Nur Alam, Ya. Ali Mazi, Ya. Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Nur Alam, Ya. Ali Mazi, Ya. Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Bisakah kamu lupakan sejenak cerita Corona? Kalau terus-terusan cerita tentang Corona, rasanya, bawaannya, kayak mau sakit terus. Saya tidak tahu, apa hubungannya cerita seram lalu muncul perasaan tak enak. Begitu juga cerita Corona, rasanya mau kena Corona juga. Lupakan Corona. Saya juga tidak tahu, kenapa gas yang terperangkap di perut dan keseringan sendawa, seketika menghilang setelah dapat uang. Kalau begitu, mari kita cerita yang menyemangat dan menyenangkan, agar Corona segera menghilang.

Banyak cerita yang menyenangkan untuk kamu. Saya akan suguhkan cerita enak untuk kamu, apapun dan siapapun kamu. Untukmu yang tinggal di desa. Ada dana desa yang akan menyenangkanmu. Untukmu si miskin yang tinggal di Kota, tunggumi, akan ada Sembako dari Ibu Agista, ibu Gubernur kita. Tapi maaf, tidak semua dapat nah? Yang dapat hanyalah mereka yang terdaftar dan masuk kategori.

Untuk yang pejabat-pejabat, tunggumi. Dalam waktu dekat kalian akan diangkat dan dilantik ke eselon yang kamu daftarkan diri. Tapi, ini khusus yang ikut assesmen. Yang tak ikut, tunggu assesmen berikutnya.

Untuk wartawan, tunggumi. Akan ada berita bagus dan headline karena sebentar lagi akan banyak project besar yang akan dikerjakan dan diresmikan.

Untuk Polisi, kayaknya kalian sudah senang, karena status Polda sudah dinaikkan. Dari Kapolda berpangkat satu bintang ke dua bintang. Artinya, yah tentu berbeda rasa bangganya antara berhadapan dengan polisi bintang satu dengan polisi bintang dua.

Untuk tentara, kayaknya juga akan senang, atau bahkan mungkin sudah senang karena Danrem kita yang tadinya tiga bunga meningkat ke satu bintang. Pokoknya, semua senang di bidang kita masing-masing.

Nah, tahukah kamu bahwa ada kesenangan untuk kita secara massal? Apa itu? Supaya korang tahu bahwa project yang batu pertamanya diletakkan oleh mantan Gubernur Sultra, Nur Alam, lalu Gubernur Sultra saat ini, Ali Mazi yang mendorong percepatan perampungan pembangunannya, alhasil, project itu telah menorehkan sejarah. Sejarah apa? Sejarah yang tak akan terlupa sepanjang zaman oleh para papalimbang dan kita seluruh warga Sultra yang masih hidup saat ini. Project apakah itu? Tunggu dulu.

Saya teringat kepada seseorang bernama La Ode Ntea. La Ode Ntea sudah meninggal. Tapi, dialah yang mengajariku bagaimana cara mengayun dayung agar hentakan airnya dapat mendorong perahu lebih kencang. La Ode Ntea juga mengajariku bagaimana cara mendayung sembari membuat irama musik agar dapat mendayung tanpa rasa lelah sejauh apapun pantai yang dituju.

Irama musik itu ternyata lahir dengan menyentuhkan “daun” dayung ke badan perahu disusul dengan menyentuhkan gagang dayung ke pinggir perahu sembari menghentakkan daun dayung agar memercikkan air. Jadilah irama musik: dhag … did.. crik … dhag … did.. crik … Begitu seterusnya.

Ketika itu, La Ode Ntea mengajariku di jalur Lapulu-Sanggula. Sejak jangkar batu ditarik dari Lapulu hingga lego jangkar di Sanggula, sepanjang jalan, terus-terusan berbunyi: dhag … did.. crik … dhag … did.. crik …

Anda penasaran dengan nama project? Anda mangkel karena kepanjangan menulis sejarah La Ode Ntea? Sebenarnya masih panjang ceritanya. Misalnya, setelah lego “jangkar” batu, saya bebas bea dan langsung lari ke pasar atau ke pelabuhan kapal kayu. Tapi, tambah panjang kalau ditulis.

Project apakah itu? Apa yang saya cerita tadi, tak akan terulang lagi. Mega project Jembatan Bahteramas telah bersambung. Dan, sejarah telah terjadi. Sekarang, di zaman Gubernur Ali Mazi kalian sudah bisa berjalan antara Lapulu-Sanggula. Gubernur Ali Mazi menorehkan itu, tapi jangan lupa bahwa peletak batu pertama jembatan itu adalah mantan Gubernur Sultra, Nur Alam.

Tentu, banyak yang berjasa di proyek pecinta sejarah ini. Dan, masih akan ada proyek bersejarah lainnya. Apa itu, Bendung Pelosika yang akan menenggelamkan tempat tinggal warga beberapa kecamatan tapi kemudian melahirkan kesejahteraan masyarakat se-Sultra bahwa mungkin Indonesia. Dengan itu, Sultra akan terkenal sebagai lumbung beras nasional. Masih ada lagi proyek besar. Apa itu? Jembatan penghubung Muna-Buton di Baruta. Tapi, khusus ini, belum bisa dikata-katai karena belum punya data. Nantipi. (nebansi@yahoo.com)

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy