Stok Gula Minim, Disperindag Pastikan tidak Ada Penimbun – Kendari Pos
Ekonomi & Bisnis

Stok Gula Minim, Disperindag Pastikan tidak Ada Penimbun

Kepala Disperindag Sultra, Siti Saleha (kanan) saat meresmikan pasar murah beberapa waktu lalu.

KENDARIPOS.CO.ID– Harga gula pasir konsumsi di Kota Kendari terus mengalami kenaikan. Pantauan Kendaripos.co.id pada Minggu (12/4), per kg gula pasir rata-rata dibanderol seharga Rp 22 ribu baik di pasar tradisional, swalayan, maupun warung kelontong. Sejumlah pedagang bahkan mengaku telah kehabisan stok.

Kepala Disperindag Sultra, Siti Saleha (kanan) saat meresmikan pasar murah beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tenggara (Sultra), Siti Saleha saat dihubungi mengatakan, pasokan gula secara nasional saat ini memang sedang minim. Hal tersebut yang kemudian memicu kenaikan harga. Ia menegaskan bahwa tidak ada spekulan atau oknum yang sengaja menimbun gula sehingga menyebabkan kelangkaan stok dan kenaikan harga.
“Gula mahal karena distributor minim pasokan. Kami sudah cek di beberapa gudang distributor, memang stoknya terbatas. Tidak ada yang menimbun. Kementerian Perdagangan juga sudah membuka keran impor. Kita akan mendapatkan tambahan stok gula,” ujar Siti Saleha kepada Kendari Pos, kemarin.
Lanjut dia, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar pasar murah guna menekan kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok jelang Ramadan dan di tengah pandemi Covid-19. “Pasar murah merupakan agenda rutin kita. Karena sekarang sedang ada Covid-19, maka mekanisme pelaksanaannya akan diubah. Yang pasti, paket murah ini akan diutamakan bagi mereka yang terdampak terutama masyarakat pra sejahtera. Mudah-mudahan terlaksana dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre Sultra, Ermin Tora yang dikonfirmasi mengatakan bahwa stok gula di gudang Bulog Sultra saat ini masih ada sekira 40 ton. Pihaknya rutin melakukan penjualan langsung kepada masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau. “Kita masih punya stok gula sekitar 40 ton. Ada tambahan lagi 250 ton yang saat ini masih dalam perjalanan,” ujar Ermin saat dihubungi, kemarin.
Pengamat Ekonomi Sultra, Dr Syamsir Nur mengatakan, intervensi pemerintah terhadap gula dilakukan melalui penetapan harga eceran tertinggi (HET) atas kesepakatan antara pemerintah, produsen, dan distributor gula dalam negeri. Hal tersebut dilakukan untuk melindungi konsumen. “Mestinya, harga gula pada konsumen akhir dijual sesuai HET. Karenanya, pemerintah daerah perlu memaksimalkan pengawasan apalagi jika kenaikan berasal dari produsen atau distributor,” ujar Syamsir, Minggu (12/4).
Namun, kata Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo (UHO) ini, kenaikan harga gula bisa jadi karena biaya produksi termasuk biaya distribusi (cost push) yang tinggi dan karena permintaan yang tinggi melebihi supply.
“Mungkin rantai pasoknya terlalu panjang atau tidak efisien. Jika demikian, maka untuk mencapai HET, rantai distribusi harus diperpendek. Langkah ini dapat dilakukan dengan melibatkan BUMN dan BUMD ataupun pihak swasta (distributor gula di daerah),” tuturnya.
Menurutnya, siklus permintaan gula harusnya sudah dipahami oleh pemerintah sehingga bisa dilakukan antisipasi dini agar lonjakan harga tidak perlu terjadi. “Terkait harga eceran yang tinggi, perlu dicek jangan sampai harga yang diperoleh dari distributor atau retailnya mahal. Pengawasan pada rantai distribusi ini yang perlu dicek pemerintah,” tutupnya. (b/uli)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy