Pembebasan Napi tak Menjamin Aman dari Korona – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Pembebasan Napi tak Menjamin Aman dari Korona


KENDARIPOS.CO.ID — Memutus mata rantai penyebaran corona virus disease (Covid-19) menjadi dasar Kemenkumham RI membebaskan narapidana (Napi) dan anak. Sederet kriteria menjadi syarat pembebasan napi. Pembebasan napi itu sudah final sesuai Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020.

Keputusan itu dinilai sangat tidak tepat. Pakar hukum Sultra, Dr. Kamaruddin, MH mengungkapkan, sangat tidak relevan upaya membebaskan napi dengan alasan pencegahan covid-19 bagi warga binaan. “Membebaskan napi itu, bukan pilihan yang tepat. Kalau hanya persoalan penyebaran virus korona, serahkan kepada ahlinya yakni tenaga kesehatan,” ujarnya kepada Kendari Pos, Jumat (3/4).

Akademisi IAIN Kendari itu menjelaskan pembebasan napi itu tidak menjamin napi akan aman dari virus korona. Bisa jadi, mereka akan lebih aman dari penularan covid-19 jika berada di Lapas atau Rutan. “Karena mereka tidak kontak dengan orang luar. Prosedur kesehatan di Lapas atau Rutan menjadi ujung tombak pencegahan virus korona. Misalnya aktif mensterilkan wilayah Rutan dan Lapas, membatasi jadwal kunjungan besuk, dan tahanan baru harus diperiksa. Bukan malah dengan melepas mereka,” tutur mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Kendari ini.

Keputusan membebaskan napi meskipun dengan syarat tertentu, kata dia, bisa berdampak buruk terhadap kekuatan hukum. Tak harus mencari celah hukum untuk membuat hukum di Indonesia tak bergigi. “Ini menjadi keuntungan bagi napi. Bisa saja ada kolega napi berafiliasi mendapatkan keuntungan tersebut. Jangan digenerasir semua kondisi. Kecuali bencana yang tak bisa lagi dihindari pada semua tempat, mungkin bisa mengambil keputusan tersebut. Meski demikian, sisi positifnya jika ditinjau dari unsur kemanusiaan, semoga yang dibebaskan ini bisa menjadi lebih baik,” kata Dr. Kamaruddin.

Untuk diketahui, keputusan dikeluarkan Menteri Hukum dan HAM RI Yasonna Laoly tentang pengeluaran dan pembebasan narapidana dan anak melalui asimilasi dan integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19, Senin (30/3).
Narapidana se-Indonesia yang sudah dibebaskan berdasar keputusan tersebut mencapai 22.158 orang. Targetnya, 30.000-35.000 orang.
Di Sulawesi Tenggara, untuk asimilia sekira 427 yang bebas, kategori Pembebasan Bersyarat (PB) sekira 250, kategori Cuti Bersyarat (CB) sekira 80, dan Cuti Menjelang Bebas (CMB) nihil.

Sebelumnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) telah mengeluarkan dan membebaskan 22.158 Narapidana dan Anak melalui program asimilasi dan integrasi pada Jumat (3/4). Langkah ini sebagai tindaklanjut dari Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang pengeluaran Narapidana dan Anak Melalui Asimilasi dan Integrasi dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

“Hingga pukul 09.30 WIB yang keluar 22.158,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Ditjen PAS, Rika Aprianti, melalui keterangan persnya, Jumat (3/4).

Rika menyampaikan, dari 22.158 Narapidana dan Anak yang telah keluar dan bebas dari program asimiliasi sebanyak 15. 477 warga binaan pemasyarakatan (WBP). Sedangkan, sebanyak 6.681 orang keluar dan bebas melalui program integrasi. “Dari program asimilasi sebanyak 15. 477 WBP dan melalui program integrasi sebanyak 6.681 WBP,” jelas Rika.

Program asimilasi dan integrasi ini merupakan upaya tindak lanjut Ditjen PAS Kemenkumham untuk mengantisipasi penularan virus korona (Covid-19) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) over kapasitas. Rencananya, sebanyak 30.000 WBP akan keluar dan dibebaskan melalui program tersebut dalam sepekan terakhir ini. (ind/b/jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy