Pulang Kampung Atau Mudik, Kok Repot, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Pulang Kampung Atau Mudik, Kok Repot, Oleh: Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Akhir-akhir ini publik dihadapkan oleh kondisi pandemi corona, dan hadirnya istilah mudik dan pulang kampung. Dua istilah yang menjadi bahan diskusi panjang dari elemen masyarakat sehingga terjadi beberapa pemikiran. Ada yang menyatakan kedua istilah itu sama. Ada yang menyatakan berbeda. Dan ada yang mana-mana saja yang penting senang. Saya meminta teman agar bisa meyakinkan saya letak perbedaan dan persamaan dari kedua istilah itu. Ia justru meminjam istilah Gusdur : “Gitu aja kok repot”. Saya jawab memang harus repot karena dengan bahasa bisa kita fatal. Artinya kita bisa membenarkan yang salah, dan bisa juga menyalahkan yang benar.

Perlu dipahami bahwa dalam memaknai bahasa, selain kamus fungsi Bahasa juga merupakan satu rujukan. Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki banyak fungsi, bisa berfungsi sebagai alat komunikasi lisan. Bisa juga digunakan sebagai alat komunikasi tulis. Dalam beberapa teori tentang fungsi bahasa dijelaskan bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi melalui lisan (bahasa primer) dan tulisan (bahasa sekunder).

Berkomunikasi melalui lisan (dihasilkan oleh alat ucap manusia), yaitu dalam bentuk simbol bunyi, dimana setiap simbol bunyi memiliki ciri khas tersendiri, sedangkan Bahasa tulis adalah bentuk bahasa lisan yang menggunakan aksara sebagai sarananya. Lain dengan bahasa lisan yang memiliki unsur utama berupa bunyi. Bahasa tulis unsur utamanya adalah huruf-huruf. Bahasa tulis dapat dibagi menjadi dua ragam, yakni yang menggunakan bahasa baku dan bahasa yang tidak baku.

Dalam sebuah komunikasi, bahasa memiliki peranan yang sangat penting dan mutlak adanya. Bahasa menjadi sebuah alat dalam komunikasi yang mana bahasa dan komunikasi ini memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Bahasa merupakan interpretasi dari apa yang hendak disampaikan oleh komunikator terhadap komunikan. Penggunaan bahasa yang baik dan mudah untuk dimengerti oleh orang lain akan berdampak pada komunikasi yang berjalan dengan baik pula berdasarkan makna. Makna kata leksikal merupakan makna yang terdapat pada kata dasarnya tanpa bergabung dengan bentuk lain. Sedangkan istilah berhubungan dengan pengungkapan makna konsep, proses, serta keadaan, atau sifat di bidang tertentu. Bahasa telah digunakan selama ratusan tahun sebagai alat komunikasi antara manusia satu dengan yang lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu, kosakata suatu bahasa semakin bertambah sering dengan pekembangan bahasa asing dan bahasa daerah. Suatu hal yang perlu diingat bahwa suatu kata dalam Bahasa Indonesia dapat memiliki banyak makna jika diterapkan dalam konteks kalimat yang berbeda. Ada juga kata yang memiliki makna khas dalam bidang tertentu.

Kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai satuan terkecil dari bahasa yang dapat berdiri sendiri. Kata merupakan perwujudan perasaan dan pikiran yang dituangkan melalui bahasa. Sebagai perwujudan perasaan dan pikiran, maka kata memiliki suatu makna atau pengertian tertentu. Makna dari suatu kata biasanya lebih dari satu. Sedangkan istilah dalam KBBI diartikan sebagai kata maupun gabungan kata yang menunjukkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat khas dalam bidang tertentu. Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa istilah berbeda dengan kata. Kata dapat memiliki makna yang berbeda jika konteksnya berubah. Sedangkan istilah memiliki makna yang tetap atau khusus dalam bidang tertentu.

Istilah dibedakan menjadi dua jenis yaitu istilah khusus dan istilah umum. Istilah khusus, adalah kata yang pemakaian dan maknanya terbatas dalam suatu bidang tertentu. Misalnya : apendektomi, kurtosis, bipatride, dan pleistosen.Istilah umum, adalah kata yang menjadi unsur bahasa umum. Misalnya : taqwa, anggaran belanja, penilaian, daya, dan nikah.

Dalam KBBI, kata Mudik ditulis /mu·dik/ v 1 (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman): dari Palembang — sampai ke Sakayu; 2 cak pulang ke kampung halaman: seminggu menjelang Lebaran sudah banyak orang yang –;– menyongsong arus, hilir menyongsong pasang, pb tentang usaha yang mendapat rintangan dari kiri dan kanan namun diteruskan juga; belum tentu hilir — nya, pb belum tentu keputusan atau kesudahan suatu hal atau perkara; kokoh, baik dalam soal yang kecil-kecil maupun dalam soal yang besar-besar; ke — tentu hulunya, ke hilir tentu muaranya, pb suatu maksud atau niat hendaklah tentu wujud atau tujuannya;
Sedangan kata pulang/pu·lang/ v pergi ke rumah atau ke tempat asalnya; kembali (ke); balik (ke): bila engkau — ke Semarang?; sudah tengah malam ia belum juga –; — kepada istri pertama, rujuk dengan istrinya yang pertama;

Dalam KBBI memang tidak jelas ditulis kata pulang kampung, tetapi hanya kata pulang lalu merujuk pada tempat asal. Kampung dalam tafsiran umum adalah tempat kita lahir, tempat kita dibsesarkan bersama orang tua dan sudara-saudara dan handai tolan.

Istilah pulang kampung dan mudik oleh beberapa orang menyebutkan pulang kampung dan mudik itu berbeda. Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat, ahli bahasa dari Universitas Indonesia ternyata berpendapat bahwa kedua istilah itu berbeda. Di dalam KBBI yang data terakhir dimutakhirkan pada Oktober 2019, ada dua arti dari mudik seperti yang tertulis di KBBI. Arti pertama mudik yakni berlayar atau pergi ke udik atau hulu. Arti kedua mudik itu pulang ke kampung halaman. Namun ternyata mudik yang diartikan dengan pulang ke kampung merupakan bahasa percakapan. “Memang beda arti mudik dengan pulang kampung. Biasanya pembaca kurang cermat. Di KBBI tertulis v cak. Cak itu berarti percakapan,” ujar Prof Rahayu.

Dari pernyataan itu, hemat saya bahwa kata mudik dan pulang kampung adalah berbeda makna, namun dalam fungsi kedua istilah itu sama, yakni pulang kampung berfungsi sebagai komunikasi yang tidak memerlukan kaidah bahasa, sedangkan mudik adalah fungsi bahasa tertulis yang sarat dengan kaidah dan aturan. Seperti penjelasan saya di atas yakni dalam KBBI tidak ada kata pulang kampung, yang ada hanya pulang lalu diikuti dengan kata, contoh Semarang yang nota bene adalah kampung. Sehingga istilah ini berbeda dengan mudik.

Publik terbiasa diperdengarkan dengan istilah mudik bukan istilah pulang kampung, karena pulang kampung adalah istilah yang bisa dilakukan kapan saja sebagai hak asasi manusia, tidak berkaitan dengan salah satu hari -hari besar tertentu. Sedangkan mudik berkaitan dengan kegiatan hari-hari besar, seperti idul fitri, idul adha, atau hari-hari besar tertentu. Dengan kata lain “Mudik adalah sebuah peristiwa bagian dari aktivitas sosio-kultural/tradisi.

Dari perdebatan panjang tersebut, sudah seharusnya badan bahasa merevisi KBBI dengan mempertimbangkan penambahan kosa kata atau definisi agar tidak memiliki multi tafsir dan ambigu. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy