Pertamina Pastikan Stok BBM di Sultra Aman – Kendari Pos
Nasional

Pertamina Pastikan Stok BBM di Sultra Aman

Aktivitas bongkar muat BBM di Fuel Pertamina Kendari. Foto: Agus Setiawan/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — PT. Pertamina (Persero) berencana akan melakukan efisiensi di kilang Balikpapan akibat menurunnya permintaan BBM (Bahan Bakar Minyak) sebagai dampak wabah pandemi global Corona Virus Diseasi (Covid-19). Hal itu diungkapkan Direktur Utama (Dirut) PT. Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat Rapat Kerja (Raker) via teleconference dengan Komisi V DPR RI, beberapa waktu lalu.

Efisiensi dilakukan karena telah terjadi penurunan kapasitas pengolahan produksi di kilang Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Menurut Nicke, nantinya Pertamina akan melakukan pengurangan produksi secara bertahap.

Lalu sejauh mana dampaknya terhadap pasokan BBM di Sultra ?. PT.Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) VII memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) jelang Ramadan di seluruh wilayah di Sultra dalam kondisi aman.

“Sampai dengan minggu ke-3 bulan April 2020 ketahanan stok BBM diwilayah Sultra terbilang cukup aman. Untuk seluruh produk BBM rata-rata mencapai 14 hari. Bahkan khusus untuk jenis premium dan solar ketahanan stoknya masing-masing mencapai 15 dan 28 hari,” kata Hatim Ilwan, Unit Manager Communication & CSR PT Pertamina (Persero) MOR VII, Senin (20/4) kemarin.

Dalam suasana wabah Covid-19 yang diikuti adanya imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk tetap berada di rumah, lanjut Hatim, membuat aktivitas masyarakat berkurang. Nah, tentu saja konsumsi BBM mengalami koreksi jika dibandingkam kondisi normal 2 bulan awal tahun ini atau sepanjang Januari-Februari 2020. “Dampaknya aktivitas penggunaan kendaraan berkurang dan mengakibatkan konsumsi BBM juga ikut menurun,” ungkapnya.

Pertamina MOR VII mencatat adanya penurunan konsumsi secara signifikan untuk jenis Gasoline yaitu premium serta Perta Series yang terdiri dari Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo. Sementara untuk produk-produk Gasoil yang meliputi Solar JBT, Pertamina Dex, Dexlite, dan Solar Non-PSO cenderung stabil dibandingkan dengan penyaluran normal sepanjang Januari-Februari 2020.

Hingga minggu ke-3 bulan April 2020 ini, konsumsi BBM jenis Gasoil untuk di Sultra cenderung stabil berada di kisaran 2.300-an Kilo Liter (KL) per hari. Adapun BBM jenis Gasoline mengalami penurunan sebesar 15,3 persen menjadi 5.966 KL per hari dari yang semula saat penyaluran normal sepanjang Januari-Februari 2020 masih berada di level 7.041 KL per hari. “Penurunan konsumsi Gasoline terbesar dialami oleh produk Pertalite yang mencapai 22 persen,” beber Hatim.

Meski adanya tren penurunan, Hatim memastikan pihaknya tetap mengantisipasi berbagai kemungkinan terkait dinamika konsumsi BBM selama masa satgas ini. Pertamina juga menegaskan pihaknya akan terus menjaga pelayanan demi kenyamanan pelanggan setianya. “Kami juga akan terus menjaga agar pasokan dan distribusi BBM tetap aman,” pungkasnya.

Terpisah, pengamat ekonomi Dr. Syamsir Nur menilai penurunan kapasitas pengolahan produksi di kilang Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) tidak akan berdampak terhadap ketersediaan pasokan BBM dan harga BBM di Sultra. Sebab, penutupan tersebut dikarenakan minimnya permintaan terhadap BBM sehingga diperlukan bagi Pertamina mengambil langkah efisiensi. .

Turunnya permintaan terhadap BBM merupakan akibat pembatasan aktivitas masyarakat oleh pemerintah. Sehingga, sektor hilir Pertamina mengalami penurunan pendapatan perusahaan.

“Demikian pula di sektor hulu, harga minyak mentah Indonesia (ICP) juga mengalami penurunan sehingga Pertamina melakukan efisiensi pada bisnisnya melalui pemangkasan belanja modal terutama pada kilang-kilang eksplorasi. Kilang Balikpapan salah satu kilang eskplorasi milik Pertamina,” ujarnya, kemarin.

Untuk saat ini, lanjut Dr.Syamsir, kecil kemungkinan terjadi kenaikan harga BBM. Selain karena turunnya harga minyak mentah Indonesia, saat ini konsumsi BBM juga sedang lesu. Ia menyebut, ada faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga BBM di Indonesia. Pertama, naiknya harga minyak mentah dunia. Kedua, pengurangan subsidi BBM oleh pemerintah kepada masyarakat. “Sekarang ini, justru harga minyak turun, subsidi juga belum dikurangi. Jadi, sekalipun terjadi kenaikan permintaan BBM misalnya, tidak serta merta pemerintah menaikkan harga BBM,” jelas Dr.Syamsir Nur. (ags/uli/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy