaget, ternyata virus pertama yang ditulis adalah FLU.
Saya kaget. Dalam hatiku yang non medis ini, kok virus corona dikelompokkan dalam keluarga flu, itupun dinomorduakan. Jika mengacu dari daftar obat di lembaran lusuh itu, seolah-olah FLU lebih berbahaya ketimbang virus corona. Jika daftar obat ini benar, maka corona sesungguhnya masuk dalam keluarga besar flu, pilek dan demam.

Saya teringat mula flu burung menggaung. Ketakutan terhadap wabah flu burung ketika itu, mirip dengan ketakutan terhadap virus corona saat ini. Bedanya, cara lockdown. Jika lockdown corona dengan cara menutup akses keluar masuk suatu wilayah, maka lockdown flu burung bentuknya: semua burung dimusnahkan.

Hilangkah flu burung? Ya, hilang seketika. Kok bisa hilang? Ya, mungkin karena disemprotkan obat seperti juga penyemprotan corona saat ini. Eiit tunggu dulu. Saat itu sampai kini, saya perlihara burung merpati. Musim flu burung saya biarkan. Tidak diobat. Tidak disemprot. Tidak diapa-apakan. Bebas terbang kemana saja. Ingka tidada yang mati bela. Sekarang justru tambah banyak.

Bahkan, saya kewalahan memberi pakan. Andai Gubernur memintanya untuk dilepas ditaman kantor gubernur, atau wali kota memintanya untuk dilepas di taman kantor wali kota, saya ikhlas melepasnya. Ikhlas karena berat memberi makan makhluk Tuhan yang jumlahnya 400-an ekor.

Lho, kok tulisannya lari ke persoalan pakan burung Merpati? Ini kan tulisan tentang Corona? Oh, ya. Maafkan saya. Tentang virus corona, hati kecilku membisik: janganmi terlalu dirisaukan. Mereka bilang, masa serangnya 14 hari. Artinya, dalam rentang waktu 14 hari serangan corona itu, mestinya yang mati, matimi. Yang sehat, sehatmi.

Nah, sekarang kayanya sudah sebulan lebih. Atau, tarolah satu bulan. Artinya, ancaman kematian karena corona ndak ada apa-apanya. Catatan lembaran lusuh itu bilang: corona adalah keluarga besar flu dan pilek.

Kalau sakit karena keluarga besar flu dan pilek, gampang obatnya: Makangkan Coto. Panas-panas. Tambakang deng lombonya. Tapi, ini semua pendapat dan pemikiran saya sebagai orang tentang ilmu kesehatan. Tapi yang namanya penyakit tidak boleh kita bermain-main. Karena itu, anjuran pemerintah, apalagi mereka-mereka yang berkompeten di bidang kesehatan, tetap harus kita ikuti. Maafkan jika keliru. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy