Sebait Pernyataan Publik, Oleh: Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

Sebait Pernyataan Publik, Oleh: Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

KENDARIPOS.CO.ID — Beberapa minggu lalu saya menulis di koran ini dengan judul Corona Penyadaran Publik yang pasti. Inti dari tulisan ini adalah publik disadarkan betapa besar pengaruh corona ini pada dunia, membuat dunia tunduk pada sang Khalik pencipta di bumi ini.

Pandemi Corona yang melanda seluruh dunia memberikan satu hikmah yang sangat berharga, yaitu lemahnya manusia serta butuhnya mereka akan Tuhan dan agama sebagai jalannya. Fenomena do’a bersama di Brazil, adzan bersama di Madrid, Spanyol hingga do’a bersama di atap-atap negara Maroko menjadi bukti bahwa manusia itu pada dasarnya meyakini adanya Tuhan, dan agama adalah jalan yang diyakini dapat sampai kepada-Nya.

Pandemi Corona yang menjadi ancaman masyarakat dunia menyadarkan mereka bahwa ternyata manusia itu lemah, dalam hati yang paling dalam mereka meyakini ada Dzat yang Maha Segalanya yaitu Tuhan. Agama sebagai jalan menuju Tuhan menjadi sarana (media) ketika manusia sudah berada di ujung harapan, berada pada keputusasaan.

Ketika pandemi ini semakin menyebar dan memakan banyak korban, maka agama sebagai jalan menuju Tuhan menjadi harapan terakhir dari publik. Teori tentang Publik, saya berpandangan Bogardus mendefinisikan Publik adalah sejumlah orang yang bersatu dalam satu ikatan dan mempunyai pendirian sama terhadap suatu permasalahan sosial.

Pemahaman kita sebagai orang awam terhadap Corona memang sangat dangkal, sehingga kita diarahkan pada dua alternatif tentang Corona.Pertama, corona yang kita pahami dari rujukan-rujukan teori kedokteran dan Alquran. Kedua,
pendapat yang mungkin tidak masuk akal membuat publik semakin galau terhadap Corona. Kegalauan itu akibat beberapa informasi yang antara lain, corona adalah rekayasa manusia, corona adalah wabah virus, corona adalah ujian dari Tuhan, corona disebabkan karena lingkungan kotor, dan informasi lain.

Oleh karena itu, menjawab kegalauan itu kita sadar bahwa (1) kalau hanya kebersihan bisa mencegah Corona, mungkin Italia bebas dari Corona, karena kita tahu bahwa Italia termasuk negara terbersih di Eropa, (2) kalau memang panas bisa membunuh Corona, mungkin Iran tidak akan kena Corona, karena Iran negara gurun yang panas, (3) kalau karena protokoler bisa mencegah Corona, mungkin beberapa pejabat negara, dokter, dan professor tidak akan terpapar Covid- 19, karena hidupnya paling protokoler, hati-hati dan terjaga.

Dari beberapa kemungkinan ini, yang perlu kita jawab adalah, banyak yang orang hidup apa adanya. Jika ini menjadi rujukan pasti merekalah yang pertama kali terpapar dengan corona, namun kenyataannya mereka masih baik-baik saja.

Kondisi ini membuat saya untuk membaca tulisan Pebrianto, melalui liputan 6.com, tanggal 9 April 2020, dia mengklaim bahwa wabah penyakit muncul setiap satu abad dengan angka terakhir 20. Kata Pebri, kalau dibaca, ia mungkin kedengaran seperti memes atau bahan jenaka dikaitkan dengan wabah penyakit yang bermula di China dan kini kian menular ke seluruh dunia.

Ia memberikan data bahwa pada tahun 1720, dunia diperlihatkan dengan penularan wabah The Great Plague of Marseille yang membunuh kira-kira 100 ribu orang di Marseille, Perancis. Penyakit ini disebarkan melalui lalat yang membawa bakteria penyebab penyakit ini. Bakteri Yersinia pestis dibawa dari kapal bernama Grand-Saint-Antoine yang bersandar di kota pelabuhan di Prancis tersebut. Kapal itu membawa muatan barang-barang dari Mediterania Timur. Meski kapal itu kemudian dikarantina, wabah menyebar ke kota, diduga lewat kutu pada tikus yang terinfeksi.

Pada serataus tahun setelah itu yakni tahun 1820 pula, dunia kembali diperlihatkan dengan penyebaran penyakit kolera. Seperti dikutip dari History.com, pandemi kolera pertama muncul dari di Delta Sungai Gangga, yakni pada 1817 di Jessore, India. Dipicu beras yang terkontaminasi. Penyakit ini dengan cepat menyebar ke sebagian besar India, Myanmar, dan Sri Lanka, mengikuti rute perdagangan yang ditetapkan oleh orang Eropa.

Pada 1820, kolera menyebar ke Thailand, Indonesia (menewaskan 100 ribu orang hanya di Pulau Jawa) dan Filipina. Kemudian, penyakit tersebut menuju ke Cina pada 1820 dan Jepang pada 1822 melalui orang-orang yang terinfeksi dan melakukan perjalanan dengan kapal laut.
Kolera juga menyebar di luar Asia. Ke Teluk Persia, Turki, Suriah dan Rusia selatan. Wabah ini dikenal pasti berpuncak dari pada air di kawasan-kawasan tasik yang tercemar. Dalam catatatn akibat dari penyakit ini telah menyebabkan kira-kira 100 ribu orang korban ketika itu.

Tidak berhenti sampai di situ, wabah Spanish Flu lebih mengejutkan dunia, yang terjadi pada tahun 1920 atau 100 tahun yang lalu. Penyakit ini dicatatkan sebagai penyakit yang paling berbahaya dalam sejarah dunia kesehatan, karena angka kematian mencapai 100 juta orang dan diperkirakan 500 juta orang telah terjangkit. Dipicu virus H1N2, Flu Spanyol atau Spanish Flu tidak berasal dari Spanyol.

Kini di tahun 2020, dunia sekali lagi dikejutkan dengan penyebaran wabah Coronavirus yang bermula di wilayah Wuhan, Cina dengan keupayaan untuk menyerang sistem pernafasan manusia. Berdasarkan informasi Badan Kesehatan Dunia, pada 31 Desember 2019, Cina melaporkan klaster kasus pneumonia di Wuhan, Provinsi Hubei.

Belakangan virus corona baru teridentifikasi sebagai penyebabnya. Namun, baru pada Maret 2020, WHO mengumumkannya sebagai pandemik, lalu Indonesia serius menanganinya sejak 16 Maret 2020.

Kita perlu pahami bahwa hidup ini tidak harus selalu sejalan dgn teori, sains dan akal manusia. Publik tetap menyandarkan hidupnya pada Qodho dan Qodarnya Allah. Sebagai ummat yang beriman hanya Allah lah yang maha menentukan, menjamin dan menjaga segala hidup dan kehidupan kita. Sains bisa dipercaya sebagai sumber kekuatan teori, tapi kita yakin dan hakkul yakin atas Kebesaran-Nya, yakini bahwa hidup ini atas Kekuasaan-Nya.
Ayo publik tetap waspada terhadap corona, tanpa harus berlebihan menyikapinya. Corona ini hanya sebagian perkara yang Allah SWT tugaskan untuk menguji tingkat keimanan kita. Kepada publik saya hanya menyampaikan bahwa Corona mengingatkan kita akan kembalinya seorang hamba pada titik nadir kesendirian.

Corona menyadarkan kita dengan hakkul yakin bahwa kita tidak bisa lagi “mencari” pertolongan kemana-mana selain hanya bisa bertafakur merenungi diri sendiri, dan terakhir Corona seakan menyadarkan semua hamba bahwa yang bisa menolong kita hanyalah diri kita sendiri “social distancing” sebuah pembelajaran nyata bahwa sesungguhnya kehidupan alamiahnya “back to nature”. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy