Menyikapi Stay Home, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Menyikapi Stay Home, Oleh: Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Stay at home, istilah yang lagi viral di masyarakat dari produk korona. Stay at home merupakan antisipasi pemerintah untuk mencegah penyebaran virus korona. Perintah yang mengharuskan setiap orang tidak keluar rumah demi agar tidak terpapar virus korona.

Tujuan pemerintah agar stay at home sangat baik, tetapi masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan. Padahal para ulama sudah mengkaji bahwa stay at home adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran virus korona. Memang betul, setiap makhluk hidup akan mengalami mati. Hidup dan mati ini ditentukan Allah SWT. Itu tak terbantahkan. Namun perlu ikhtiar sebagai rujukan kita.

Meminjam istilah La Beleng dalam bahasa Bugis yakni istilah yang melekat pada seseorang karena ketidakmauan ikut pada aturan yang sudah ada, bukan karena ketidaktahun terhadap sesuatu. Beleng berarti bodoh, yang berlawanan dengan Macca, ditambah la yang merujuk pada orang. Beleng dalam fungsi komunikasi positif terkadang disampaikan kepada orang yang sudah sangat akrab dengan kita dan suatu saat membuat kesalahan, lalu seseorang berkata Beleng, itu bermakna ungkapan persahabatan.

Tetapi makna La Beleng yang disampaikan dalam konteks lain adalah sebuah ekspresi kekesalan atas kebodohan yang tidak mau mengikuti anjuran pemerintah agar masyarakatnya terhindar dari wabah ini. Sebaliknya bagi masyarakat yang melaksanakan instruksi itu dapat disematkan istilah La Macca.

Pertanyaannya adalah defenisi konkret dari orang bodoh dan pintar itu apa? Sejak kecil kita terbiasa mendefinisikan pintar itu adalah yang nilai rapornya tinggi. Yang nilainya rendah dianggap bodoh. Kebodohan adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi yang bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang.

Kata “bodoh” adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tetapi masih memiliki kemampuan memahaminya. Istilah bodoh dapat ditempatkan seperti dalam kalimat “Seseorang memiliki kemahiran dalam suatu bidang, IPA misalnya, tetapi sama sekali bodoh dalam biologi”. Di sisi lain secara umum, kata bodoh sering ditempatkan seperti dalam kalimat “Orang itu bodoh karena membiarkan hal itu terjadi”.Penggunaan istilah bodoh pada contoh kalimat kedua bermakna ucapan penghinaan yang merendahkan kualitas kecerdasan seseorang, tetapi sebenarnya itu tidak tepat dalam hal makna sebenarnya.

Sedangkan orang pintar adalah orang yang selalu melakukan segala sesuatunya dengan baik dan mampu mencerna apapun secara sempurna. Cerdas adalah sebutan untuk orang yang tidak terlalu teratur dan tidak terlalu disiplin tetapi ia selalu mampu mengerjakan apa yang diperintahkan dengan baik.

Tak heran jika pintar selalu dikaitkan dengan prestasi akademik, karena memang bergelut dengan ilmu. Orang pintar hanya bisa menjawab hal-hal yang dipelajari, hafalan bukan pengertian. Berbeda dengan cerdas. Orang cerdas mengandalkan logika dan pengetahuan sebagai pendukungnya. Sehingga orang cerdas tidak hanya menguasai satu bidang saja, tetapi juga bidang lainnya.

Jika merujuk pada definisi di atas dan dikaitkan dengan judul tulisan ini, maka La Beleng bisa menjadi La Macca dan La Macca bisa menjadi La Beleng. Sebab persoalan yang kita hadapi saat ini adalah pengetahuan kita terhadap wabah ini, sangat terbatas, bahkan mungkin ada diantara kita yang tidak tahu, sekan-akan tahu. Apa yang dipahami adalah berbagai informasi yang diterima melalui media sosial atau bahan bacaan, lalu disampikan pada orang lain, agar kita dianggap pintar dan paham tentang itu. Padahal justru infomasi yang kita sampaikan adalah sesat, karena bukan ahlinya.

Kita bisa pahami bahwa ada berbagai jenis orang. Ada yang pintar dalam sejumlah hal, bahkan, pintar dalam hal-hal yang tampak oleh orang banyak. Misalnya si Pulan, bagi banyak orang di dunia maya, si Pulan ini tampak Pintar. Pulan tak akan membantah itu. Nilai tes Pulan misalnya untuk urusan verbal memang tinggi. Pulan bisa dengan cepat menemukan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan sesuatu.

Pulan bisa berbicara 3 jam tanpa kehabisan bahan. Tapi tidak bisa berbahasa Cina, meski Pulan adalah doktor bahasa. Bukan tak pintar. Kalau diukur masih agak di atas rata-rata orang kebanyakan. Tapi kalau kumpul di tengah orang-orang yang menggeluti bidang bahasa Cina, Pulan masuk papan yang paling bahwa, kategori bodoh. Dalam hal apa si Pulan bodoh? Bahasa Cina. Kalau berbicara dan menulis, Pulan tidak seperti orang cina.

Dari pembahasan di atas, lalu apa istilah La Beleng dan La Macca yang sebenarnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita merujuk pada kesepahaman adalah orang yang tidak menjalani hidup sesuai dengan kekuatan atau kemahiran yang ia miliki. Dengan kata lain orang yang tidak taat pada aturan yang telah ditetapkan atas kebutuhan bersama.

Dalam pandangan lain, kita bisa mengatakan bahwa seseorang yang tidak tahu, ia unggul dalam bidang apa sehingga atas ketidaktahuannya maka ia menjalani hidup yang bukan hidupnya. Bahkan memaksakan dirinya untuk bukan dirinya.

Sebagai masyarakat kita perlu tahu diri bahwa kita diatur oleh pemerintah. Jangan memaksakan tampil dalam hal-hal yang bukan kekuatan kita. Kalau tidak paham, lebih baik mengikuti pemerintah dan orang yang lebih tahu tentang sesuatu. Tidak usah berkecil hati, dan persepsi negatif terhadap aturan yang ada.

Dalam ajaran agama yang saya anut memerintahkan untuk taat kepada pemimpin karena dengan ketaatan rakyat kepada pemimpin (selama tidak maksiat) maka akan terciptalah keamanan dan ketertiban serta kemakmuran. (QS: An-nisaa 59 maaf jika salah menyebut) yang artinya “Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengikuti anjuran pemerintah agar tinggal, bekerja dan berkreatif dari rumah. Perbanyak beribadah mengingat dan memohon Ampun-Nya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy