Mulai Hari ini, Layanan Transportasi Udara Dihentikan : Empat Bandara di Sultra tak Beroperasi

Bandara Haluoleo Kendari


KENDARIPOS.CO.ID — Totalitas pemerintah menangkal dan melawan penyebaran virus korona (Covid-19) terukur. Beragam skenario, surat edaran, imbauan, larangan, anggaran ratusan miliar direalokasi hingga membuat beragam payung hukum untuk melindungi masyarakat dari potensi terpapar Covid-19. Sebut saja Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Bahkan, pesawat komersil sudah mulai berhenti beroperasi sejak tanggal 25 April 2020 (hari ini). Ketentuan ini berlaku hingga 1 Juni 2020 mendatang. Merujuk dari Permenhub itu, Dishub Sultra meneribitkan surat edaran Nomor: 443/267.a tentang pengendalian transportasi selama masa mudik Idulfitri 1441 hijriah. “Pengaturan tersebut larangan sementara penggunaan sarana transportasi untuk kegiatan mudik pada masa angkutan lebaran tahun 2020. Pengaturan transportasi ini, berlaku untuk transportasi darat, laut dan udara,”kata Kepala Dinas Perhubungan Sultra, Hado Hasina (24/4).

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Sultra Hado Hasina membenarkan hal tersebut. Meskipun ketentuan tersebut hanya berlaku pada daerah zona merah atau wilayah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun bandara tujuan dan bandara asal yang menuju bandara di Sultra berasal dari daerah zona merah dan atau sedang menerapkan PSBB. Penghentian pelayanan penumpang sudah berlaku pada sejumlah bandara di Sultra.

Namun, larangan ini dikecualikan untuk angkutan logistik dan kargo. Sebab, kebutuhan pokok dan peralatan medis harus tetap terpenuhi. Jadi meski akses orang dibatasi tetapi akses logistik dan kargo harus berjalan normal.“Untuk sektor transportasi lainnya seperti di udara, laut, penyeberangan dan perkeretaapian juga diatur di dalam Permenhub terkait jenis angkutan yang dikecualikan dilakukan pelarangan,” kata Hado.

Larangan sementara penggunaan transportasi udara, adalah larangan perjalanan di dalam negeri melalui bandar udara dari dan ke wilayah yang ditetapkan sebagai PSBB atau zona merah penyebaran covid-19. Bahkan untuk wilayah Sultra akan diberlakukan sejak 25 April 2020. “Kecuali transportasi udara untuk pimpinan lembaga tinggi negara, tamu kenegaraan, operasional kedutaan besar, konsulat jenderal, dan konsulat asing serta perwakilan organisasi internasional di Indonesia.

Penerbangan angkutan kargo, kata Hado Hasina mengacu pada protokol kesehatan dan dilakukan oleh badan usaha angkutan udara yang mengoperasikan pesawat udara dengan konfigurasi penumpang dan wajib memiliki persetujuan terbang (flight approval). Untuk angkutan darat, pelarangan berlaku khususnya untuk kendaraan yang keluar masuk di wilayah-wilayah PSBB, zona merah penyebaran Covid-19, dan di wilayah aglomerasi yang telah ditetapkan PSBB. Di Sultra belum ada daerah PSBB. Sehingga jalur darat masih berlaku normal. “Kita tetap hindari adanya mudik di bulan ramadan ini, tetapi karena wilayah Sultra belum masuk kawasan dengan penerapan PSBB maka belum dapat melakukan pelarangan. Tetapi pengawasan tetap kita perketat di perbatasan,”jelasnya.

Demikian pula jalur laut. Saat ini ketetapan itu hanya akan berlaku bagi daerah yang menetapkan PSBB. “Bila PSBB itu berlaku, maka bukan hanya membatasi penumpang orang tetapi menutup aksesnya. Dan hanya angkutan kargo dan logistik yang akan diperbolehkan,”jelas Hado.

Sementara itu, Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Letkol Marinir Benyamin Ginting menjelaskan, untuk jalur laut saat ini masih berlaku normal. Meski hanya melayani satu sampai dua kali pelayaran angkutan orang per pekan.Sebelum pandemi korona, bisa empat kali per pekan. Pembatasan transportasi jalur laut dan penghentian pelayaran akan dilakukan bila sudah ditetapkan PSBB. “Selagi itu belum PSBB disetujui, pelayaran akan tetap berlangsung. Jika PSBB disetujui maka pelayaran jalur orang akan kami tutup. Terkecuali logistik diperbolehkan,”ungkapnya.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Angkutan Darat (BPTD) Wilayah XVIII Sultra, Benny Nurdin Yusuf mengatakan, pembatasan transportasi bagi wilayah PSBB. Di Sultra belum menerapkan PSBB maka jalur darat normal. “Kami sudah komunikasikan di pusat untuk tetap beroperasional dengan memenuhi protokol kesehatan. Sejak banyaknya positif korona kita sudah lakukan pembatasan bersyarat, misalnya KTP dan tujuan perjalanan pelintas batas kabupaten diperiksa,”jelasnya.

Bus Antar Kabupaten Antar Provinsi pun masih berjalan normal sepanjang penyeberanganya belum ditutup. “Kami juga sudah komunikasi kepada Dirlantas Polda Sultra sebab penanganan itu ada di Kepolisian. Pelabuhan penyeberangan tetap dioperasionalkan dengan mengikuti protokol kesehatan,”ungkap Benny.

Dari Baubau dilaporkan, kapal PT.Pelni sudah tidak lagi memuat penumpang. Penjualan tiket telah dihentikan. “Saya sudah konfirmasi ke pihak Pelni dan kapal yang singgah di sini (Pelabuhan Murhum, red) sudah tidak jual tiket penumpang lagi sampai batas waktu yang ditentukan. Kapal yang datang hanya membawa muatan logistik saja, seperti kontainer dan cargo,” terang Pradigdo, Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP), Murhum Kota Baubau.

Untuk kapal cepat rute Baubau-Raha-Kendari, lanjut dia, saat ini masih beroperasi. Pihaknya masih menunggu kebijakan pemerintah provinsi. “Saya sudah panggil manajemen perusahaanya, tapi mereka masih koordinasi dengan provinsi. Kita tunggu saja keputusan dari provinsi,” tandas Pradigdo.

Hal senada disampaikan Manajer Usaha ASDP Baubau, Supriadi. Kata dia, aktivitas penyeberangan kapal feri masih berjalan normal. “Kebijakan itu kan ada pengecualian, seperti pemuatan logistik. Tapi untuk angkut penumpang, kita masih menunggu kebijakan dari Dinas Perhubungan Provinsi Sultra,” ujarnya.

Empat Bandara Tak Beroperasi

Empat bandara di Sultra berhenti beroperasi mengangkut penumpang umum setelah Permenhub 25 tahun 2020 berlaku. Penumpang terakhir diangkut Jumat (24/4). Empat bandara yang tak beroperasi adalah Bandara Halu Oleo, Sangia Nibandera Kolaka, Sugimanuru Muna Barat dan Bandara Betoambari, Baubau. “Hari ini (kemarin, red) masih ada penerbangan, yakni Lion JT 995 dan JT 727. Mulai besok (hari ini) sampai 1 Juni sudah tidak ada semua. Garuda dan Lion tidak boleh angkut penumpang umum. Kalau Garuda termasuk Citilink sudah beberapa hari lalu tidak beroperasi,” ungkap Andre Sacrizal, Humas Bandara HLO Kendari, Jumat (24/4) kemarin.

Kendati melarang pesawat mengangkut penumpang umum, lanjut Andre, pihaknya tetap mengizinkan maskapai mengoperasionalkan cargo dan logistik, termasuk mengangkut penumpang yang dikecualikan Permenhub yakni para pimpinan lembaga tinggi negara dan operasional penegak hukum. “Kami tunggu arahan pusat terkait cargo dan logiatik itu pesawat apa yang akan memuatnya. Tentunya semua harus ada izin dari Dirjen Perhubungan Udara,” kata Andre. Ia mengungkapkan, sebelum Permenhub terbit, pihaknya melayani penumpang umum sekira 1.800 – 2.000 orang dengan 24 flight dari dua maskapai tersebut setiap harinya.

Terpisah, Airport Manager Lion Group Kendari, Deddy mengungkapkan dengan adanya pembatalan penerbangan ini maka semua jadwal penerbangan maskapai Lion Air Group mulai dari Batik Air, Lion Air dan Wings Air ditunda. “Untuk hari ini kita masih ada penerbangan penumpang, nah mulai besok tidak ada lagi,”ungkap Deddy,kemarin.

Sementara itu, Branch Manager Garuda Indonesia Branch Office Kendari Syaiful Bahri mengaku tidak bisa memberikan statement karena berdasarkan instruksi, harus direksi atau unit humas Garuda pusat yang memberikan statemen. “Mohon maaf yah bang harus langsung ke direksi atau unit pusat,” ujarnya.

Kondisi yang disama terjadi di Bandara Sangia Nibandera, Kolaka. Tak ada aktivitas penerbangan, kemarin. Kepala Bandara Sangia Nibandera, Hery Sugianto mengatakan, tidak adanya aktifitas penerbangan kadrena adanya kebijakan pemerintah pusat.
“Pembatalan penerbangan kami lakukan berdasarkan penyampaian dari pihak maskapai. Jadi hari ini tidak ada penerbangan,” ujarnya, Jumat kemarin .

Bagi penumpang yang telah telanjur membeli tiket, kata Hery tak usah khawatir. Sebab biaya pembelian tiketnya akan segera dikembalikan. Hery mengungkapkan, sebelum virus corona mewabah di Sultra, penerbangan di Bandara Sangia Nibandera berjalan lancar. Rute Kolaka-Makassar dalam sehari bisa sampai tiga kali. Namun, sejak akhir Maret lalu, berkurang menjadi satu kali saja. “Sebelumnya ada dua maskapai yang beroperasi yaitu Trans Nusa dan Wings Air. Trans Nusa lebih dulu mengajukan pembatalan penerbangan pada 23 Maret. Sedangkan Wings Air yang biasa dua kali penerbangan dalam sehari sejak 28 Maret lalu hanya melayani sekali penerbangan,” ungkapnya.

Penerbangan di Kota Baubau terakhir dilakukan kemarin. “Hari ini (kemarin,red) penerbangan di Bandara Betoambari terakhir. Baik rute Kendari maupun Makassar. Untuk besok (hari ini,red) sudah tidak ada lagi. Itu berlaku sampai 1 Juni,” kata Muhamad Basuki, Kepala Seksi Teknis Bandara Udara Betoambari saat dikonfirmasi Kendari Pos. Penjualan tiket pesawat pun sudah dihentikan. Sehingga aktivitas penumpang di bandara sudah tidak ada lagi. Yang dibolehkan hanya untuk penerbangan logistik.

Terpisah, Kepala Sub Seksi (Kasubsi) operasi keamanan dan pelayanan darurat Bandara Sugimanuru, Muna Barat M Khusnudin mengakui larangan penerbangan juga berlaku di Bandara Sugimanuru. Kemarin penerbangan terakhir rute Sugimanuru-Makasar. “Mengenai penumpang yang sudah terlanjur membeli tiket, maka itu akan dikembalikan 100 persen. Hingga hari ini, bandara masih tetap buka,”pungkasnya. (rah/ags/fad/ahi/yaf/a)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.